Impian dari Ufuk Timur bernama Dunia Yohana

Impian dari Ufuk Timur bernama Dunia Yohana. 17 Oktober 2019 saya memenuhi undangan Kemenpar dipeluncuran biografi Prof. Dr. Yohana Yembise. Beliau adalah Menteri PPPA 2014 – 2019. Acara diselenggarakan bertempat di Balairung Gedung Sapta Pesona Kementerian Pariwisata Jakarta.

Pada saat peluncuran buku tersebut genap hari terakhir Ibu Yohana mengabdi di Kabinet Kerja Presiden Republik Indonesia Joko Widodo. Tulisan di buku biografi ini menarik untuk dibaca, mengingat semangat dan perhatian beliau terhadap masalah yang kerap menimpa perempuan dan anak-anak.

Kepemimpinan Ibu Yohana teruji ketika ia menyadari bahwa Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) hanya berada di cluster 3. Itu artinya hanya setingkat kementerian koordinatif. Sempat merasa “tertekan” akhirnya beliau menemukan jalan keluar terbaik untuk mengatasi permasalahan.

Jika ingin membaca lebih lanjut mengenai kepemimpinan bisa mampir ke blog seorang Blogger Buku yang mereview buku berjudul; Lead or Leave It to Millenials : Dasar – dasar Kepemimpinan.

Impian dari Ufuk Timur
Dunia Yohana | Pribadi

Perempuan dan Hak

Buku biografi Ibu Yohana berisi kisah beliau yang dituangkan dalam tulisan sebanyak 274 halaman.  Cita-cita mulia Ibu Yohana yaitu ingin membuat perempuan punya hak yang sama dengan laki-laki. Tidak ada diskriminasi dan eksploitasi lagi untuk semua perempuan khususnya di Indonesia.

Profil Ibu Yohana sendiri sangat menarik. Ia adalah satu-satunya saat itu sebagai perempuan Profesor dan Guru Besar pertama dari Papua. Lintasan akademi yang dijalaninya bermula dari pertukaran pelajar ke Kanada sewaktu duduk di sekolah menengah. Hal ini memotivasi beliau untuk meneruskan pendidikan S1 Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Cendrawasih.

Kesempatan Itu Datang

Kesempatan berikutnya datang ketika sedang mengabdi sebagai dosen ia mendapat beasiswa kuliah S2 dan S3 di Kanada. Sebagai perempuan ia tak melupakan keluarga selama menjalani dan mengejar mimpi meraih tingkatan yang lebih tinggi dalam dunia pendidikan.

Buku dengan sampul perpaduan warna hitam dan salmon berlatar belakang foto Ibu Yohana dengan tulisan berkelir perak, menegaskan keteguhan hati dalam menggapai cita-cita. Buku ini ditulis dalam delapan bab. Setiap bab mengulik sisi Ibu Yohana baik secara pribadi maupun prestasi.

Serasa Mimpi

Pada Bab 1 diceritakan bagaimana seorang Yohana tidak percaya akan mendapatkan kepercayaan menjadi seorang Menteri yang notabene “tangan kanan” Presiden. Jangankan untuk percaya bahkan bermimpi saja tidak pernah. Sampai hari pelantikkan tiba baru Ibu Yohana sadar bahwa kejadian ini nyata adanya. Saat itu ia adalah perempuan pertama Papua yang menyandang status “Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (2014 -2019).”

Selanjutnya Bab 2, diceritakan bagaimana seorang Yohana berjuang membenahi struktur lingkup kerja yang dipimpinnya. Ia merasa sedikit “heran” dengan minimnya anggaran sehingga hampir nyaris tak ada program kerja yang dapat berjalan.

Mulai Menjalankan Program Kerja

Setelah terbiasa akhirnya, Ibu Yohana memberanikan diri meminta tambahan anggaran pada Presiden untuk program kerjanya. Ketika Presiden menyetujui dan anggaran keluar, maka gerak cepat langsung menyertai langkah Ibu Yohana. Ini ada dibagian bab 3. Pada bagian ini banyak program-program yang menyangkut permasalahan perempuan dan anak mulai diurai dan dibereskan satu demi satu.

Seperti kita ketahui bersama banyak permasalahan perempuan dan anak yang seolah tidak pernah tersentuh oleh pemerhati hukum. Sebagai contoh; pelecehan dan kekerasan seksual pada perempuan dan anak, perlakuan kekerasan dalam rumah tangga dari suami terhadap istri, perdagangan perempuan untuk menjadi pemuas nafsu, pernikahan paksa anak dibawah umur dan tindakan tidak berperikemanusiaan lainnya yang sering terjadi pada perempuan dan anak.

Baca Juga : Cara Mencintai Indonesia Melalui Uang Kertas Rupiah

Anak dan Hak Pendidikan Formal

Melalui kementerian yang dipimpinnya Ibu Yohana bertekad membuat setiap anak mempunyai hak untuk mendapatkan pendidikan formal dan mendapat perlindungan khusus supaya tidak menjadi korban pelecehan seksual.

Sedangkan untuk perempuan dewasa, Ibu Yohana mempunyai pandangan bahwa jika perempuan selamat maka dunia pun akan selamat. Arti dari kalimat tersebut bahwa perempuan punya hak untuk berdaya terhadap dirinya. Jika mempunyai pasangan dan terikat pernikahan maka kedudukan perempuan bukan lagi di belakang suami melainkan harus sejajar di samping suami.

Cita-Cita yang Tak Kesampaian

Bab empat sampai enam adalah suka duka Ibu Yohana selama tumbuh dan berkembang di keluarga besar orang tua beliau. Kisah masa kecil dan cita-cita yang kandas menjadi seorang pilot diceritakan secara rinci pada buku biografi ini. Sedangkan bab tujuh dan delapan adalah rangkuman pendapat teman atau kolega yang pernah bekerjasama dengan Ibu Yohana selama menjadi menteri PPPA.

Identitas Buku

Demikian review Impian dari Ufuk Timur bernama Dunia Yohana. Dari buku biografi sederhana ini kita dapat mempelajari semangat dan keyakinan dari seorang Ibu Yohana. Keyakinan beliau dimana ada kemauan disitu pasti ada jalan. Semoga kisah buku ini dapat menginspirasi semua perempuan Indonesia.

Salam

Baca Juga : Merdeka Gunakan Media Sosial Secara Bijak Zaman Now

 

Please follow and like us:

ditulis oleh

Bayu Fitri Hutami

Seorang pembelajar yang bukan siapa-siapa melainkan seorang yang senang bercerita. Seorang yang suka menulis berdasarkan apa yang dilihat, didengar dibaca dan dialami untuk menjadi sebuah tulisan informatif. Semoga tulisan yang saya sajikan bermanfaat. Terima Kasih.