Traveling ke Korea Selatan Tanpa Gangguan Mata SePeLe Begini Cerita 3 Sahabat

“Checklist paspor, sudah. Jaket musim semi, sudah. Kamera, sudah. Insto Dry Eyes… eh, bawa nggak ya?”

Pertanyaan sederhana itu justru menjadi awal cerita perjalanan kami bertiga ke Korea Selatan yang tak akan pernah terlupakan.

Aku, Mbak Aisyah, dan Kak Inna sudah lama memimpikan liburan bersama ke Negeri Ginseng. Setelah berbulan-bulan menyusun itinerary, berburu tiket promo, hingga menghitung hari keberangkatan, akhirnya impian itu benar-benar terwujud.

Destinasi Wisata Korea Selatan

Traveling ke Korea Selatan selama 4 malam 5 hari ini, dipenuhi daftar destinasi impian. Kami akan mengunjungi HYBE (Big Hit Entertainment), SM Town, Nami Island, Namsan Tower, Taman Nasional Seoraksan, Gyeongbokgung Palace, hingga berburu oleh-oleh di Myeongdong. Rasanya seperti mimpi yang menjadi kenyataan, apalagi kami sama-sama penggemar budaya Korea.

Sesampainya di Bandara Internasional Incheon Seoul, udara langsung menyambut dengan sensasi berbeda. Langit terlihat cerah, angin bertiup pelan, tetapi udaranya terasa jauh lebih kering dibandingkan Indonesia.

“Wah… kok bibirku langsung kering, ya?” ujar Kak Inna sambil mengoleskan lip balm.

“Iya, kulitku juga mulai terasa ketarik,” sahut Mbak Aisyah.

Aku mengangguk. “Untung pelembap sudah siap. Semoga mata juga aman.”

Kami hanya tertawa. Saat itu, kami belum menyadari bahwa justru mata akan menjadi bagian tubuh yang paling banyak ‘protes’ selama perjalanan.

Hari Pertama Menikmati Suasana Kota Seoul

Hari pertama dimulai dengan mengunjungi kawasan HYBE (Big Hit Entertainment). Meski tidak bisa masuk ke area kantor secara bebas, berada di depan gedung yang menjadi rumah bagi banyak idol favorit sudah membuat kami sangat antusias. Tak berhenti berfoto, kami berjalan kaki cukup jauh sambil sesekali berhenti menikmati suasana kota Seoul yang tertata rapi.

Setelah itu perjalanan dilanjutkan menuju SM Town. Rasanya seperti berada di dunia yang selama ini hanya kami lihat lewat layar ponsel. Setiap sudut terasa menarik untuk diabadikan. Kamera terus aktif, ponsel tak pernah berhenti merekam video, sementara mata kami terus fokus melihat berbagai detail yang menarik perhatian.

Menjelang sore, kami baru menyadari betapa lama mata bekerja tanpa benar-benar beristirahat.

“Eh, kalian ngerasa mata agak berat nggak?” tanyaku sambil mengucek pelan kelopak mata.

“Iya juga ya,” jawab Mbak Aisyah. “Kupikir cuma capek karena perjalanan panjang.”

Kak Inna ikut mengangguk.

“Mataku kok mulai terasa kayak ada yang mengganjal.”

Kami menganggapnya sebagai hal biasa. Maklum, sejak pagi mata terus digunakan untuk melihat peta digital, membaca petunjuk arah, memotret, merekam video, hingga menikmati pemandangan kota.

Hari Kedua di Nami Island

Hari kedua menjadi salah satu momen yang paling kami tunggu, yaitu berkunjung ke Nami Island. Pulau cantik yang terkenal lewat drama Korea ini benar-benar memanjakan mata. Pepohonan berjajar rapi, udara sejuk, dan suasananya begitu tenang.

Namun, semakin lama berada di luar ruangan, angin dingin mulai terasa menusuk wajah.

