
Ada yang bilang kebahagiaan itu sederhana. Cukup punya teman yang satu frekuensi, udara pegunungan yang segar, petualangan seru, dan makanan enak yang disantap bareng-bareng. Kalau semuanya hadir dalam satu hari, sudah pasti bakal jadi cerita yang susah dilupakan!
Sabtu pagi itu, 10 Oktober 2026 suasana terasa berbeda. Matahari baru saja menyapa kawasan Cijeruk, Bogor, tetapi semangat kami sudah lebih dulu menyala. Bukan tanpa alasan, hari ini Komunitas Food Blogger Indonesia (FBI) sedang merayakan Anniversary ke-4 dengan cara yang sedikit berbeda.
Biasanya kami berkumpul untuk mengeksplorasi kuliner, mencicipi menu baru, atau berbagi cerita seputar dunia food blogging. Kali ini, Katerina selaku pendiri komunitas punya ide yang lebih menantang yaitu mengajak teman-teman menjelajahi keindahan alam Curug Cibadak di kaki Gunung Salak.
Petualangan tersebut terselenggara berkat kolaborasi Food Blogger Indonesia dengan Lenirra Villa & Resto, sebuah destinasi glamping dan kuliner di kawasan Cijeruk, Kabupaten Bogor.
Satu hari yang menggabungkan trekking, healing tipis-tipis, quality time bersama sahabat, dan ditutup dengan pesta makan siang khas Nusantara. Paket lengkap yang rasanya terlalu sayang kalau dilewatkan!

Daftar Isi
Pagi yang Heboh
Sejak pagi, teman-teman mulai berdatangan ke Lenirra Villa & Resto. Ada yang sudah tampil sporty dengan perlengkapan outdoor lengkap, ada pula yang sibuk mengecek baterai ponsel karena tak mau kehilangan momen untuk konten.
Katerina terlihat menyambut satu per satu anggota dengan senyum lebar. Sementara itu, Yessi dan Bayu sebagai pengurus komunitas memastikan persiapan berjalan lancar.
“Teman-teman, hari ini kita bukan cuma merayakan ulang tahun komunitas, tetapi juga bikin pengalaman baru. Siap trekking?” seru Katerina.
“Siap, donk! Tapi jalurnya aman buat yang biasanya cuma trekking dari meja makan ke kasir, kan?” celetuk Amanda.
Seketika suasana pecah oleh tawa.
Lala yang sedang merapikan tali sepatunya ikut menimpali, “Aku sudah siap mental. Cuma belum tahu nanti kaki bakal sekompak apa sama semangatku.”
“Yang penting jangan lupa foto. Kita ini food blogger, tapi hari ini boleh dong jadi travel blogger sehari!” sahut Mei sambil mengangkat ponselnya.
Yessi mengingatkan seluruh peserta untuk membawa air minum dan memperhatikan perlengkapan masing-masing.
“Pastikan sepatu nyaman, ya. Jangan sampai semangatnya full battery, tapi persiapannya lowbat,” ujarnya.
Isti yang sudah siap dengan tas kecil langsung mengacungkan jempol. “Tenang, aku bawa bekal semangat banyak. Kalau capek, tinggal bagi-bagi!”
Sementara itu, Rahma, Temmy, Bowo, dan Fajar tak kalah antusias. Mereka sibuk saling mengambil foto sebelum kegiatan dimulai.
“Ini baru pemanasan konten, belum pemanasan kaki!” goda Bowo.
“Betul. Nanti pas sampai curug harus tetap kelihatan fresh, walaupun napas sudah kayak habis ikut lomba lari,” balas Fajar.
Hari bahkan belum berjalan jauh, tetapi energi positif sudah terasa di mana-mana.
Dari Lenirra Villa & Resto, kami diantar menggunakan kendaraan menuju titik awal trekking di kawasan Suaka Elang Loji.
Di sana, Mas Kidal selaku pemandu perjalanan memberikan arahan mengenai kondisi jalur dan hal-hal yang perlu diperhatikan.
