
Telusur Bangunan Cagar Budaya di Pecinan Glodok Jakarta. Pecinan Glodok terkenal dengan peninggalan bangunan bergaya arsitektur Tionghoa. Jika suatu bangunan kuno masuk dalam cagar budaya maka apabila ada perubahan atau restorasi harus se-ijin kepala daerah setempat. Berwisata selain melihat pemandangan menyegarkan seperti Santerra De Laponte yang di ceritakan Mbak Ica Nafisah kita dapat juga melihat bangunan cagar budaya yang unik dan menarik.
Pada awal tahun 2019, saya bersama komunitas pemerhati bangunan cagar budaya melakukan walking tour melihat beberapa peninggalan bangunan tua yang masuk dalam cagar budaya. Didampingi seorang tour guide saya mendapat banyak cerita menarik mengenai asal muasal bangunan kuno di kawasan Glodok ini.
Daftar Isi
Bangunan Cagar Budaya di Kawasan Glodok
1.Candra Naya. Bangunan dengan arsitektur bergaya Tionghoa ini didirikan tahun 1807 dan menjadi tempat tinggal tuan tanah bernama Khouw Tian Sek. Ia mempunyai 14 istri dan 24 anak. Pada hari tuanya, bangunan ini diwariskan ke salah satu putranya bernama Khouw Kim An yang mempunyai pangkat Mayor Tionghoa (Major de Chineezen).

Tugas Mayor Tionghoa menjadi penghubung yang mengurus keperluan masyarakat Tionghoa dengan Pemerintahan Hindia Belanda. Khouw Kim An juga seorang pengusaha dan pemegang saham di Bataviaanche Bank.
Bangunan dengan dua Fungsi
Bangunan ini dibagi menjadi dua fungsi. Fungsi pertama bagian depan menjadi kantor usaha dan fungsi kedua bagian belakang menjadi tempat tinggal keluarga. Sejak tahun 1943 bangunan ini ditinggalkan pemiliknya dan diambil alih Pemda DKI Jakarta.

Candra Naya terletak di pusat kota diapit Hotel dan Apartemen yang terletak di Jl. Gajahmada no. 188 Jakarta Barat. Saat ini Candra Naya berada di bawah pengawasan Pemda DKI Jakarta.
Di antara Bangunan Moderen
Keberadaan bangunan kuno yang menjadi cagar budaya di tengah kota, banyak menarik orang untuk berkunjung setiap harinya. Tidak ada harga tanda masuk, hanya saja jika ingin berkunjung ke dalam harus se-ijin pihak keamanan karena bangunan Candra Naya ada di dalam kawasan Hotel dan Apartemen mewah tersebut.

2.Pantjoran Tea House. Gedung unik ini awal mulanya adalah toko obat bernama Chun Hwa yang berdiri tahun 1928. Letaknya ada di ujung jalan Pintu Besar Selatan Kawasan Glodok Jakarta Barat. Yang menarik ada tradisi “Patekoan” setiap pagi di luar pintu toko ini.

Menurut cerita tradisi “Patekoan” pertama kali di pelopori Kapiten Gan Djie sebagai pemilik toko obat tersebut. Dahulu kala pemilik selalu menyediakan minuman air teh dalam teko untuk diminum siapa saja yang merasa haus dan kebetulan lewat di depan tokonya. Hingga saat ini selalu disediakan delapan teko dengan cangkirnya . Teko dalam bahasa Cina disebut “Pat”. Karena lafal dan dialek penduduk setempat maka menjadi “Patekoan”. Tradisi patekoan sangat terkenal di seputar toko tersebut.
Baca Juga : Wisata Kota Tua Jakarta dari Amsterdam ke Makam Kuno

Delapan teko terbagi dua yaitu 4 teko berisi air teh manis hangat dan 4 teko berisi air teh tawar hangat. Pelayan toko secara rutin mengisi kembali teko-teko yang sudah kosong air teh-nya dengan cara membawa ke dapur serta mengganti cangkir bekas minum dengan cangkir baru. Nilai filosofi yang ada pada tradisi patekoan adalah menerapkan simbol semangat persatuan serta rasa solidaritas yang diwujudkan dengan cara minum teh secara cuma-cuma.