“Kok mataku mulai SEpet, ya?” keluh Kak Inna sambil berkedip beberapa kali.

“Iya, mata aku juga. Rasanya mataku kayak kering banget,” timpal Mbak Aisyah.

Aku mulai merasakan hal yang sama. Setiap kali berkedip, mata terasa kurang nyaman. Sesekali muncul sensasi perih ringan dan penglihatan terasa sedikit lelah, terutama setelah berjam-jam berada di luar ruangan.

Padahal, kami sedang berada di tempat yang begitu indah. Sayang sekali jika rasa tidak nyaman pada mata sampai mengurangi keseruan menikmati setiap sudut Nami Island.

Saat beristirahat di sebuah bangku taman, aku mencoba mencari informasi via internet mengenai kondisi mata melalui smartphone.

Ternyata, kondisi udara di Korea Selatan memang cenderung memiliki kelembapan yang lebih rendah dibandingkan iklim tropis Indonesia, terutama pada musim dingin dan musim semi.

Udara yang lebih kering dapat mempercepat penguapan lapisan air mata sehingga permukaan mata menjadi lebih cepat kehilangan kelembapan. Akibatnya, mata bisa terasa SEpet, PErih, LElah, bahkan seperti berpasir apabila tidak segera ditangani.

“Berarti bukan cuma kita yang ngalamin?” tanya Mbak Aisyah penasaran.

“Sepertinya banyak wisatawan juga mengalami hal yang sama,” jawabku sambil menunjukkan artikel kesehatan yang kubaca via smartphone.

Kami pun saling berpandangan. Ternyata, perjalanan yang sudah direncanakan dengan matang masih menyimpan satu kejutan yang tidak pernah kami perhitungkan sebelumnya yaitu kondisi mata kering yang secara tidak langsung mulai mengganggu kenyamanan liburan.

Mata SEpele
Nami Island | doc. pri

Hari Ketiga di Namsan Tower

Hari ketiga dimulai dengan semangat yang sama besarnya. Tujuan kami pagi itu adalah Namsan Tower, salah satu ikon Kota Seoul yang menawarkan panorama kota dari ketinggian. Langit tampak biru cerah, tetapi embusan angin terasa lebih dingin dibandingkan hari sebelumnya.

Perjalanan menuju puncak dipenuhi tawa. Kami sibuk saling memotret, mencari sudut terbaik, hingga sesekali berhenti menikmati pemandangan Seoul dari atas.

Meski terlihat menyenangkan, tanpa disadari mata kami terus bekerja ekstra. Mulai dari menatap layar ponsel untuk mengambil foto, melihat pemandangan yang luas, hingga terus berkedip karena angin yang berembus cukup kencang.

“Fotoku yang tadi bagus nggak?” tanya Kak Inna sambil memperbesar hasil jepretannya di layar ponsel.

“Bagus, tapi matamu kok merah?” celetuk Mbak Aisyah.

Kak Inna langsung membuka kamera depan.

“Ih iya… pantesan dari tadi rasanya perih.”

Aku pun ikut bercermin di layar ponsel. Ternyata bagian putih mataku juga tampak sedikit kemerahan. Saat berkedip, muncul sensasi seperti ada pasir halus yang mengganjal.

“Kayaknya bukan cuma capek deh,” kataku.

Apa itu Mata Kering ?

Kami akhirnya beristirahat sejenak di bangku taman sambil menikmati secangkir minuman hangat. Di sela waktu itu, rasa penasaran kembali muncul. Mengapa mata kami terasa berbeda selama berada di Korea Selatan?

Setelah mencari informasi dari sumber kesehatan tepercaya melalui smartphone, kami baru memahami bahwa kondisi tersebut berkaitan dengan mata kering.

Permukaan mata sebenarnya selalu dilapisi oleh lapisan air mata yang berfungsi menjaga kelembapan, memberikan nutrisi pada kornea, serta membantu melindungi mata dari debu dan iritasi.