Sebelum mulai berjalan, kami melakukan pemanasan untuk membantu mempersiapkan otot dan persendian.
Gerakannya sederhana, tetapi sukses menghadirkan gelak tawa karena beberapa peserta ternyata lebih lentur saat mencari angle foto daripada ketika stretching.

Petualangan Resmi Dimulai!
Tepat pukul 08.44 wib rombongan mulai melangkah menyusuri jalan setapak.
Pada awal perjalanan, jalur masih relatif bersahabat. Pepohonan hijau menyambut dari berbagai arah, sementara udara pagi terasa sejuk menyentuh wajah.
Jauh dari kebisingan kendaraan dan rutinitas perkotaan, suasana ini seperti memberikan ruang untuk bernapas lebih lega.
“Ya ampun, udaranya beda banget. Segar parah!” ujar Temmy sambil menarik napas panjang.
Bayu tersenyum. “Makanya sesekali kita harus keluar dari rutinitas. Ternyata healing nggak selalu harus ke tempat yang fancy.”
“Setuju! Apalagi kalau healing-nya rame-rame begini. Capek pun jadi seru,” sahut Rahma.
Sekitar pukul 08.52 wib, kami tiba di Jembatan 1 Pos Suaka. Beberapa anggota langsung mengabadikan pemandangan sekitar.
Namun, perjalanan masih panjang. Jalur yang semula cukup landai perlahan menghadirkan tantangan. Sesekali kami harus melangkah lebih hati-hati, terutama saat melewati bebatuan dan bagian jalan yang tidak rata.
Mei yang berjalan bersama Lala mulai bercanda, “Kayaknya kalori sarapan tadi sudah mulai terbakar, deh.”
Lala tertawa. “Bagus dong. Berarti nanti makan siang punya alasan buat nambah nasi!”
“Ini baru namanya olahraga dengan motivasi kuliner,” timpal Amanda.
Tidak ada yang bisa menahan tawa. Bahkan ketika napas mulai terasa lebih berat, obrolan ringan selalu berhasil mengembalikan semangat.

Jembatan Gantung dan Hutan Pinus
Salah satu bagian menarik dari petualangan ini adalah ketika rombongan tiba di kawasan Jembatan Gantung Suaka Elang.
Pemandangannya benar-benar memanjakan mata. Jembatan yang berada di tengah kawasan hijau menghadirkan suasana petualangan yang khas, sekaligus menjadi spot favorit untuk membuat foto dan video.
“Stop dulu! Ini tempatnya cakep banget!” seru Isti.
“Aku mau foto yang candid, ya. Tapi candid yang tetap estetik,” ujar Temmy.
Bowo langsung tertawa. “Candid kok pakai briefing segala?”
“Namanya juga konten kreator. Natural boleh, hasil tetap harus maksimal!” balas Temmy.
Katerina yang memperhatikan tingkah para anggota hanya tersenyum.
“Inilah serunya komunitas kita. Ke mana pun pergi, selalu ada cerita dan ide kreatif yang muncul.”

Perjalanan kemudian membawa kami memasuki kawasan Hutan Pinus Suaka Elang.
Deretan pohon pinus yang menjulang tinggi menciptakan suasana teduh. Sinar matahari yang masuk melalui sela-sela pepohonan memberikan sentuhan dramatis pada lanskap hutan.
Fajar berhenti sejenak, memandang ke arah pepohonan.
“Tempat seperti ini bikin kita sadar, ternyata menikmati alam tanpa buru-buru itu menyenangkan banget.”
“Benar. Rasanya pikiran jadi lebih fresh,” jawab Bayu.
Mas Kidal kemudian mengajak rombongan melanjutkan perjalanan menuju Pos 1 sebelum mengarah ke Curug Cibadak.
Di sinilah tantangan trekking mulai terasa lebih nyata. Beberapa bagian jalur berupa undakan tanah dan bebatuan.