Tempat ini sekarang berfungsi sebagai restaurant legendaris dengan nama Pantjoran Tea House. Keaslian bangunan tetap dijaga dengan memajang bagian-bagian bangunan tempo dulu sebagai koleksi bernilai seni tinggi. Menu yang disajikan adalah ala chinesse food dengan resep tradisional. Jadi sambil bersantap pengunjung dapat melihat koleksi benda antik yang masih tersisa pada bangunan ini.

Gedung ini menjadi bangunan cagar budaya yang dilindungi oleh Pemda DKI Jakarta dan sempat dinominasikan ke UNESCO untuk menjadi bangunan peninggalan bersejarah.
Dinominasikan ke UNESCO
Walaupun pihak UNESCO sampai saat ini belum menyetujui, namun Pantjoran Tea House menjadi saksi sejarah kawasan Glodok terbentuk hingga saat ini.
Asal Muasal Nama Glodok Pantjoran
Kawasan Glodok dahulu adalah pusat perniagaan dekat dengan arus lalu lintas transportasi sungai paling sibuk selama Pemerintah Hindia Belanda berkuasa. Penyebutan kata “Glodok” karena sering terdengan aliran suara air dari kanal pancuran sungai yang berbunyi “grojok..grojok..”
Pelafalan kata Grojok menjadi Glodok
Oleh orang Tionghoa pelafalan bunyi “grojok” menjadi “Glodok” sedangkan “Pantjoran” asal dari kata “Pancuran”. Sehingga Glodok Pantjoran menjadi nama yang kita kenal saat ini
3. Gereja Katolik Santa Maria de Fatima. Ini adalah satu-satunya Gereja Katolik dengan arsitektur bergaya Tiongkok Selatan. Terletak di Jl. Kemenangan 3, No.47 Glodok Jakarta Barat. Sekilas gereja ini lebih menyerupai klenteng tempat ibadah umat Konghucu.
Tempat Tinggal Kapitan
Awal mulanya ini adalah bangunan tempat tinggal seorang Kapitan atau Lurah keturunan Tionghoa pada abad 19 bermarga Tjio. Tahun 1953 bangunan ini dibeli paroki dan dijadikan gereja, sekolah dan asrama untuk melayani ibadah pendatang Cina perantauan atau orang Hokiauw di Glodok.

Bentuk bangunan atap gereja terlihat lancip khas Tionghoa dan desain interiornya mempunyai warna cerah seperti merah, emas, hijau dan biru yang masih dipertahankan hingga saat ini. Begitupun ornamen khas tergambar di altar gereja dengan ilustrasi alam Tionghoa sebagai wujud surga. Bangunan gereja ini sudah ditetapkan sebagai cagar budaya pada tahun 1972 sesuai ketetapan Gubernur. Saat ini gereja masih aktif digunakan umat Katolik untuk beribadah.

4. Klenteng Toa Se Bio. Klenteng bersejarah ini diperkirakan berusia 400 tahun dan merupakan bangunan bersejarah yang masuk cagar budaya. Klenteng ini pernah terbakar tahun 1740 pada peristiwa tragedi Angke dimana tentara Belanda menghabisi warga Tionghoa. Ajaibnya dari kebakaran klenteng menyisakan satu tempat dupa dari kayu yang sama sekali tidak ikut terbakar dan empat tiang penyangga yang masih utuh hingga saat ini.

Setelah terbakar klenteng ini dibangun kembali pada tahun 1751. Klenteng Toa Se Bio terletak di Jl. Kemenangan 2 no. 48 Glodok Jakarta Barat. Saat ini klenteng ramai dikunjungi umat yang melakukan ritual peribadatan. Suasana semakin semarak jika hari perayaan Imlek tiba karena ada pertunjukkan barongsai dan pesta lampion serta kembang api.
Nah inilah pengalaman cerita traveling icon kota Telusur Bangunan Cagar Budaya di Pecinan Glodok Jakarta. Bagaimana dengan teman semua apakah pernah berwisata ke bangunan cagar budaya di daerah kalian? Boleh share ya di kolom komentar. Terima Kasih
Baca Juga : Jelajah Destinasi Wisata Sejarah ke Mausoleum
Salam
![]()