Ketika lapisan air mata menguap terlalu cepat atau jumlahnya tidak mencukupi, mata akan kehilangan kelembapan sehingga muncul berbagai keluhan. Kondisi inilah yang sering dikenal sebagai dry eye atau mata kering.

Faktor Penyebab Mata Kering di Negara 4 Musim

Selama traveling ke negara empat musim seperti Korea Selatan, ada beberapa faktor yang membuat risiko mata kering meningkat. Pertama, kelembapan udara yang lebih rendah dibandingkan Indonesia bisa menyebabkan air mata lebih cepat menguap.

Kedua, angin dingin yang terus menerpa wajah saat berada di luar ruangan mempercepat proses penguapan tersebut.

Ketiga, aktivitas wisata yang padat membuat kami lebih sering menatap layar ponsel untuk mencari rute, memotret, atau mengunggah momen perjalanan sehingga frekuensi berkedip menjadi berkurang.

Dari ketiga faktor itu ternyata saling berkaitan. Mata yang terus terbuka lebih lama tanpa berkedip optimal akan semakin mudah kehilangan kelembapannya.

Hanbook
Gyeongbokgung Palace | doc.pri

Gejala Mata SePeLe Terasa Jelas

Hari berikutnya, perjalanan dilanjutkan menuju Taman Nasional Seoraksan. Pemandangan pegunungan yang megah membuat rasa lelah seakan menghilang. Udaranya bersih, sejuk, dan menenangkan. Namun, justru di tempat inilah gejala Mata SePeLe kami terasa semakin jelas.

“Mbak, mataku mulai susah dibuka lebar,” kata Mbak Aisyah sambil berkedip beberapa kali.

“Sama mataku juga. Rasanya pegal banget,” jawabku.

Kak Inna menambahkan, “Aku malah jadi sering mengucek mata. Padahal katanya nggak boleh, ya?”

Aku mengangguk, “Iya, kalau tangan belum benar-benar bersih, mengucek mata justru bisa meningkatkan risiko iritasi.”

Kami akhirnya memilih berhenti sejenak untuk mengistirahatkan mata sambil menikmati panorama pegunungan.

Saat itulah kami menyadari bahwa gejala yang kami alami ternyata bukan sekadar mata lelah karena terlalu banyak berjalan. Mata yang terasa SEpet, PErih, dan LElah merupakan tanda bahwa permukaan mata membutuhkan kelembapan yang cukup.

Gejala Mata SePeLe sering kali dianggap sepele karena muncul perlahan. Banyak orang mengira rasa tidak nyaman itu hanya akibat kurang tidur atau terlalu lama melihat pemandangan. Padahal jika dibiarkan, kondisi mata kering dapat mengganggu kenyamanan beraktivitas, terutama saat sedang menikmati perjalanan wisata.

Bayangkan ketika sedang menikmati indahnya pepohonan di Seoraksan, tetapi perhatian justru teralihkan karena mata terasa perih setiap kali berkedip. Momen kebersamaan yang seharusnya menyenangkan bisa menjadi kurang maksimal karena mata terus terasa tidak nyaman.

Dalam beberapa kasus, mata kering juga dapat menyebabkan penglihatan menjadi sesaat terasa buram, mata lebih sensitif terhadap cahaya, hingga membuat seseorang lebih cepat lelah saat membaca, mengemudi, atau menatap layar gawai dalam waktu lama. Karena itu, keluhan ini tidak sebaiknya diabaikan.

“Untung kita cari tahu penyebabnya,” ujar Kak Inna.

“Iya. Kalau dari awal tahu udara di sini lebih kering, mungkin kita sudah lebih siap menjaga kesehatan mata,” sahut Mbak Aisyah.

Aku tersenyum sambil mengangguk.

“Besok masih ada destinasi wisata Gyeongbokgung Palace dan Myeongdong. Jangan sampai mata yang lagi bermasalah bikin kita nggak menikmati hari terakhir di Korea.”