Ada pula sisi jalan yang berbatasan dengan lereng curam, sehingga setiap peserta harus menjaga langkah dan mengikuti arahan pemandu.
Untungnya, peserta mendapat trekking pole sebagai alat bantu keseimbangan.
“Wah, sekarang mulai terasa nih olahraga sesungguhnya,” ujar Rahma.
“Tenang, kita jalan santai saja. Yang penting semuanya sampai tujuan dengan aman,” kata Yessi menyemangati.
Katerina pun mengingatkan agar tidak saling mendahului secara berlebihan dan tetap memperhatikan teman yang berada di belakang.
Momen seperti ini membuat perjalanan terasa lebih bermakna. Kami bukan sekadar rombongan yang menuju lokasi wisata, melainkan sekumpulan sahabat yang saling mendukung untuk mencapai tujuan bersama.

Curug Cibadak Akhirnya di Depan Mata!
Setelah melewati jalur yang cukup menguras tenaga, suara gemuruh air mulai terdengar dari kejauhan.
Semakin dekat, bunyinya semakin jelas. Sampai akhirnya, tepat pukul 10.50 wib, Curug Cibadak terlihat di hadapan kami.
“MasyaAllah, akhirnya sampai juga!” seru Lala penuh kegembiraan.
Curug Cibadak berada di kawasan kaki Gunung Salak, pada ketinggian sekitar 900 meter di atas permukaan laut. Air terjunnya mengalir deras dari tebing tinggi, menghadirkan pemandangan alami yang begitu memesona.
Di bawahnya terdapat kolam alami dengan air yang tampak jernih. Udara sekitarnya terasa lebih dingin, sementara percikan air memberikan sensasi menyegarkan setelah perjalanan panjang.
“Fix, ini worth it banget!” ujar Amanda.
Mei yang sejak tadi sibuk mengambil video langsung berkomentar, “Ternyata secantik ini. Kamera saja rasanya nggak cukup menangkap suasananya.”
Isti ikut tersenyum. “Capeknya langsung berkurang begitu lihat air terjun.”
Sebagian anggota menikmati suasana di sekitar kolam, sementara yang lain sibuk mencari sudut terbaik untuk mengabadikan momen.
Fajar mencoba mengambil video dengan latar aliran air terjun. Bowo membantu mengatur posisi kamera, sedangkan Temmy dan Rahma berpose bersama.
“Jangan lupa videoin aku pas lagi menikmati alam, ya,” kata Temmy.
Bowo menjawab, “Siap. Tapi kalau tiba-tiba kamu ketawa, jangan salahkan kameramen!”
Katerina berdiri memperhatikan keceriaan teman-temannya. Ada rasa bahagia yang sulit disembunyikan.
“Empat tahun komunitas ini berjalan. Melihat teman-teman bisa berkumpul, menikmati alam, dan tertawa bareng seperti ini sudah menjadi hadiah anniversary yang spesial,” ungkapnya.
Ucapan tersebut disambut senyum hangat para anggota.
Di balik keseruan trekking, ada sesuatu yang lebih penting daripada sekadar foto bagus untuk media sosial yaitu rasa kebersamaan yang tumbuh melalui pengalaman sederhana.
Kami menikmati waktu di kawasan air terjun dengan bermain air secukupnya, membuat dokumentasi perjalanan, dan menikmati suasana pegunungan.

Perjalanan Pulang: Kaki Mulai Protes, Tapi Jokes Tetap Jalan!
Menjelang pukul 12.37 wib, langit mulai terlihat mendung. Udara pun terasa semakin dingin, sehingga rombongan memutuskan bersiap kembali menuju titik awal trekking.
Perjalanan pulang ternyata menghadirkan tantangannya sendiri. Otot kaki yang sudah bekerja sejak pagi mulai terasa lelah, sementara jalur berbatu tetap menuntut konsentrasi.
“Teman-teman, aku baru sadar ternyata jalan pulang juga butuh tenaga, ya,” ujar Lala.
“Kirain pulangnya bisa pakai eskalator?” goda Bowo.
