
Karya Multatuli Salah Satunya ada di Rangkasbitung Indonesia. Rangkasbitung sebuah kota kecamatan yang ada sejak Hindia Belanda berkuasa. Pusat tata kota yang sudah sangat maju menjadikan Rangkasbitung menjadi kota administrasi pemerintahan kolonial mewakili Banten dan sekitarnya pada waktu itu. Berjarak sekitar 72,5 km dari Jakarta, menuju Rangkasbitung bisa ditempuh menggunakan commuterline yang memakan waktu tempuh selama dua jam perjalanan dari Stasiun Tanah Abang.

Batik Banten
Setelah sampai di stasiun Rangkasbitung kita bisa berjalan kaki menuju museum Multatuli. Jalur yang ditempuh kurang lebih duakilo meter. Sepanjang perjalanan kita akan menjumpai Taman Makam Pahlawan Nasional, Rumah Imah Batik Sahate, dan Perpustakaan Sajidah dan Adinda.

Rumah Imah Batik Sahete berfungsi sebagai tempat membeli cinderamata berupa batik khas Lebak Banten. Batik Banten mempunyai dua belas motif yang mengandung nilai filosofi dari adat istiadat leluhur masayarakat Banten. Ragam warna yang cerah dan motif yang menggambarkan kegiatan manusia sehari-hari, menjadi batik banten mempunyai nilai seni yang tinggi.
Museum Multatuli terletak di Jalan Alun-Alun Timur No.8, Rangkasbitung Lebak Banten. Ini adalah museum anti-kolonialisme yang dibangun di atas bangunan bekas Kawedanan tahun 1930. Museum ini menyimpan kisah cerita mengenai seorang berkebangsaan Belanda yang menaruh simpati terhadap kehidupan warga pribumi yang diperlakukan sewenang-wenang oleh penguasa lokal dan pemerintah Belanda.
Multatuli terkenal dengan karya “Max Havelaar” sebuah cerita mengenai ketidakadilan perilaku penguasa dan kolonial terhadap warga pribumi pada masa penjajahan Belanda. Museum Multatuli hanya ada dua di dunia yaitu; Amsterdam Belanda dan Rangkasbitung Banten Indonesia.

Eduard Douwes Dekker adalah seorang berkebangsaan Belanda yang ditunjuk menjadi Asisten Residen untuk memimpin Rangkasbitung.Namun jabatan tersebut hanya diembannya selama tiga bulan (21 Januari 1856 – 29 Maret 1856). Beliau mengundurkan diri karena ketidaksetujuannya melihat ketidakadilan di masyarakat akibat perlakuan pemerintahan kolonial.
Perlakuan terhadap rakyat jelata
Akibat dari kekecewaannya, maka ia membuat karya sastra berjudul” Max Havelaar” dengan menggunakan nama pena “Multatuli”. Arti dari Multatuli yaitu “aku telah lama menderita”. Sedangkan Max Havelaar adalah karya sastra yang menceritakan eksploitasi dan penindasan kolonial Belanda terhadap warga pribumi.

