
Cara Merawat Toleransi melalui Festival Kebhinekaan. Toleransi adalah sikap menghargai terhadap sesuatu yang berbeda. Perbedaan ada untuk saling melengkapi. Sesuatu yang berbeda disebut keberagaman. Termasuk dalam hal ini adalah suku, agama, ras dan antar golongan. Toleransi di mulai dari lingkungan terkecil yaitu keluarga.
Salah satu cara adalah saling memahami karakter individu. Hal ini berlaku baik di dalam keluarga inti maupun antar keluarga terutama jika sudah terikat pernikahan. Pentingnya memahami karakter antar individu dalam hubungan keluarga dijelaskan teman blogger saya pada artikelnya yang berjudul “Tips Nyaman Tinggal dengan Mertua.”
Cara lain untuk merawat toleransi salah satunya ikut andil dalam kegiatan yang mengusung tema keberagaman. Tanggal 20 – 23 Februari 2020 lalu, saya menjadi relawan untuk rangkaian kegiatan yang diberi tema “Festival Kebhinekaan”.
Daftar Isi
Apa itu Festival Kebhinekaan
Festival Kebhinekaan dibuat dengan tujuan merayakan keberagaman Indonesia. Helatan akbar yang diselenggarakan setiap tahun sudah memasuki tahun ke – 3. Kegiatan ini atas insiator Yayasan Khairiyah Indonesia yang bergerak di bidang kemanusiaan. Kegiatan pada festival ini dimulai dari kunjungan ke berbagai rumah ibadah berbeda, ranah diskusi, pemutaran film, pameran foto sampai refleksi lintas iman.

Tujuan Kegiatan
Kegiatan ini ada untuk memberikan pemahaman pada generasi milenial, mengenai keberagaman yang sudah lebih dulu ada sebelum negara ini berdiri. Bangsa ini menjadi besar karena disatukan perbedaan baik suku, agama, ras dan antar golongan.

Karena sasarannya adalah peserta dari generasi milenial, maka susunan kegiatan dibuat sedemikian rupa untuk menarik minat, tidak menjemukan, rileks dan menyenangkan. Berbagai elemen akademisi baik dosen, mahasiswa beserta ketua bidang kegiatan keagamaan, pimpinan tempat ibadah terkemuka, tokoh publik dan tokoh jurnalis berkenan hadir sebagai narasumber.
Susunan Acara dan Lokasi
Kegiatan selama acara disusun sebagai berikut
- Wisata Napak Tilas Gus Dur
- Wisata Bhineka / Wisata Rumah Ibadah Lintas Agama
- Wisata Naik Transportasi Kota untuk Disabilitas
- Diskusi sehubungan Pemutaran film; ” Seeking The Imam” pengalaman satu keluarga keluar dari jerat ISIS, “Atas Nama Percaya” dan “Beta Mau Jumpa” kisah rekonsiliasi pasca konflik Ambon dan pesan rekonsiliasi
- Milenial Talks : Sesi Mengenal lebih dekat penganut Agama yang berbeda
- Inspiring Talks tentang isu – isu Keberagamaan
- Pameran Foto Tema Keberagamaan (Wajah Muslim di Negeri Tirai Bambu)
- Menggambar Komik Tema Keberagamaan Untuk Anak
- Meditasi Cinta Kasih
- Yoga Rahmatan Lil Alamin
- Refleksi Lintas Iman
Acara ini berlangsung di tiga lokasi yaitu Griya Gus Dur Jakarta, Wisma Rahmat Petojo Jakarta Pusat dan Taman Surapati Jakarta. Terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya. Peserta dari acara ini sebagian besar mahasiswa, anak SMA dan pemerhati keberagaman dari berbagai kalangan.
Alasan Mengikuti Festival Kebhinekaan
Sebagai blogger saya merasa prihatin melihat dinamika toleransi keberagaman yang semakin memudar belakangan ini. Dimulai dari pilihan berbeda bakal calon politikus kemudian menyebar ke berbagai arah bak bola liar. Menyerempet pada keyakinan berbeda, suku, serta adat istiadat dan budaya.