Semuanya tertawa.
Bayu ikut menyemangati, “Ayo, sedikit lagi. Ingat, nanti kita makan siang nasi liwet enak di Lenirra!”
Mendengar kata makan siang, semangat rombongan seperti mendapatkan suntikan energi baru.
“Nah, kalau motivasinya nasi liwet, langkahku langsung punya tujuan!” seru Amanda.
“Perjuangan menuju curug sudah berhasil. Sekarang misi berikutnya menyelamatkan perut yang mulai keroncongan,” tambah Mei.
Di sela perjalanan, Yessi dan Katerina terus memastikan anggota tetap bersama. Sesekali rombongan berhenti untuk mengatur napas dan menikmati pemandangan.
Akhirnya, sekitar pukul 13.30 wib, kami berhasil tiba kembali di titik awal trekking. Kendaraan dari Lenirra Villa & Resto telah siap mengantar rombongan kembali menuju restoran.
Rasa lelah memang ada, tetapi senyum puas jauh lebih mendominasi. Dan ternyata, keseruan hari itu belum selesai!

Welcome Back to Lenirra Resto
Setibanya di Lenirra Villa & Resto, seluruh peserta membersihkan diri sebelum berkumpul untuk makan siang sekaligus merayakan anniversary Food Blogger Indonesia yang ke-4.
Begitu memasuki area restoran, suasana hangat langsung terasa. Pemandangan alam di sekitar Gunung Salak menjadi latar yang menyenangkan untuk bersantai selepas aktivitas outdoor.
Lenirra Villa & Resto berlokasi di kawasan Jalan Raya Cijeruk, Kawung Luwuk, Kabupaten Bogor. Selain menyediakan akomodasi berkonsep glamping, tempat ini juga mempunyai restoran yang terbuka untuk umum dengan pilihan hidangan Indonesia dan Western Cuisine.
Namun, perhatian kami siang itu langsung tertuju pada meja makan.Dua bakul nasi liwet tersaji bersama gurame goreng, ayam bakar, tahu dan tempe goreng, lalapan segar, karedok, sambal merah tomat, dan sambal ijo.
Untuk melepas dahaga, tersedia pula es teh dan kelapa muda. Melihat hidangan tersebut, suasana seketika menjadi riuh.
“Wah, ini sih definisi kebahagiaan setelah trekking!” kata Rahhma.
Isti mendekat sambil mencium aroma makanan. “Nasi liwetnya kelihatan menggoda banget. Apalagi dimakan setelah jalan jauh.”
“Dan lihat guramenya! Golden crispy begini bikin lapar makin nggak santai,” ujar Mei.
Bayu tertawa. “Sabar dulu, teman-teman. Kita doa bersama sebelum makan.”
Acara diawali dengan doa dan harapan agar Food Blogger Indonesia terus berkembang, menjadi ruang berkarya, mempererat persahabatan, dan memberikan manfaat bagi lebih banyak orang.
Setelah itu, petualangan kuliner resmi dimulai!

Nasi Liwet Pulen Bikin Makan Makin Happy
Suapan pertama nasi liwet langsung menjadi pembuka yang menyenangkan. Teksturnya pulen dengan cita rasa gurih yang pas, nikmat disantap bersama berbagai lauk pendamping.
Katerina mengambil nasi liwet dan tersenyum.
“Ini baru penutup trekking yang sempurna. Menunya khas Indonesia dan cocok banget disantap rame-rame.”
“Setuju! Nasi liwet memang punya vibes kebersamaan yang susah dikalahkan,” jawab Yessi.
Gurame goreng menjadi salah satu menu yang menyita perhatian. Bagian luarnya terasa renyah, sementara daging ikan di dalamnya tetap lembut dan gurih.
Fajar yang baru mencicipinya langsung mengangguk puas.
“Guramenya enak, nih. Bagian luarnya crispy, dagingnya juga masih juicy. Cocok banget sama nasi hangat.”
