Hempaskan Selimut Polusi dengan Tafakur Alam ala Masyarakat Baduy

Selimut polusi membuat bumi semakin panas dan menyebabkan perubahan iklim. Buktinya saat ini perubahan musim menjadi susah diprediksi.

Iklim yang perubahannya tidak terkendali berdampak pada kelangsungan hidup tanaman produktif. Beberapa tanaman produktif gagal panen karena musim hujan datang lebih cepat. Sebagian tanaman produktif tak jarang ada yang mengalami kekeringan karena musim kemarau berkepanjangan.

Beberapa spesies terancam kehidupannya bahkan ada yang diambang kepunahan. Pada akhirnya perubahan iklim juga berdampak pada kesehatan manusia.

Selimut polusi
Perkampungan Urang Baduy Lebak Banten | doc. pribadi

Selimut Polusi

Umur bumi semakin lama semakin menua. Namun luasan bumi tidak pernah bertambah. Beban bumi semakin berat dengan menanggung jumlah manusia yang melebihi kapasitas. Untuk itu dibutuhkan langkah bijak dari penghuni bumi yaitu manusia itu sendiri supaya keseimbangan alam terjaga dengan baik.

Upaya untuk Hempaskan Selimut Polusi sudah banyak dilakukan penggiat dan pemerhati lingkungan. Mulai dari membuat webinar berbentuk diskusi atau talk show bertema pelestarian lingkungan, himbauan tidak membakar sampah sampai upaya penghijauan dengan cara penanaman bibit atau pohon kembali.

Dampak polusi udara
Dampak perubahan iklim | ilustrasi menggunakan canva oleh Bayu Fitri

Penyebab Perubahan Iklim

Perubahan iklim bisa terjadi karena berbagai hal. Namun faktor penyebab terbesar ada pada kegiatan manusia. Beberapa penyebabnya antara lain;

1. Perilaku gaya hidup
Pola kegiatan individu yang semakin bergantung dengan piranti elektronik secara tidak langsung ikut andil sebagai penyumbang polusi. Untuk menyalakan piranti elektronik dibutuhkan sumber daya listrik yang pembangkitnya sebagian besar masih menggunakan bahan bakar dari fosil.

Bagi penduduk yang tinggal diperkotaan, datangnya musim kemarau membuat cuaca panas tak tertahankan. Akibatnya penggunaan alat penyejuk ruangan atau AC menjadi rutinitas harian. Bahkan alat tersebut bisa menyala 24 jam tanpa jeda.

2. Usaha pertambangan dan manufaktur
Proses operasional peralatan mesin pada pertambangan dan pabrik-pabrik umumnya menggunakan listrik. Sedangkan sumber daya listrik berasal dari bahan bakar fosil. Dengan kapasitas produksi pertambangan dan pabrik yang besar secara tidak langsung ikut menyumbang gas buang rumah kaca ke udara.

3. Pembukaan hutan
Jumlah manusia yang semakin banyak, membuat kebutuhan lahan untuk bercocok tanam serta pemukiman meningkat. Pembukaan hutan kerap dilakukan untuk keperluan ini. Salah satu cara dengan penebangan dan pembakaran hutan.

Penebangan hutan akan mengurangi serapan karbondioksida. Akibatnya karbondioksida terlepas dan menjadi gas rumah kaca. Begitu juga dengan asap dari pembakaran hutan yang mengakibatkan penurunan kualitas udara.

4. Penggunaan alat transportasi
Alat transportasi dengan bahan bakar fosil digunakan manusia untuk berkegiatan di luar ruang. Namun banyaknya alat transportasi yang digunakan membuat terjadinya polusi udara. Hal ini terjadi dari asap knalpot kendaraan yang menggunakan bahan bakar fosil.