Lebih memprihatinkan lagi hal ini bermula dari percakapan di media grup layanan pesan singkat keluarga. Beberapa saudara dan teman bahkan menjadi putus silahturahmi hanya karena pandangan politik dan merembet pada keyakinan berbeda.

Minimnya kemauan untuk menerima sesuatu yang berbeda, menyebabkan “hanya” percaya pada apa yang “dianggap” benar dari sudut pandang diri sendiri dan menafikan “kebenaran” dari sudut pandang orang lain. Jika ada orang yang tidak sejalan maka akan dianggap lawan, harus dijauhi, menjadi bahan omongan bahkan mendapatkan stigma yang tidak sepantasnya.
Saya pribadi tumbuh dan berkembang dilingkungan multi etnis dengan keyakinan yang berbeda. Buat saya masa kecil adalah masa terindah. Karena saya tidak diajarkan membahas sesuatu yang berbeda dan tidak diajarkan menilai keyakinan orang lain. Apa yang kita yakini biarkan menjadi urusan kita dengan Tuhan.
Generasi Milenial dan Pandangan tentang Keberagaman
Acara Festival Kebhinekaan memberi angin segar tentang mulai menguatnya semangat toleransi. Narasumber dari kalangan generasi milenial dalam forum diskusi saling memberikan argumen penjelasan dan pemahaman tentang keberagaman dengan bahasa santun.
Menurut generasi milenial, perbedaan bukan sesuatu yang harus dipersoalkan. Terlebih saat ini dunia bergerak menuju peradaban baru guna mencapai satu tujuan kemakmuran bersama. Untuk mencapai tujuan tersebut dibutuhkan kolaborasi, bukan saling sikut, bukan mempersoalkan tata cara keyakinan dan akidah orang lain serta bukan pula meributkan tradisi budaya yang sudah ada sejak dulu kala.
Salah satu contoh sikap toleransi yang menurut generasi milenial “baik ” sudah dicontohkan pejabat negara dengan mengucapkan kata salam pembuka. Ucapan salam ini ditujukan untuk pemeluk lintas agama dan keyakinan pada setiap kegiatan resmi.
Baca Juga : Merdeka Gunakan Media Sosial Secara Bijak Zaman Now
Namun untuk sebagian kalangan ada yang tidak setuju karena sudah masuk ranah akidah. Menurut generasi milenial, yang setuju ya silahkan menjawab salam, yang tidak ya cukup diam saja tanpa perlu mempermasalahkan hal tersebut.
Cukup simpel dan sederhana cara berpikir generasi milenial pada forum diskusi di acara tersebut. Bahkan terjadi tanya jawab dan diskusi menarik mengenai sejarah setiap keyakinan dan kepercayaan tanpa ada maksud menilai dan membandingkan.
Untuk Wisata Rumah Ibadah Lintas Agama ditujukan bagi siswa siswi SMP dan SMA. Menggunakan bus pariwisata mereka dikenalkan ragam bentuk rumah peribadatan, melihat ke dalam dan berdiskusi dengan pemimpin rumah peribadatan, Ada Masjid, Gereja, Pura dan Vihara serta Klenteng. Banyak pemahaman baru yang didapat adik-adik generasi milenial yang mengikuti wisata rumah ibadah lintas agama ini. Sebagian besar mendapat pengetahuan baru tentang sejarah dan pentingnya merawat toleransi keberagaman.
Kesimpulan dari Acara
Melihat antusiasme peserta dan banyaknya dukungan dari berbagai pihak, saya meyakini acara ini layak mendapat apresiasi. Setidaknya masih banyak orang di negeri ini yang peduli untuk terus merawat keberagaman. Tidak mempersoalkan perbedaan karena walaupun berbeda iman, kita semua adalah saudara dalam kemanusiaan.
Demikian review Cara Merawat Toleransi melalui Festival Kebhinekaan. Semoga toleransi keberagaman dapat dipahami secara lebih bermakna khususnya bagi kalangan generasi milenial. Sehingga bangsa ini dapat kuat menyongsong masa depan ditopang dengan keberagaman penuh makna.