“Apalagi kalau ditambah sambal merah tomat. Kombinasinya bikin susah berhenti nyuap,” ujar Lala.
Tak mau ketinggalan, Bowo mencoba sambal ijo bersama potongan ayam bakar.
“Ini sambal ijonya punya karakter sendiri. Gurih, pedas, dan bikin rasa ayam bakar makin naik level!”
Ayam bakar yang tersaji pun mendapatkan respons positif. Bumbunya terasa nikmat dan cocok dipadukan dengan nasi liwet maupun sambal.
Sementara itu, tahu dan tempe goreng serta karedok melengkapi sajian dengan rasa yang akrab di lidah.
Temmy mengambil sepotong tempe goreng, kemudian berkata, “Kadang yang bikin makan istimewa justru menu sederhana seperti ini. Apalagi kalau dimakan bareng orang-orang seru.”
“Benar banget. Tahu tempe, sambal, lalapan, ayam bakar, gurame goreng, karedok dan nasi liwet itu kombinasi comfort food yang nggak pernah gagal,” timpal Isti.
“Yang aku suka, menunya tuh Indonesia banget. Cocok buat makan keluarga atau kumpul komunitas,” ujar Amanda.
Bayu menambahkan, “Dan suasananya mendukung. Habis aktivitas di alam, duduk santai sambil menikmati hidangan begini rasanya menyenangkan sekali.”
Tak lengkap rasanya menikmati menu Nusantara tanpa minuman segar. Es teh menjadi pilihan yang pas untuk menemani makan, sedangkan kelapa muda memberikan sensasi ringan dan menyegarkan selepas trekking.
“Wah, minum kelapa muda setelah trekking begini rasanya beda!” kata Rahma.
Mei mengangkat gelasnya sambil tersenyum. “Cheers untuk kaki yang sudah bekerja keras dan perut yang sekarang bahagia!”
Tawa kembali memenuhi meja makan.
Tidak ada suasana formal atau canggung. Semua menikmati hidangan sambil berbagi cerita tentang pengalaman selama perjalanan.

Obrolan di Meja Makan
Perbincangan semakin ramai ketika Katerina mengajak anggota berbagi kesan tentang petualangan hari itu.
“Oke, sekarang coba cerita. Momen paling berkesan selama trekking tadi apa?” tanyanya.
Lala langsung menjawab, “Pas pertama kali lihat Curug Cibadak. Semua rasa capek langsung terbayar!”
“Kalau aku jembatan gantung. Spot-nya keren banget buat foto,” ujar Temmy.
Mei punya jawaban berbeda. “Aku justru suka waktu jalan di hutan pinus. Suasananya adem dan bikin pikiran lebih tenang.”
“Kalau aku suka perjalanan pulangnya,” celetuk Bowo.
Semua menoleh penasaran.
“Kenapa?” tanya Isti.
“Karena sepanjang jalan kita sudah membayangkan makan siang!” jawab Bowo.
Meja makan langsung dipenuhi gelak tawa.
Fajar kemudian menambahkan bahwa pengalaman trekking bersama komunitas terasa berbeda dibandingkan berjalan sendirian.
“Kalau rame-rame begini, semua jadi lebih menyenangkan. Ada yang mengingatkan supaya hati-hati, ada yang menyemangati, dan selalu ada yang bikin ketawa.”
Yessi mengangguk setuju.
“Itu yang paling penting. Kita bisa saling mendukung dan menikmati setiap prosesnya, bukan cuma fokus pada tujuan akhir.”
Katerina pun menyampaikan harapannya untuk perjalanan Food Blogger Indonesia ke depan.
“Semoga komunitas ini terus menjadi tempat yang nyaman untuk belajar, berbagi pengalaman, dan menghasilkan karya. Empat tahun sudah kita lewati bersama, mudah-mudahan masih banyak petualangan seru berikutnya.”
“Amiiin!” jawab teman-teman hampir bersamaan.