Kami bertiga sepakat bahwa menjaga kesehatan mata ternyata sama pentingnya dengan membawa jaket hangat, pelembap kulit, atau lip balm saat bepergian ke negara dengan iklim yang berbeda. Sebab, mata yang tetap lembap membuat setiap momen perjalanan terasa jauh lebih nyaman untuk dinikmati.

Perjalanan
Seoraksan National Park | doc. pri

Destinasi Wisata Terakhir dan Insto Dry Eyes

Hari terakhir kami di Korea Selatan diawali dengan mengunjungi Gyeongbokgung Palace. Mengenakan hanbok warna-warni, kami berjalan menyusuri halaman istana yang megah sambil menikmati keindahan arsitektur khas Dinasti Joseon. Cahaya matahari pagi membuat suasana semakin cantik, sehingga kami kembali sibuk mengabadikan setiap momen.

Namun kali ini ada yang berbeda.

Sebelum berangkat dari hotel, kami sudah lebih siap menghadapi kondisi udara yang kering. Setelah memahami penyebab mata terasa SEpet, PErih, dan LElah selama beberapa hari terakhir, kami tidak lagi menganggapnya sebagai hal yang biasa.

“Kali ini jangan tunggu mata terasa nggak nyaman dulu, ya,” kata Mbak Aisyah sambil tersenyum.

“Setuju. Liburan tinggal sehari, masa harus terganggu gara-gara gejala mata SePeLe?” jawab Kak Inna.

Aku mengangguk. Pengalaman beberapa hari sebelumnya menjadi pelajaran berharga bahwa menjaga kesehatan mata sama pentingnya dengan menjaga kondisi tubuh selama bepergian.

Di sela perjalanan menuju Istana Gyeongbokgung Palace, aku mengeluarkan Insto Dry Eyes dari tas kecil yang selalu kubawa.

“Nah, ini yang kemarin sempat kita cari,” kataku.

Kak Inna langsung tersenyum, “Untung kamu bawa.”

Insto Dry Eyes dan Kelembapan Mata

Sesuai petunjuk penggunaannya, Insto Dry Eyes dapat membantu memberikan kelembapan pada mata yang kering sehingga membantu meredakan gejala mata kering seperti mata terasa SEpet, PErih, dan LElah. Dengan kandungan hydroxypropyl methylcellulose, produk ini bekerja sebagai pelumas mata (artificial tears) yang membantu menjaga permukaan mata tetap lembap sehingga terasa lebih nyaman.

Beberapa saat setelah menggunakan Insto Dry Eyes sesuai aturan pakai, rasa tidak nyaman pada mata mulai berkurang. Kami pun bisa kembali menikmati setiap sudut Gyeongbokgung Palace tanpa terus-menerus mengucek mata atau berkedip berlebihan.

“Wah, sekarang mataku jauh lebih nyaman,” ujar Mbak Aisyah.

“Iya, jadi lebih enak lihat pemandangan,” sambung Kak Inna.

Aku ikut tersenyum, “Baru terasa ya, ternyata mata yang nyaman bikin liburan juga lebih maksimal.”

Perjalanan pun berlanjut menuju destinasi terakhir, Myeongdong. Kawasan ini benar-benar menjadi surga bagi pecinta kuliner dan belanja. Deretan toko kosmetik, fashion, hingga jajanan kaki lima membuat kami hampir lupa waktu.

Kami mencicipi tteokbokki hangat, hotteok yang manis, serta berburu berbagai oleh-oleh untuk keluarga di rumah. Sesekali kami berhenti untuk mengambil foto, tetapi kini mata tidak lagi terasa mengganggu aktivitas.

Pengalaman beberapa hari terakhir membuat kami sadar bahwa traveling bukan hanya soal menyusun itinerary yang menarik. Ada banyak hal kecil yang sering terlupakan, padahal berpengaruh besar terhadap kenyamanan selama perjalanan. Salah satunya adalah menjaga kesehatan mata.