Penyebab perubahan iklim
Penyebab perubahan iklim | ilustrasi menggunakan canva oleh Bayu Fitri

Polusi Udara Meningkat

Salah satu penyebab dari perubahan iklim adalah polusi udara yang dapat menurunkan kualitas udara. Jakarta sebagai Ibu Kota Negara semakin lama mengalami penurunan kualitas udara akibat polusi. Menurut sumber dari bmkg.go.id, per 15 Juni 2022 terdapat kenaikan polutan dalam wujud partikel kecil atau disebut PM2.5 yang mencapai level 148 (mikrogram per meter kubik).

Polusi udara yang buruk terlihat secara kasat mata dari kondisi udara Jakarta yang cukup pekat seperti tertutup kabut tebal.

Nilai ambang batas konsentrasi PM2.5 sendiri hanya sebesar 65 (mikrogram per meter kubik). Dibawah nilai tersebut yaitu 15-65 (mikrogram per meter kubik) polusi udara berada pada kondisi sedang.

Jika nilai PM2.5 yang berkisar antara 66-150 (mikrogram per meter kubik) maka polusi udara masuk dalam level tidak sehat. Sedangkan jika nilai PM2.5 yang berkisar antara 151-250 (mikrogram per meter kubik) maka polusi udara masuk dalam sangat tidak sehat. Lebih dari itu maka polusi udara menjadi berbahaya.

Tingginya konsentrat polutan partikel kecil dipengaruhi oleh berbagai sumber diantaranya; asap buangan kendaraan bermotor, pola angin, kelembaban udara tinggi dan gas buang dari cerobong asap hasil pengolahan produk dari kawasan industri.

Team for impact
Level polutan terhadap udara | ilustrasi menggunakan canva oleh Bayu Fitri

Dampak Polusi Udara Bagi Kesehatan

Di luar ruangan, banyak masyarakat berkegiatan menggunakan ragam alat transportasi. Sebagian besar masyarakat terlihat masih nyaman menggunakan kendaraan pribadi berbahan bakar dari fosil. Polusi dari asap buangan bahan bakar kendaraan dari fosil menjadi tak terelakkan.

Bagi kesehatan manusia, adanya polusi udara dapat menganggu saluran pernafasan. Selanjutnya akan masuk dalam paru-paru menembus jaringan peredaran darah. Jika terakumulasi bisa menyebabkan gangguan kardiovaskular salah satunya penyakit jantung koroner.

Polusi asap juga bisa mengaburkan pandangan mata. Sebagai contoh peristiwa pembakaran lahan pada area ladang di pinggir jalan tol. Asap bakarannya berakibat menghalangi pandangan mata pengendara mobil. Akibatnya terjadi kecelakaan pada kendaraan yang disebabkan terhalangnya pandangan pengemudi akibat polusi asap.

Tafakur Alam Ala Urang Baduy

Tafakur artinya merenungkan segala sesuatu yang diciptakan Tuhan. Perenungan ini bertujuan supaya manusia mengingat kebesaran NYA dan menjaga dengan baik hasil karya Nya. Manusia perlu belajar menjaga keseimbangan alam dari masyarakat Baduy.

Pada pertengahan tahun 2022 Saya melakukan perjalanan wisata ke Kampung Wisata Suku Baduy di daerah Banten. Lokasinya berada di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, berjarak 40 Km dari Rangkasbitung Banten.

Suku Baduy atau Urang Kanekes terbagi menjadi dua yaitu Urang Baduy Luar dan Urang Baduy Dalam. Pembedanya jika Urang Baduy Luar berbaju hitam dengan ikat kepala bergaris biru. Sedangkan Urang Baduy Dalam berbaju putih berikut ikat kepalanya.

Sehubungan hal tersebut maka Kampung Baduy akhirnya terbagi menjadi dua wilayah. Baduy Luar menempati wilayah mulai dari akses terluar sampai Jembatan Gajeboh. Jembatan Gajeboh adalah jembatan yang terbuat dari anyaman akar pohon.

Di bawah Jembatan Gajeboh mengalir Sungai Ciujung. Jembatan Gazebo sendiri menjadi akses penghubung antara wilayah Baduy Luar dan Baduy Dalam. Sedangkan jarak tempuh dari Jembatan Gajeboh menuju wilayah Baduy Dalam membutuhkan waktu kurang lebih 3 jam perjalanan dengan cara mendaki perbukitan.

