
Bangsa yang kuat dibangun dari raga dan jiwa yang sehat. Untuk itu upaya memuliakan manusia untuk menjaga kesehatan jiwa terus dilakukan.
“Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat.” Manusia dapat melakukan kegiatan secara produktif dan mandiri secara sosial dan ekonomi jika mempunyai fisik dan mental yang saling mendukung. Fisik dan mental yang dimiliki tentu harus sehat tanpa ada masalah.

Daftar Isi
Kesehatan Jiwa
Kesehatan jiwa meliputi sehat secara fisik, mental spiritual dan sosial. Mempunyai jiwa yang sehat berdampak pada kesiapan individu untuk menjalani kehidupan penuh arti.Pemerintah sebagai penentu kebijakan publik mempunyai peran untuk berupaya menjaga kesehatan warga negaranya.
Untuk itu dalam rangka memperingati hari kesehatan jiwa sedunia, pada tanggal 6 Oktober Kementerian Kesehatan RI mengadakan event virtual online melalui zoom dengan tema “Temu Blogger Hari Kesehatan Jiwa Sedunia”.
Acara yang dimoderatori Ibu Nani Indiriana, SKM, MKM dihadiri elemen masyarakat dan komunitas Bloggercrony mempunyai tujuan untuk lebih peduli terhadap masalah kesehatan jiwa.
Masalah Kesehatan Jiwa
Menurut presentasi dari pembicara pertama dr. Celestinus Eigya Munthe. Sp.KJ.MARS (Direktur P2 Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza), satu dari empat orang pernah mengalami masalah kejiwaan selama hidupnya.
Pada skala kebijakan dari suatu negara ternyata sebanyak 25% negara belum mempunyai kebijakan tentang masalah ini. Sedangkan kurang dari 33% negara hanya menganggarkan kurang 1 % dari total anggaran untuk masalah kesehatan jiwa.
Menurut Bagus Utomo sebagai narasumber event virtual online selaku Ketua Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI), penderita gangguan depresi dapat terganggu produktifitasnya dalam bekerja. Bahkan bisa mengalami disabilitas berat.
Hal ini sangat memprihatinkan mengingat masalah kesehatan jiwa sangat penting untuk segera ditanggulangi. Warga negara yang mempunyai masalah psikis, umumnya terkendala dengan kurangnya ketersediaan layanan. Penanganan pasien dengan masalah ini menjadi rumit sehubungan terbatasnya akses dan kurangnya SDM profesional dibidangnya.
Masalah menjadi pelik karena ada perbedaan persepsi dan diskriminasi serta pengabaian terhadap orang dengan gangguan jiwa atau ODGJ. Akibatnya banyak keluarga yang mempunyai anggota keluarga yang terindikasi gangguan jiwa memilih untuk melakukan pasung.
Selain itu menurut penelitian sebanyak 50% negara mempunyai rasio ketersediaan psikiater kurang dari 1 untuk setiap 100.000 penduduk. Masalah lain yang terjadi sebanyak 40% negara hanya mempunyai fasilitas Rumah Sakit Jiwa dengan tanggung jawab lebih dari 10.000 per tempat tidur.
Munculnya Gangguan Kejiwaan
Menurut penelitian pada dasarnya gangguan jiwa dimulai dari usia muda. Hal ini mengakibatkan penurunan kualitas kehidupan seseorang. Faktor resiko timbulnya gangguan kejiwaan bisa dari beberapa faktor berikut ;
1. Kelainan genetika. Pada kasus ini gangguan jiwa bisa diturunkan akibat ada sejarah keluarga yang sebelumnya pernah mengalami gangguan secara mental. Secara klinis dapat terjadi gangguan kromosom pembentuk genetika pada individu terkait.
2. Faktor biologis. Pada faktor ini terdapat gangguan akibat kurangnya nutrisi atau penggunaan obat terlarang. Bisa juga pada saat masa pertumbuhan sewaktu kanak-kanak individu mengalami cedera atau gangguan fungsi otak. Faktor penyebab biologis lainnya ada fungsi gangguan hormonal.
