Merdeka Gunakan Media Sosial Secara Bijak Zaman Now

Merdeka Gunakan Media Sosial Secara Bijak Zaman Now. Makna merdeka di era dunia serba digital adalah keterbukaan dan keterbaharuan informasi. Kecepatan penyampaian informasi salah satunya menggunakan  perantara media sosial.

Sayangnya banyak pengguna media sosial masih minim literasi digital. Keinginan menjadi terdepan sebagai penyampai berita membuat sebagian abai untuk verifikasi informasi sebelum dibagikan.

Menurut riset dari media online detik.com dirilis Januari 2020, pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 175,4 juta orang dari total jumlah penduduk 272,1 juta. Ini berarti hampir 64% penduduk Indonesia terbiasa menggunakan internet dalam kehidupan sehari-hari. Terlebih situasi pandemi covid-19 saat ini dimana himbauan berkegiatan dari rumah saja menyebabkan kebutuhan akses internet mengalami peningkatan.

Media sosial bak pisau bermata dua. Bisa menjadi teman, bisa menjadi musuh.

Jumat 14 Agustus 2020 jam 13.00 wib, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bersama Femaledigest mengadakan webinar secara online dengan tema “Mengisi Kemerdekaan dengan Postingan Positif”. Tujuan diselenggarakan acara webinar ini untuk memberikan edukasi dan pemahaman pada generasi milenial ketika membuat konten di media sosial.

Acara dipandu Yosh Aditya (Communication Enthusiast), Keynote Speaker Indra Gunawan (Dirut Bidang Partisipasi Masyarakat) KEMENPPPA dan 3 orang narasumber Maman Suherman (Penulis), Ani Berta (Founder Femaledigest), Amykamila (Content Creator Promotor Film dan Founder SOB).

Merdeka Gunakan Media Sosial
Webinar Mengisi Kemerdekaan dengan Postingan Positif

Perkembangan Pengguna Internet

Sesi pertama ada kata sambutan dari Indra Gunawan selaku perwakilan dari KEMENPPPA. Beliau berbicara mengenai perkembangan pengguna internet di Indonesia dikaitkan dengan maraknya postingan pada media sosial.

Dilanjutkan narasumber pertama Amykamila yang berbicara mengenai “Mengubah Ide Menjadi Konten Positif”. Tahapan yang harus dimulai untuk membuat ide konten positif dimulai dari; alasan, ide, alur dan media yang digunakan. Pada intinya buatlah konten bermakna tidak sekadar viral dan membuat keriuhan sesaat.

Berjuang di Era Media Sosial

Narasumber kedua Ani Berta, berbicara dengan tema “Berjuang di Era Sosial Media”. Perang melawan hoax, kawal informasi, amunisi edukasi adalah poin utama menanggapi derasnya arus informasi melalui konten di Media Sosial. Tak lupa Ani Berta menegaskan untuk selalu memberi tone positif dan edukasi pada setiap informasi yang kita sebarkan pada orang lain.

Narasumber terakhir adalah Maman Suherman yang menekankan 5W, 1 H mengenai konten apa yang akan dibuat, untuk siapa konten dibuat, dari mana sumber informasi yang ada pada konten serta dimana dan kapan konten dibuat. Terakhir pembuat konten harus menganalisa bagaimana manfaat konten untuk kemaslahatan masyarakat luas.

Menurut Kang Maman, pembuat konten hendaknya membaca kembali informasi konten sebelum dibagikan, membuat konten berdasarkan data, membuat konten sesuai kenyataan dan fakta, melihat dari berbagai sudut pandang dan membuat konten dengan informasi yang benar.

Sebagian Dampak Negatif Media Sosial

1. Membuat Kecanduan

Media sosial dapat menjadi candu bagi penggunanya. Kegiatan pada dunia nyata saat pandemi seperti sekarang hampir 24 jam pindah ke dunia maya tanpa jeda. Sayangnya kegiatan yang dilakukan sebagian besar kurang produktif. Bermain games digital, stalking media sosial sampai belanja di toko online untuk benda yang kurang dibutuhkan adalah kegiatan yang menjadi candu bagi pengguna.

Tiada waktu tanpa buka media sosial. Mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Ketergantungan terhadap media sosial membuat semangat kerja menjadi menurun. Kurangnya gerak tubuh lambat laun dapat menyebabkan terganggunya kesehatan di kemudian hari.