Dulu saya pernah ikut blusukan bersama komunitas Love Suroboyo ke kampung budaya Ketandan di daerah Tunjungan. Saya sudah tinggal 20 tahun di Surabaya tapi baru tahu ada kampung budaya. Bahkan warga negara korea yang berkunjung ke Indonesia khususnya Surabaya saja menyempatkan diri ke Kampung Ketandan tersebut. Malu juga saya yang warga negara Indonesia asli dan penduduk Surabaya tapi tidak pernah tahu akan sejarah kotanya sendiri.
Setiap lewat Glodok selalu terkesima, dulu di jamannya megah sekali bangunan-bangunan yang ada. beberapa kini masih tegak berdiri meski kondisinya memprihatinkan sekali. Sayang ya..itu ada pewarisnya ga sih, kan bisa direvitalisasi.
Dan aku baru tahu ceritanya di artikel ini, tentang Pantjoran tea House dan lainnya. Belum pernah mampir sih..semoga nanti
Saya tuh paling suka wisata budaya kalo ada guidenya yang jago dongeng, jago menarasikan sejarah lokasi. Jadi kalo sekadar ke sana kunjungan doang mah gak bakal menarik. Nah, kayak di Cagar Budaya Pecinan Glodok ini ada guidenya terasa makin asik kan mba kunjungannya.
Di Medan, ada rumah Tjong Afie. Sepertinya ini mirip dengan bangunan Candra Naya ya.
Dari keempat bangunan cagar budaya aku paling seneng sama tradisi patekoan deh Mba.
Rasa hangat dan ramah.
Baca ini jadi dapat info dan wawasan ya mengenai bangunan cagar budaya di Pecinan Glodok Jakarta. Pecinan sama dengan China Town kl di luar negeri ya. Tfs Mba Bayu ulasannya, menarikkk
Saya jadi ingin ke Pantjoran Tea House nya malah kayaknya enak…
Oh jadi asal mula glodok itu dari grojok ya Kak. Baru tau aku haha.
Bangunan gerejanya lebih mirip klenteng ya kak. Mungkin karena asimilasi budaya ya Kak.
Arsitektur pantjoran tea house ini mengingatkan saya pada arsitektur serupa di kawasan pasar gede Solo. Terakhir ketika jaman kuliah kesabaran, tempat tersebut dipakai untuk menjual ikan hias dan toko kebutuhan sehari-hari.
Wah di Solo juga ada ya kak.. biasanya kalau blm dimasukan sebagai bangunan cagar budaya tempat tersebut bebas dipakai untuk apa saja ya..jadi kesannya tdk terawat
Saya setiap tahun bolak balik ke Jakarta malah ga pernah ke wisata bersejarahnya mbak. Mantab banget nih perjalanannya. Terimakasih ceritanya mba, saya jadi pengen kesana.
Seru banget nih penelusuran cagar budaya di tengah kota besar. Jarang-jarang kan? Jadi terinspirasi buat eksplore Jakarta lebih jauh lagi.
Di sini yang dijadikan cagar budaya salah satunya berupa Candi. Banyak banget Candi yg masih tersisa puing2nya. Memang ngga bisa dinikmati sih, karena ya cuman tumpukan batu yang punya pola aja gitu. Baca ini jadi berasa ikut jalan2 kesana.
Kak Bayu, di medan juga ada nih yang mirip gini dijadikan tempat wisata budaya. Di tengah kota Medan biasa kita menyebutkan rumah Tjong AFI.
Bagunan kuno yang berada di tengah kota. Menarik sekali untuk dikunjungi.
Dapet wawasan baru tentang Cagar Budaya di Glodok nih. berarti ini terbuka untuk umum kan ya?
Aku tinggal di Jakarta, tapi belum pernah ke Glodok. Hahaha
Pengen dah lama tapi beluman. Aku suka banget culture. Ulasannya bisa jadi referensi aku buat ke Glodok. Makasih Mba
Semoga UNESCO menyetujui cagar budaya ini. Karena dari segi bangunan dan budaya emang menjadi salah satu warisan budaya Indonesia yang harus dikenal di dunia.
Dulu sering ke glodok, cari VCD wkwkwkwkwk
Tp emang sih nuansa pecinan kuat sekali. Jd tpt wisata sejarah pun cocok hehe