3. Perlakuan keluarga. Terjadinya pola pengasuhan orang tua yang kurang tepat seperti cenderung merendahkan anak atau abai pujian. Kemudian orang tua sering menyalahkan anak terhadap kesalahn kecil. Selanjutnya orang tua sering membandingkan kemampuan anak sehingga membuat perkembangan psikis anak menjadi tertekan.
Beberapa anak ada yang mengalami trauma atas perlakuan fisik secara kasar dari orang tua secara terus menerus. Hal ini berakibat pada perkembangan jiwa yang tidak stabil.
4. Perlakuan lingkungan sosial. Perundungan atau perlakuan intimidasi (bullying) dari relasi dan lingkungan pergaulan juga bisa membuat individu tertekan. Akibatnya berujuang pada stres, cemas berlebih dan merusak jiwa.
Program Mengatasi Kesehatan Jiwa
Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes RI) mempunyai program “Indonesia Bebas Pasung”. Program ini sudah dicanangkan sejak tahun 2020. Nota kesepahaman dibuat mengenai pencegahan dan penanganan pemasungan bagi penyandang disabilitas mental atau orang dengan gangguan jiwa. Adapun kebijakan untuk mengatasi penanggulangan kesehatan jiwa oleh Kemenkes RI sebagai berikut;
1. Preventif dan Promotif
Upaya pencegahan terjadinya gangguan jiwa dilakukan dengan cara melibatkan setiap individu menjadi bagian dari masyarakat. Masyarakat dilarang melakukan intimidasi pada individu atas nama apapun. Setiap warga negara pada dasarnya dijamin kebebasannya dan berhak mempunyai penghidupan yang sehat, mulia dan bermartabat.
Tindakan promotif sendiri bertujuan memberika informasi kesehatan secara terus menerus. Artinya setiap warga negara selalu diberikan informasi kesehatan secara berkesinambungan. Misalnya menjalani pola hidup sehat, mengkonsumsi makanan dengan asupan nutrisi seimbang dan segera menghubungi layanan kesehatan jika merasakan adanya masalah kesehatan dan jiwa.
2. Meningkatkan akses layanan kesehatan jiwa
Seiring dengan perkembangan teknologi informasi maka gerak cepat dan sistematis antar layanan juga ikut ditingkatkan. Pada layanan primer dimana puskesmas sebagai garda terdepan selayaknya dapat meningkatkan layanannya. Antara lain ditambahnya jumlah puskesmas berikut kompetensi tenaga kesehatan yang melayani kesehatan jiwa.
Selain itu stok persediaan obat untuk layanan kejiwaan juga harus dioptimalisasikan. Pada proses pendampingan ada tenaga psikiater sebagai tenaga spesialis di puskesmas. Tugas psikiater memberikan advis pada tenaga kesehatan puskesmas untuk melayani pasien yang berhubungan dengan program kesehatan jiwa.
Sehubungan dengan kondisi yang masih pandemi, maka untuk mencegah penyebaran virus C-19 tenaga kesehatan puskesmas dapat memberikan konsultasi melalui telemedicine untuk pasien dengan masalah kejiwaan.
3. Kemitraan dan pemberdayaan
Rumah sakit sebagai sistem rujukan layanan kesehatan jiwa harus mengoptimalisasikan layanan sesuai standar dari WHO quality right tool kit. Dimulai dari pengembangan pendidikan, penelitian dan pengembangan teknologi kesehatan jiwa.
4. Upaya kesehatan jiwa berbasis masyarakat
Dibutuhkan partisipasi masyarakat untuk menanggulangi masalah gangguan jiwa ini. Berbagai komunitas atau lembaga swadaya masyarakat diharapkan mengambil peran untuk secara bersama-sama menjaga kesehatan psikis warga disekitar lingkunganya.
Adapun lembaga swadaya masayarakat yang bisa mengambil peran seperti; pesantren atau panti berbasis keagamaan, rehabilitasi berbasis komunitas, posyandu sehat jiwa dan desa siaga sehat jiwa.