Perbedaan iklim antara Indonesia dan Korea Selatan memang dapat memberikan tantangan tersendiri. Indonesia memiliki iklim tropis dengan tingkat kelembapan udara yang relatif tinggi.

Sementara itu, Korea Selatan, terutama pada musim dingin, musim semi, atau musim gugur, memiliki kelembapan udara yang lebih rendah. Kondisi ini membuat lapisan air mata lebih cepat menguap sehingga mata lebih mudah mengalami kekeringan.

Selain faktor lingkungan, aktivitas selama traveling juga ikut berkontribusi. Berjalan seharian, terpaan angin, terlalu lama menatap layar ponsel untuk navigasi atau memotret, hingga kurangnya waktu istirahat dapat membuat mata bekerja lebih keras. Akibatnya, muncul keluhan berupa mata terasa SEpet, PErih, LElah, terasa mengganjal, hingga penglihatan sesaat menjadi kurang nyaman.

Mata
Menjaga Kesehatan Mata | ilustrasi by Canva oleh Bayu Fitri

Solusi Menjaga Kenyamanan Mata saat Traveling

Karena itulah, gejala Mata SePeLe sebaiknya tidak dianggap remeh. Semakin cepat ditangani, semakin kecil kemungkinan rasa tidak nyaman tersebut mengganggu aktivitas selama liburan.

Selain menggunakan tetes mata pelumas seperti Insto Dry Eyes sesuai petunjuk penggunaan, ada beberapa kebiasaan sederhana yang dapat membantu menjaga kenyamanan mata saat traveling, seperti:

– Mengistirahatkan mata secara berkala setelah lama menatap layar gawai.
– Berkedip secara normal agar lapisan air mata tetap merata.
– Menggunakan kacamata saat berada di area berangin untuk mengurangi penguapan air mata.
– Memenuhi kebutuhan cairan tubuh dengan minum air putih yang cukup.
– Menghindari kebiasaan mengucek mata karena dapat memperparah iritasi.

Perjalanan lima hari itu akhirnya berakhir dengan penuh cerita. Kami pulang membawa ribuan foto, pengalaman yang tak terlupakan dan satu pelajaran penting yaitu kesehatan mata adalah bagian dari bekal perjalanan yang tidak boleh dilupakan.

Di Bandara International Incheon sebelum pulang ke Indonesia, Kak Inna tersenyum sambil berkata,

“Kalau nanti liburan ke luar negeri lagi, aku sudah tahu barang yang wajib masuk tas.”

Mbak Aisyah tertawa, “Paspor, dompet, charger…”

“…dan Insto Dry Eyes!” jawab kami bertiga hampir bersamaan.

Kami pun saling tertawa. Ternyata, benda kecil itu berhasil menyelamatkan kenyamanan kami menikmati setiap sudut Korea Selatan.

Karena liburan yang menyenangkan bukan hanya tentang destinasi yang indah, tetapi juga tentang tubuh yang tetap nyaman untuk menikmati setiap momennya.

Jangan anggap remeh gejala Mata SEpet, PErih, LElah. Segera lakukan langkah yang tepat untuk menjaga kelembapan mata.

Saat merencanakan traveling, jangan sepelekan gejala mata SEpet, PErih, dan LElah. Lindungi mata sejak awal, siapkan perlengkapan yang tepat, serta gunakan #InstoDryEyes #BebasMataKering #MataSePeLeJanganSepelein. Selamat melakukan traveling dengan nyaman.

Referensi :

Mayo Clinic. Dry Eyes: https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/dry-eyes/symptoms-causes/syc-20371863

Please follow and like us:

ditulis oleh

Bayu Fitri Hutami

Seorang pembelajar yang bukan siapa-siapa melainkan seorang yang senang bercerita. Seorang yang suka menulis berdasarkan apa yang dilihat, didengar dibaca dan dialami untuk menjadi sebuah tulisan informatif. Semoga tulisan yang saya sajikan bermanfaat. Terima Kasih.