Aku udah 2,5 tahun tinggal di Jakarta, belum pernah ke sini dong,, wwkkw, perlu masukin ke list jalan2 nih, setelah cororo pergi
Menyusuri sepanjang bagjnan cagar budaya Glodok memang ga ada habisnya yah kak. Aku selalu terpesona. Bebrapa kali datang kesitu, ga bosan bosannya.
Ya ampun glodok mah deket banget sama rumah aku, baru tau kalo sejarahnya sedemikian menarik, besok aku main ke bangunan-bangunan bersejarah yang kakak sebut deh. Pengen foto-foto hehe
Betul kak bagus banget spot foto dibangunan cagar budaya tersebut
Asyikk nih pastinya berwisata ke cagar budaya. Bisa nguri-uri budaya setempat, karena generasi milenial kebanyakan jarang yang mau berwisata ke tempat yang berbau dengan sejarah.
Bener generasi milenial jarang yang tertarik wisata ke cagar budaya mungkin dipikirnya bangunan kuno tua dan kumuh hehehe padahal kalau sdh ditetapkan jadi cagar budaya ya bersih dan bagus ya bangunan cagar budaya tuh..
Bangunannya banyak yang masih sangat terawat ya. Puas banget kalau saya juga bisa ke sana. Bisa ngabisin storage HP untuk foto, video dan record penjelasan guide
Pingin Cobain teh yang di patekoan
Seru kayaknya ya,hehehe.. tekonya antik lagi
Mau dunk mba jadi member komunitasnya..
Walking tour community.. Keren sekali mnrt saya.
Di Medan ada gak ya..?
Member komunitasnya kayaknya gak ada kak Vi. Tapi kalo yang Pecinan gini mirip sama rumah Tjong AFI ya..
Menarik banget ya
jadi pengen menjelajah cagar budaya juga
dulu punya keinginan begitu
sayang, waktu dan kesempatan tidak kunjung datang
Wow keren.. di Bogor juga banyak sekali cagar budaya seperti ini. Kalau yang di dalam kota, masih lumayan terawat, tapi sayangnya yang di Kabupaten Bogor banyak yang terbengkalai dan terlihat menyedihkan.
Di Kota Bogor sendiri, bangunan seperti ini masih banyak terdapat di kawasan Suryakencana, Pecinannya Bogor. Disana ada rumah Kapitan Tan, Klenteng Hok Tek Bio dan Pan Kho Bio (klenteng yang menunjukkan persatuan sekali yang ini mah).
Wah iya sy pernah sekali ke Vihara di Dhanagun di Suryakencana..Klo rumah Kapitan blm pernah ..ternyata banyak juga ya kak peninggalan cagar budaya Tionghoa di Bogor ..harus masuk bucketlist nih kalao ke Bogor lagi.. maksh infonya kak..
Waw asli kaget.
Ternyata Jakarta masih punya sudut kota dan bangunan bergaya seperti ini.
Seperti udara segar di tengah padatnya nafas perkotaan gtu…
Menarik mbak buat jalan2 kesana.
wah aku juga udah pernah nih mba keliling daerah pecinan ini, banyak banget ya hidden gem di daerah glodok sini. Ada juga yang penulis aksara china buat kaligrafi kak
seru banget kak! aku juga pernah beberapa kali main-main kesana, main ke klenteng juga pas ada acara semacam ruwat
saya belum kemana mana kak. jadi pengen jalan jalan deh setelah baca artikel ini
Wah, saya suka loh susur-telusur bangunan-bangunan bersejarah…
Selama ini, saya tidak pernah memasukkan jakarta sebagai destinasi wisata.
Ternyata, di Jakarta ada juga destinasi wisata yang menarik…
Terima kasih atas infonya… 🙂
wah, bangunannya masih terawat sekali ya kak.. tapi emang sudah seharusnya bagunan cagar budaya peninggalan jaman dulu kayak gini kita jaga dengan baik. agar generasi penerus nantinya bisa menikmati keindahannya juga..
Aku sudah lama di jakata tapi gak tau kalo di glodok ada cagar budaya. aku taunya setelah baca artikel in. aku jadi penasaran pengen ke sana langsung. dan ingin lihat lihat