5. Pencegahan penggunaan narkotika dan obat terlarang
Untuk mencegah dan mengendalikan narkotika serta obat terlarang maka dibutuhkan peran aktif tokoh masyarakat, tokoh agama dan pemangku wilayah. Para tokoh ini dapat ikut mendampingi tenaga kesehatan puskesmas ketika melakukan penyuluhan tentang bahaya narkotika dan obat terlarang yang dapat mempengaruhi kesehatan psikis.
Kesimpulan
Memuliakan manusia adalah tugas bersama. Karena kita semua berkegiatan pada satu bumi yang sama. Sudah selayaknya kita mempunyai rasa empati dan saling memberikan perhatian pada sesama manusia. Keterlibatan bermasyarakat dan diterima dalam suatu lingkungan membuat setiap individu terhubung secara sosial.
Selanjutnya setiap individu mempunyai jiwa optimis, berpikiran positif dan semangat menjalani hari. Demikian narasi memuliakan manusia untuk menjaga kesehatan Jiwa. Semoga informasi ini bermanfaat.

Perkara kesehatan jiwa alias kesehatan mental ini memang pelik. Kerap terabaikan, padahal kalau terus menerus diabaikan bakalan kian parah. Adapun diabaikannya sebab sepintas lalu tak tampak.
Tes
Masalah kesehatan jiwa harus menjadi perhatian utama pemerintah atau masyarakat, banyak hal yg menjadi faktor cacat mental atau gangguan jiwa, baik itu faktor keluarga dan genetik dll. Jadi mari kita bahu-membahu dlm menjaga kesehatan jiwa. Saya sangat setujui uraian artikel ini
Aku baru tau ada menta health day. Yang pasti saat pandemi ini, mental juga kudu kuat dan terjaga krn sangat membuat frustasi banyak orang.
Faktor perlakuan keluarga yang suka ngebanding”in emang bikin stress. Keliling gak jelas tanpa tujuan biasanya sering dilakukan sebagai pelampiasan. Yang terpenting jangan sampai terjerumus ke lingkungan yang gak bener, yang akhirnya malah memperparah keadaan. Tetap berfikir positif dan tetap tenang…
Nice sharing mba .aku jadi punya gambaran apa yang harus kulakukan saat merasakan tanda tanda gangguan jiwa
Setuju, sudah selayaknya kita mempunyai rasa empati dan saling memberikan perhatian pada sesama manusia. Maka mari memuliakan manusia siapapun itu orangnya demi kesehatan jiwa
Kesehatan Jiwa adalah isu yang sangat penting dan sering menjadi faktor penyebab diskriminasi sosial di tengah masyarakat
Munculnya gangguan kejiwaan yang paling terasa di Indonesia adalah karena poin no3 dan no 4. Maka dari itu menurut saya penting sekali sebelum berkeluarga adanya program kursus/sekolah khusus untuk orang yg ingin menikah. Karena bagaimana pun seorang manusia yg sehat jiwa dan raganya ada hasil bentukan pertama dari keluarga dan lingkungan sekitarnya. Nice blog
Salah satu hal yang membahagiakan adalah sekarang ini makin banyak orang peduli dengan kesehatan jiwa. Saling peduli sesama manusia dengan saling memuliakan ini jadi jalan terbaik memang untuk menjaga kesehatan mental. Tfs kak
Masalah kesehatan jiwa ini emang jadi salah satu yang sering diabaikan. Padahal jika tidak ditangani akan bermasalah dan susah penanganannya
Akibatnya banyak keluarga yang mempunyai anggota keluarga yang terindikasi gangguan jiwa memilih untuk melakukan pasung. … Iya dulu sering lihat berita banyak yg akhirnya memasung anggota keluarga yang terindikasi gangguan jiwa, ini menyedihkan. hak hidupnya dirampas dan pastinya nggak bakal sembuh T__T
Senangnya pemerintah juga aware soal hal seperti ini. Karena kesehatan jiwa juga menjadi salah satu pondasi utama untuk beraktivitas kan yaa.
Jiwa itu harus sehat, tapi sygnya msh bnyk orang yg blm sadar betapa pentingnya kesehatan jiwa. Semenjak pandemi, kesehatan jiwa dan raga harus seimbang supaya bisa menjalani hidup dgn baik.