Karya sastra ini menjadi sangat terkenal setelah dipublikasikan tanpa sepengetahuan penulisnya pada tahun 1860. Max Havelaar sendiri sudah dialihbahasakan kedalam 40 bahasa dunia. Akibat dari terkenalnya karya sastra ini, Multatuli atau Eduard Douwes Dekker dianggap penghianat oleh Bangsanya sendiri sehingga ia harus mengungsi ke negara Jerman.
Museum Multatuli diresmikan tahun 2018 dengan tata ruang pamer yang moderen dan menarik. Untuk masuk ke museum ini tidak dikenakan biaya alias gratis.Sebaiknya jika berkunjung ke museum ini secara berkelompok karena akan dipandu seorang pemandu mesueum untuk menjelajah berbagai ruangan yang ada di museum. Terdapat tujuh ruangan visual yang akan menceritakan sosok seorang Multatli.
1.Ruang pertama adalah ruang “Selamat Datang”. Disini kita akan melihat wajah Multatuli dalam bentuk mozaik yang terbuat dari potongan akrilik kemudian ada patung Multatuli dan video tentang kutipan kata-kata Multatuli.
2. Ruang kedua adalah ruang “Kolonialisme”. Disini pengunjung akan disuguhkan cerita awal mula kedatangan Belanda menuju Nusantara dan Banten khususnya.Sejarah dan niat awal mula kedatangan kolonial yang mengincar rempah-rempah Nusantara.
3.Ruang ketiga berupa ruang “Tanam Paksa”. Setelah berhasil mengambil rempah-rempah, pemerintah kolonial mempunyai keinginan menjadi penghasil rempah-rempah terbesar didunia. Cara yang dilakukan dengan melakukan tanam paksa menggunakan tenaga warga pribumi secara cuma-cuma.
Ruang Multatuli
4.Ruang keempat merupakan ruang “Multatuli”. Disini diperlihatkan hasil karya Multatuli yang fenomenal yaitu karya sastra asli” Max Havelaar” yang dialihbahasakan kedalam bahasa Prancis serta hasil tulisan surat menyurat Multatuli pada Raja Belanda pada saat itu. Untuk karya asli Max Havelaar asli dalam bahasa Belanda tersimpan di Museum Multatuli di Amsterdam Belanda.
5.Ruang kelima adalah ruang “Banten”. Disini kita akan mendapatkan cerita mengenai pergerakan yang ada di Banten oleh masyarakat dalam melawan penjajah kolonial

6. Ruang keenam dinamakan ruang “Lebak”. Menceritakan tentang budaya Lebak saat ini. Ruang ketujuh bernama ruang : “Rangkasbitung”. Pada ruang terakhir yang sekaligus menjadi ruang menuju pintu keluar terdapat beberapa buku Max Havelaar yang dapat dibaca oleh pengunjung. Disamping itu terdapat profil orang-orang yang memiliki kisah keterkaitan sejarah dengan Rangkasbitung.

Di halaman museum terdapat patung perunggu besar seorang Multatuli yang sedang membaca buku lengkap dengan almari berisi koleksi buku. Tempat ini menjadi spot foto bagi pengunjung yang ingin berswafoto. Selain museum terdapat perpustakaan Sajidah dan Adinda. Lokasinya bersebelahan dengan museum Multatuli. Di perpustakaan ini pengunjung dapat membaca koleksi buku menarik atau menonton film Multatuli di ruang ausio visual layaknya seperti bioskop.
Nah ini pengalaman saya dalam traveling icon kota ke Museum Multatuli. Bagaimana dengan teman semua apakah pernah mengunjungi museum yang menyimpan cerita tentang tokoh terkenal? Boleh share ya dikolom komentar. Terima Kasih.

Wah dulu kopi itu digambarkan sebagai minuman rakyat jelata ya kak..
Padahal sekarang itu kopi naik kelas banget..
Secangkirnya ada yang bikin kantong bolong, hehe
oalah baru tahu di rangkasbitung juga ada museum. dulu pernah ke daerah sini karena mau ke baduy, naik KRL sampai rangkasbitung ini. wah bisa jadi destinasi nih sekalian nambah ilmu pengetahuan hehe. makasih infonya mba.
Sejarah yang berbaris rapi di museum itu selalu menarik untuk dilihat dan diperhatikan
semoga selalu ada dan terus disenangi generasi selanjutnya
Musimnya lengkap juga ya dan itu batik batiknya Ih keren banget warna-warni cantik kalau dipakai buat bikin gamis. Semoga next bisa berkunjung ke musiumnya juga
Semoga terlaksana ya kak. Betul kak museumnya bagus sekali koleksinya juga lengkap.
Wow lengkap sekali ya museumnya, jadi pengen ke sana lho…. Senang kalau Indonesia juga ada seniman seperti ini
Nah iya sekarang banyak museum Indonesia sudah berbenah jadi menarik minat pengunjung