2. Bersikap Apatis

Sibuk memperhatikan kanal media sosial pada gawai membuat sebagian pengguna menjadi tidak peka terhadap lingkungan sekitar. Awal mula media sosial dibuat untuk mendekatkan yang jauh dalam hal jejaring pertemanan. Semakin hari, fungsi media sosial menjadi menjauhkan yang dekat. Sering terlihat sekumpulan orang duduk bersama dalam satu jamuan makan, namun masing-masing sibuk dengan media sosialnya.

Sikap apatis atau “cuek” dengan lingkungan sekitar disebabkan yang bersangkutan merasa nyaman dengan “teman” dunia maya. Ketidakhadiran wujud secara fisik  membuat sesama partisipan tidak melihat secara langsung ekspresi wajah. Situasi ini membuat tidak lagi peduli terhadap “perasaan” lawan bicara. Sikap apatis menyebabkan hilangnya rasa kemanusiaan di dunia nyata.

3. Pembiasan Makna Informasi

Informasi melalui media sosial sangat cepat persebarannya dalam hitungan detik. Hal ini terjadi karena tidak ada lagi kendala jarak dan waktu. Jika dahulu ada istilah mulutmu harimau-mu maka saat ini berganti menjadi jempolmu harimau-mu.

Informasi dapat ditambah, dikurangi, dipenggal kemudian diberi narasi baru sehingga menimbulkan pembiasan makna. Sebagian orang yang menerima informasi tidak terbiasa melakukan verifikasi kebenaran informasi lebih dulu. 

Lemahnya verifikasi akibat budaya membaca yang masih rendah. Pada akhirnya sering terjadi pembiasan makna. Rentannya pembiasan makna dapat membenturkan kelompok yang pro dan kontra. Saat ini informasi bisa dibuat berdasarkan kepentingan bukan lagi berdasarkan realita dan fakta.

4. Hilangnya Rasa Percaya Diri

Media Sosial memunculkan ribuan konten yang umumnya bersifat hedonis. Sebagai contoh, iklan visual kecantikan membuat gambaran jika “perempuan cantik itu berkulit putih”. Maka yang terjadi sebagian besar perempuan dengan dasar kulit sawo matang berlomba membeli produk kecantikan supaya kulit terlihat putih.

Perempuan yang mendapatkan gambaran “cantik itu berkulit putih” menjadi tidak percaya diri. Mereka rela melakukan apapun untuk mendapat label kulit putih dengan berbagai cara. Hilangnya rasa percaya diri karena tampilan konten di media sosial membuat sebagian orang merasa ingin menjadi seperti orang lain.

Sebagian Dampak Positif Media Sosial

1. Meluaskan Jejaring

Awal mula media sosial diciptakan untuk mendekatkan yang jauh dan mempererat silaturahmi. Berkembangnya era digital memunculkan kolaborasi bukan kompetisi. Untuk mempercepat satu tujuan dibutuhkan kolaborasi dari banyak orang. Semakin lama terbentuk  jaringan relasi yang semakin luas. Contoh saat ini pelaku usaha membutuhkan pelantang berita seperti konten kreator, selebgram atau influencer.

2. Membentuk Personal Branding

Media sosial dapat memberi gambaran personal pada setiap diri individu. Jejak digital saat ini mudah didapat dengan membuka akun media sosial seseorang. Pemberi kerja akan melihat kepantasan dan kepatutan individu melalui apa yang pernah diunggah di kanal media sosial. Jadi bijaklah mengunggah apapun melalui media sosial.

3. Menularkan Vibes Positif

Getaran positif dapat ditularkan melalui konten yang diunggah melalui media sosial. Konten vibes positif  salah satunya tidak menyinggung dan mempersoalkan  perbedaan. Pembaca dan pemirsa dapat terinspirasi untuk bersama-sama berbuat sesuatu ke arah yang lebih baik. Contoh memberi dukungan untuk pasien positif virus covid-19 yang sedang menjalani karantina. Memberikan contoh dan anjuran pentingnya mengikuti protokol kesehatan dan sebagainya.

Gunakan Media Sosial Secara Bijak

1. Buat dan Sebarkan Konten dengan Informasi Positif

Konten positif tidak memuat berita bohong, tidak memuat ujaran kebencian dan tidak memuat aksi prank serta tidak memuat rekondisi berita. Sesuatu yang salah akan menjadi kebenaran jika disampaikan terus menerus.