Sore itu, suasana makan siang tidak lagi sekadar aktivitas mengisi perut. Di atas meja yang dipenuhi hidangan, ada cerita tentang persahabatan, perjuangan kecil selama trekking, dan rasa syukur atas kebersamaan yang telah terbangun.
Tempat Seru untuk Makan, Healing, dan Menikmati Alam
Pengalaman hari itu juga membuat kami semakin mengenal Lenirra Villa & Resto sebagai salah satu destinasi yang menarik untuk dikunjungi di kawasan Cijeruk, Bogor.
Dengan lanskap pegunungan dan area persawahan di sekitarnya, Lenirra menghadirkan suasana yang cocok untuk beristirahat dari rutinitas perkotaan.
Pengunjung dapat menikmati kuliner, menginap dengan konsep glamping, menghabiskan waktu bersama keluarga, atau menjadikan kawasan ini sebagai titik berkumpul sebelum menjelajahi alam sekitar.
Adapun kegiatan luar ruang yang tersedia cukup beragam. Untuk kegiatan dan biayanya sebagai berikut; Trekking mulai dari Rp150.000 per orang, minimal 6 peserta; Paintball mulai dari Rp175.000 per orang, minimal 10 peserta; Rafting mulai dari Rp275.000 per orang, minimal 6 peserta; Team building mulai dari Rp250.000 per orang, minimal 30 peserta; Off-road mulai dari Rp450.000 per orang, minimal 14 peserta.
Bagi pencinta kegiatan outdoor, trekking menuju Curug Cibadak bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan selama dilakukan dengan persiapan yang tepat dan mengikuti arahan pemandu.
Sementara itu, bagi pencinta kuliner, menu makan bersama seperti nasi liwet dengan berbagai lauk khas Indonesia menjadi daya tarik tersendiri.
Bukan hanya soal makanan yang nikmat, tetapi juga pengalaman bersantap dalam suasana yang santai, hangat, dan dekat dengan alam.
Selepas makan siang, kami menyempatkan diri berfoto bersama di halaman Lenirra Resto. Panorama Gunung Salak dan hamparan persawahan menjadi latar penutup yang pas untuk sebuah perayaan komunitas.
“Ayo, foto bersama dulu sebelum pulang!” ajak Katerina.
“Semua senyum, ya. Jangan kelihatan terlalu kenyang!” seru Bowo.
“Justru harus kelihatan bahagia. Ini kan anniversary sekaligus wisata kuliner!” balas Amanda.
Klik! Satu foto bersama menjadi penutup perjalanan yang penuh warna.

Empat Tahun Food Blogger Indonesia
Pada akhirnya, anniversary ke-4 Food Blogger Indonesia bukan semata-mata tentang perayaan bertambahnya usia komunitas. Ada makna yang lebih dalam dari perjalanan menuju Curug Cibadak.
Kami belajar bahwa kebersamaan bisa tumbuh melalui langkah-langkah kecil, melalui kepedulian saat teman mulai kelelahan, melalui candaan di tengah jalur menanjak, dan melalui hidangan sederhana yang terasa istimewa ketika dinikmati bersama.
Dari pagi yang penuh semangat, trekking menantang di kawasan kaki Gunung Salak, kesegaran Curug Cibadak, hingga kehangatan makan siang di Lenirra Resto, semuanya menjadi bagian dari kenangan yang pantas disimpan.
Terima kasih kepada Lenirra Villa & Resto yang telah mendukung perayaan anniversary ke-4 Food Blogger Indonesia dan menghadirkan pengalaman menyenangkan bagi seluruh peserta.
Karena ternyata, perjalanan paling berkesan bukan selalu tentang seberapa jauh kita melangkah, tetapi tentang siapa yang berjalan bersama kita dan cerita apa yang tercipta sepanjang perjalanan.
Happy 4th Anniversary, Food Blogger Indonesia!
Sampai bertemu di perjalanan berikutnya. Semoga semakin banyak tempat yang dieksplorasi, kuliner yang dicicipi, dan cerita positif yang bisa dibagikan.
Keep exploring, keep sharing, and keep spreading good vibes!