Isi penting di hari kesehatan jiwa ini sangat baik sekali di kampanye kan terutama di masa seperti sekarang ini. Banyak yang tidak sadar sudah mengalami gangguan kesehatan kejiwaan.
Senang sekali dengan tagline memuliakan manusia. Selain kewajiban, tentunya kita akan menuai apa yang kita tanam.
Man laa yarham laa yurham
Siapa yang tidak menyayangi maka ia pun tidak disayang
Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat..maka kesehatan mental perlu perhatian kita semua. Dukungan terhadap kebijakan terkait ini diperlukan sekali. Mengingat stigma dan diskriminasi masih didapati. Senangnya sudah banyak yang dilakukan komunitas, pemerintah dan komunitas untuk mengatasi masalah kesehatan jiwa
Kalau di kampung aku mba orang dengan ganguan jiwa udah gak ada yang dipasung. Tapu masalahnya dibiarin gitu dan malah mengganggu masyarakt lain. Udah bicara sama keluarganya biarbditangani tapi gak ada kerjasama baik sari pihk lurah, desa, apalagi tenaga kesehatan khusus penanganan ODGJ. Berharap banget deh, akses layanan kesehatan merata hingga ke pelosok. Karena, tidak sedikit banyak ODGJ yang malah dibuang ke Desa
Meskipun pandemi saat ini belum usai, kita tetap harus menjaga kesehatan mental dan pemerintah pun juga harus peduli dengan masalah kesehatan terhadap warga. Kesehatan mental itu sangat penting buat kita untuk menjalani kehidupan dan tetap bersyukur apa yang kita punya.
bener nih, kesehatan mental memang jadi pengaruh juga ke kesehatan fisik ya, jadi harus diperhatikan juga
Sehat tubuh dan sehat mental jadi satu kesatuan. Sayangnya keijakan dan budget untuk mendukung sehat mental belum ada. Juga untuk akses kesehatan masih terbatas. Semoga pemerintah juga memperhatikan dalam kebijakan dan budget serta profesional yang membantu
Makin kesini, kesehatan mental ini sudah semakin banyak yang memperhatikan. Bahkan sudah banyak orang yang muali aware dengan kesehatan mental dirinya sendiri 🙂
Gangguan jiwa itu ternyata menurun loh. Jadi, ibu yang pernah depresi akut misalnya, trus dia hamil, nanti anaknya juga bisa membawa gejala sama. Cuma gak tahu, mungkin munculnya waktu dia masih balita, atau pas udah sekolah. Makanya kesehatan mental itu penting, malah penting banget malah menurutku. Soalnya dia gak terlihat dari gejala fisik, cuma bisa dirasakan oleh kita sendiri. So, kita harus lebih aware sama kondisi kejiwaan kita. Dan jangan pernah nge-bully orang yang lagi depresi, apalagi dengan candaan ‘kurang iman.’
Syukurlah sekarang pemerintah memperhatikan betul masalah kesehatan jiwa ini melalui program2 masyarakat termasuk di dalamnya iklan layanan masyarakat itu sendiri, tapi sayangnya akses layanan kesehatan jiwa ini tidak merata sampai ke desa2 ya mba
1 dari 4 orang pernah mengalami masalah kejiwaan
sayangnya, ybs enggan diobati karena malu atau malah gak tau dirinya “sakit”
sementara orang dengan masalah kejiwaan akan berpengaruh buruk pada lingkungannya. pada keluarganya
gak terlepas kemungkinan, anak akan mendderita sakit mental juga
Odgj yang ada di lingkungan saya kak, kesulitan akses kesehatan. Kalo saya bilang sih karena kurang sinergi antara kepala lingkungan setempat dengan dinas sosial nya kak. Karena odgj yang di dekat rumah kami ni adalah odgj karena narkoba.
Kelainan genetika teryata berdampak sekali ya mba. bagaimanapun, peningkatan akses pemberian layanan kesehatan bagi ODGJ ini amat sangat perlu dan perluas ke berbagai wilayah
Ini nih hal yang paling aku takutkan menjadi orangtua, aku takut salah asuh yang mengakibatkan anakku terkena gangguan mental apalgi hingga gangguan jiwa. Ya Allah jangan sampai, soalnya aku orangnya udah kena PPD kemarin, dan untuk kontrol emosi juga buruk. Kedepannya harus selalu belajar dan memperbaiki diri memang.