Karena itu dalam membuat sebuah konten positif   baik berupa tulisan maupun gambar bergerak ada alur yang harus diperhatikan;

  • Alasan. Tetapkan alasan membuat konten. Biasanya terjadi kesenjangan antara harapan dan realita yang seharusnya tidak terjadi. Misalkan masih adanya anak sekolah belajar di kelas yang sudah mau rubuh.
  • Ide. Mulai mengamati hal sederhana disekitar kita yang mempunyai makna. Konten yang bermakna akan menginspirasi banyak orang.
  • Alur. Mulai meletakkan rasa tanggung jawab pada konten yang dibuat. Rancang alur konten supaya pengikut atau pembaca paham maksud dan tujuan konten tersebut.
  • Gunakan media yang sesuai untuk membagikan konten. Pastikan kemasan konten sesuai dengan platform media yang akan digunakan. Jika konten berbentuk tulisan maka berbagi menggunakan platform blog, facebook dan twitter. Untuk platform instagram dan youtube lebih bagus untuk konten gambar bergerak.

2. Saring Sebelum Sharing

Sebagai pembuat konten hendaknya mengambil rujukan sumber tulisan yang kredibel dan dapat dipercaya. Jika sebagai penerima informasi dari sebuah konten, maka saring sebelum sharing adalah langkah bijak yang harus dilakukan.

Dampak dari sebaran konten dengan informasi yang tidak terverifikasi sangat berbahaya jika dimanfaatkan oleh orang dengan kepentingan negatif. Langkah verifikasi dapat cek silang dengan berbagai sumber berita. 

Setelah memastikan kebenaran berita, silahkan dibagikan dengan tujuan memberi edukasi, pencerahan dan keabsahan informasi. Jangan lelah untuk terus mengawal kebenaran informasi. Sodorkan informasi sesungguhnya jika terdapat sebaran berita yang meresahkan.

3. Membuat Kontent Personal

Apabila ingin membuat konten buatlah yang mempunyai tone positif. Aura yang terpancar dari konten dengan tone positif adalah memberi semangat, memotivasi dan menghindari perdebatan. Selanjutnya buatlah konten bersifat edukatif. Contoh berbagi wawasan, berbagi tutorial atau refleksi keilmuan dari para tokoh dan pakar ahli.

Pembuat konten dapat menjadi corong informasi sekaligus sebagai jembatan yang menghubungkan kenyataan sehari-hari dengan pemangku kepentingan. Untuk itu gunakan popularitas pembuat konten sebagai penghubung dan memberi manfaat untuk semua lapisan masyarakat.

Kesimpulan

Menjadi konten kreator mempunyai tanggung jawab pada apa yang dibuat. Untuk itu dibutuhkan persiapan pendahuluan sebelum mempublish hasil karya ke media sosial. Persiapannya antara lain;

  1. Membaca tulisan atau hasil karya berulang kali sebelum publish
  2. Melakukan riset pendahuluan sebelum melakukan proses penulisan atau membuat konten
  3. Usahakan membuat tingkat kesalahan mendekati nol, artinya apa yang dibuat tidak menimbulkan salah persepsi bagi pembaca atau pengikut
  4. Banyak melihat berbagai sudut pandang untuk memberi makna terhadap hasil karya supaya mempunyai sifat  universal dan diterima semua kalangan
  5. Pola pikir terstruktur diawali dengan kebiasaan menulis. Maka rajin menulis sebagai awal melatih menuangkan pemikiran, ide dan gagasan.

Demikian review webinar “Mengisi Kemerdekaan dengan Postingan Positif “. Diharapkan dengan menerapkan persiapan terlebih dahulu sebelum melakukan pembuatan karya atau konten dapat menghasilkan rangkaian informasi bernas atas dasar kritikal thinking, dapat menginspirasi dan bermanfaat untuk semua. Selamat membuat konten bermakna.

Referensi :

Webinar “Mengisi Kemerdekaan dengan Postingan Positif” 14 Agustus 2020

Narasumber;

  1. Maman Suherman (Penulis)
  2. Ani Berta (Founder Femaledigest)
  3. Amykamila (Content Creator, Promotor Film dan Founder SOB)
  4. Indra Gunawan (Deputi Bidang Partisipasi Masyarakat KEMENPPPA)
  5. Yosh Aditya (Communication Enthusiast)

Salam

Baca Juga : Cara Nyaman Berteman Tanpa Drama Jaman Now

 

 

Please follow and like us:

ditulis oleh

Bayu Fitri Hutami

Seorang pembelajar yang bukan siapa-siapa melainkan seorang yang senang bercerita. Seorang yang suka menulis berdasarkan apa yang dilihat, didengar dibaca dan dialami untuk menjadi sebuah tulisan informatif. Semoga tulisan yang saya sajikan bermanfaat. Terima Kasih.