Boleh kak kalau ke Glodok jang lupa mampir lihat bangunan cagar budaya hehehe
The new thing…ntar kalau ke Jakarta coba mampir ke gelodok deh sista, menarik sekali ya… Cuma pernah numpang lewat sekali
Mba Bayu, di Medan juga ada cagar budaya klasik Tiong Hwa. Rumah Tjong A Fie namanya. Btw unik ya dulu ada tradisi patekoan di Pecinan Glodok
Saya termasuk orang yang nggak suka belajar sejarah kalau hanya via teks book. Tapi kalau berkunjung langsung seperti ini saya suka. karena bisa langsung melihat arsitekturnya, mendengar dan mendapat info tentang sejarah dan filosofinya ^^
Wah ternyata cerita di Glodok ini keren ya Kak Bayu, sayang Kapan hari pas ke sana belum tahu sahnya dan belum tahu letak-letaknya Jadi kesannya Yang Ku tangkap saat itu hanyalah beberapa bangunan tua kayak pertokoan yang tak berpenghuni gitu kapan-kapan mau kesana lagi ah menikmati cagar budaya di Pecinan Glodok
Yang bangunan pertama itu, yang ada di dalam gedung gitu bukan sih, kak? Jadi, aku kan sering ke Lindeteves ya. Suka lewat kaya Mall gitu tapi di dalemnya ada rumah kalo diliat dari luar. Persis kaya bangunan nomor satu itu
Betul kak ini arah ke Lindeteves cuma kalau bangunan Candra Naya ini persis seberang halte busway OLIMO kak arah Lindeteves.
selama aku di jakarta 6 hari kok aku belum ke sini yaa hehe ternyata kota Jakarta itu sangat luas banget menerutuku cocok di bilang kota metropolitan
Betul kak kota Jakarta luas sekali dan banyak peninggalan budaya nya yang masih terawat . Lain kali singgah ya kak di kawasan Jakarta Barat banyk banget deh
Bermanfaat banget mbak ini informasinya, saya jadi tahu asal nama Glodok dan Pancoran, juga bangunan-bangunan bersejarah di sana.
Betul kak banyak penginggalan budaya di daerah Glodok
wah saya enggak ngeuh loh sama bangunan cagar budaya ini, padahal dari lahir sampai skrg tinggal di jakarta wkwkwk. sering juga dulu kalau beli apa2 di glodok. makasih mba sharingnya, pan kapan mampir ah, sekalian kulineran juga udah lama dekem di rumah aja hihi.
Heheh kangen ya mbka traveling dan kulineran..iya nih Glodok tuh apa aja ada palagi kulinernya lezat2 hehe
Banyak bangunan orang Tionghoa dulunya yang sekarang jadi cagar budaya ya Mbak. Arsitektur bagunan asal Tiongkok memang unik dan klasik
Betul uda arsitektur bangunan dengan budaya Tionghoa unik dan klasik
Bangunan Pantjoran Tea House unik ya, Mbak. Memanjang dan bangunannya terkesan tipis gitu. Estetis
Betul kak bangunan Patjoran Tea House unik ya karena desainnya model jaman lama dan usia nya juga sdh satu abad lebih
keren banget nih area pecinan Glodok Jakarta
auto masuk ke wish list lokasi liburan nih
Boleh kak seru jelajah Glodok pas lagi liburan hehehe
Banyak juga ya cagar budaya yang bisa dikunjungi di wilayah Jakarta.
Saya baru tahu lho baca ini lho kalo nama Glodok tu aslinya Grojok. Tempat elektronik murah ya.
Betul mbak Glodok tempat penjualan elektronik dengan segala merk dan harga. Ga murah juga sih harganya variasi hehehe
Sering lewat daerah glodok dan beberapa kali mampir ..tapi belum sempat berwisata disekitaran sana…dan baru tahu juga glodok asalnya gojrok…jadi pengen traveling sekitaran jakarta
suka melihat tempat bersejarah seperti ini yang masih dirawat dengan baik, terlihat bersih, pengunjung jadi nyaman buat mampir kesana
sayangnya di kotaku nggak ada peninggalan seperti ini. Palingan kalo wisata seperti ini waktu ke LN saja, sedih