Punya anak itu gampang, tapi merawatnya nggak segampang hamilnya apalagi bikinnya.
Benar sekali mba, salah satu yang menjadikan jiwa sehat itu bisa memuliakan sesama manusia, bukan ttg diri kita aja ya mba. Kesehatan mental ini juga begitu penting saat kondisi begini mba, jadi gak ada salahnya saling menjaga sesama manusia mba, aku juga buat tulisan ttg mental health loh mba di blognya, hehehe
Yes sesama manusia harus saling “memuliakan” ya Mbak, bahkan Tuhan saja memuliakan kok~ memuliakan bukan mendewakan tapi menghormati hak haknya sebagai manusia, entah bagaimana kondisi mental, jiwa dan fisiknya
Perlakuan keluarga yang salah emang bisa jadi memengaruhi kesehatan mental anak yaa,, apalagi kl si anak banyak banget masukannya dari postingan media sosial hingga mengintervensi sistem dan tatanan nilai suatu keluarga, duhh repot deh ortu yaa
Salah satu cara baru untuk memuliakan manusia dengan menjaga kesehatan mentalnya ya, Kak. Tidak berkomentar atau melakukan sesuatu yang bisa merusak kesehatan mental orang lain.
Baca ini aku jadi inget beberapa minggu terakhir ini aku sering nonton seseorang yang membantu orang dengan gangguan jiwa di jalanan. Perbuatan yang mulia sekali jarang yang bisa begitu, yg ada kadang kita takut banget menghadapi ODGJ di jalanan….Semoga mereka semua bisa segera sembuh dan kita semua sehat lahir maupun batinnya Aamiin Allohumma Aamiin…
Sama-sama menjaga kesehatan jiwa, agar mental tetap sehat.
Soalnya jaga mental tetap kuat di tengah pandemi memang gak mudah, apalagi untuk saling menghargai. Yuk semangat
Tentang poin kedua itu mba… yang membutuhkan tenaga psikiater untuk membantu menyehatkan jiwa.
Di Indonesia saya rasa masih kurang familiar. Piikiran umum tu yang ke psikiater itu yang ODGJ. Padahal kan kadang orang yang stress karena kegiatan sehari-hari juga butuh layanan psikiater.
Dan juga konsultasi ke psikiater atau psikolog itu kesannya mahal gituh…
Gimana pendapat mba bayu…
Perlakuan lingkungan sosial (bullying) ini banyak terjadi ya mba, dan mengganggu kesehatan jiwa juga. Dulu aku pernah kena bully juga, asli ga enak banget. Untung ada keluarga yang selalu membuat kuat
Masalah kesehatan jiwa ini harus diperhatikan sih, tapi pengalaman saya dulu enggan mengunjungi psikolog karena terbentur biaya. Konsultasi harganya mahal sekali. Sekarang kan banyak seminar atau webinar terkait mental health. Tapi memang lebih afdol ke psikolog, tapi bisa pakai BPJS gak sih? Harusnya bisa ya
kesehatan mental merupakan topik yang sering diperbicangkan beberapa bulan ini, sampai banyak banget platform yang memuat tentang bagaimana menjaga kesehatan mental.. karena memang benar, kesehatan mental benar2 sangat penting..
Seneng ya sekarang pemerintah makin sadar pentingnya kesehatan jiwa, terlihat dari makin banyaknya program yang dibuat. Semoga nggak ada lagi orang dipasung karena gangguan jiwa.
Eh ada program Bebas Pasung dari Pemerintah ya?
Wahhh, syukurlahhh. Suka sedih ngeliat orang yang ngalamin gangguan mental, yang semestinya dibawa ke profesional, malah dianggap gila dan dipasung. Edukasi harus lebih merata sih tentang kesehatan mental ini. Thank you btw, sudah berbagi
Ah bener bangett mbaa, ini kadang yang luput karena refleks kalimat yang mungkin menyakitkan tapi kita ngga sadar :(( padahal bisa jadi ngefek banget ke kejiwaan seseoraangg