Salam
![]()
Baca Juga : Cara Mencintai Indonesia Melalui Uang Kertas Rupiah

Di keluargaku pun mengalami, kak. Hanya karena beda kubu dalam politik. Benar-benar putus silaturahim. Dibahasnya sampai sekarang. Padahal udah selesai. Sedih rasanya. Tapi, memang menerima perbedaan pendapat enggak bisa langsung diterima juga, ya. Mengingat mereka yang over dalam mendukung sesuatu. Lahir dan besar di tahun, saat kepemimpinan mutlak dipegang satu orang. Jadi, kaya keterbiasaan yang salah, gitu.
Acara kaya gini nih yang harus sering diadain. Biar memupuk sejak dini pemahaman berbeda itu seperti apa. Agar bertahun-tahun ke depan. Engga ada lagi drama bertengkar karena beda pandangan politik
Toleransi bukan agama saja ya, toleransi dalam pandangan politik, sikap atas pemahaman sesuatu. ya terpenting merawat toleransi dengan ilmu
Wow keren sekali acaranya ya sista, salut deh yang hadir anak milenia sehingga mereka tidak akan melupakan makna Pancasila itu sendiri.. walau pun terkadang kita suka lupa untuk menerapkan sila-sila yang ada
Kemarin-kemarin malah sempat heboh di grup manapun. Sampe kalo ada yang bahas perbedaan politik bakalan dikeluarin. Tapi semenjak Corona, ada perbaikan hubungan sedikit-sedikit. Toleransi sepertinya mulai kembali cair gak setegang dulu..
Memang ada semacam berkah di balik musibah.
Semoga kira bangsa Indonesia tetap bisa hidup berdampingan dalm bingkai bhineka tunggal Ika
Wah acaranya bagus , cara merawat tolerasi melalui festival kebhinnekaan, jsehingga menjadi tambahan wawasan juga bagi para millenial. Jaditoleransi bukan hanya soal agama saja melainkan pandangan kita terhadap pendapat dari orang lain.
Acaranya keren banget nih kak. Seru-seru gitu ya. Ngikutin hati pasti akan sangat lelah ya kak apalagi kalau beda politik dan menurut pendapat mereka sudah paling benar. Nah dengan diadakannya acara begini semoga bisa memupuk kebersamaan lagi ya kak dalam bertoleransi
Festival ini mengangkat tema Keberagaman ya kak, sama hal nya denga masyarakat Indonesia yang beraneka ragam suku,ras,budaya,dan bahasa tetapi tetap satu.
Pasti keren banget deh bisa liat secara langsung. Semoga next aku pun bisa hadir di festival seperti ini.
Keren kak punya kesempatan untuk ikut festival kebenikaan. Senang sekali rasanya membaca masih banyak orang yang menjaga toleransi di tengah keaneragaman yang memiliki banyak godaan dan ancaman.
bener banget ya toleransi itu emang perlu dirawat, sekarang ini orang-orang gampang banget saling musuh memusuhi hanya karena berbedaaan. padahal perbedaan itu seharusnya bisa saling menumbuhkan toleransi, ya. makasih sharingnya mba.
Tulisan kayak gini nie yang harus dibaca semua orang, jadi apa pun perbedaannya tidak memengaruhi persaudaraan dalam kemanusiaan. Suka deh.
semoga tidak ada adu domba dibangsa ini, biar tetap rukun dan berdampingan
Jadi emang saya sering lihat di medsos kalau udh beda pendapat, langsung main block. Kayak anak kecil aja deh. Tapi semoga dengan festival kebhinekaan ini masyarakat bisa kembali sadar bahwa perbedaan bukan panghalang utk tetap bersatu
Wah, seru banget ya kegiatan-kegiatan di festivalnya. Cocok banget diadakan biar kita lebih cinta dan sayang sesama warga negara Indonesia meski berbeda suku, agama, dan bahasa
Isunya menarik kak..toleransi… bangsa ini masih perlu banuak belajar dan mempraktekkan tolerasi yang sebenarnya…
Bukan sekedar mencari yang sama dan menjauhkan yang berbeda…