Muda mudi bumi
Perempuan Baduy dengan tenunannya | doc. pribadi

Prinsip Kehidupan Urang Baduy

Selain perbedaan tempat tinggal, Urang Baduy mempunyai prinsip kehidupan tersendiri. Urang Baduy Dalam tidak mengenal alat peradaban seperti teknologi, penerangan listrik dan barang elektronik.

Menurut Urang Baduy Dalam, penggunaan teknologi dan peradabannya lambat laun akan merusak keseimbangan alam dan mengganggu keyakinan yang mereka anut. Itu kenapa Urang Baduy Dalam tidak bersedia bersentuhan dengan peradaban dunia luar.

Sedangkan Urang Baduy Luar lebih terbuka dengan peradaban. Urang Baduy Luar masih bersedia mengenal teknologi, belajar pendidikan formal dan menggunakan alat elektronik seperti masyarakat umum.

Urang Baduy Luar terbiasa menggunakan teknologi namun tetap harus mematuhi aturan tertentu. Jika Urang baduy Luar ingin menggunakan perangkat elektronik yang terhubung dengan sumber listrik maka harus berjalan menuju kantor kepala desa terdekat.

Di kantor kepala desa, Urang Baduy Luar bisa menyewa sumber listrik untuk keperluan mencharger telepon genggam atau mengisi ulang peralatan elektronik lainnya. Hal ini dikarenakan wilayah perkampungan suku Baduy Luar juga tidak boleh menerima pemasangan instalasi listrik.

Jika malam hari, semua perkampungan Urang Baduy menggunakan penerangan bersumber dari alam seperti sinar bulan dan bintang. Terkadang jika ada keperluan mendesak Urang Baduy menggunakan penerangan dari api dengan bahan bakar minyak kelapa atau di sebut sentir.

Untuk kegiatan memasak, Urang Baduy Luar juga tidak boleh menggunakan kompor melainkan hanya menggunakan kayu dan ranting pohon untuk dijadikan bahan bakar memasak.

Walaupun sudah mengenal peradaban Urang Baduy luar tetep berdomisili di perkampungan Baduy Luar. Sebab jika Urang Baduy Luar berdomisili di luar kampung Baduy maka ia tidak bisa kembali lagi atau dianggap sudah bukan Urang Baduy lagi.

Untukmu bumiku
Huma tempat menyimpan bahan pangan | doc. pribadi

Arti Hutan bagi Urang Baduy

Kehidupan Urang Baduy yang menjauh dari peradaban memberi pengaruh bagi kelestarian alam. Ketika saya berkunjung ke perkampungan Baduy Luar tidak ada kendaraan bermotor yang lalu lalang di perkampungan. Itu artinya tidak ada polusi udara dari asap knalpot.

Suasana perkampungan Baduy Luar juga cenderung asri dan sepi. Tidak ada juga suara gegap gempita dari perangkat elektronik yang biasanya sering terdengar pada perkampungan pada umumnya.

Kegiatan orang Baduy sehari-hari adalah bertani dan berladang bagi kaum lelaki. Sedangkan bagi kaum perempuan mempunyai kegiatan menenun kain dengan peralatan tenun tradisional.

Perempuan Baduy juga lihai membuat kerajinan tangan berupa tas yang terbuat dari kulit kayu. Hasil kerajinan tangan dan kain tenun bisa untuk digunakan sendiri ataupun dijadikan souvenir bagi wisatawan yang datang berkunjung.

Urang Baduy terbiasa berjalan kaki dalam kesehariannya. Sebagian Urang Baduy Luar ada yang berjalan sudah menggunakan alas kaki. Sedangkan Urang Baduy Dalam terbiasa berjalan tanpa alas kaki.

Perkampungan Baduy sendiri mempunyai luas wilayah sebesar 5108 hektar are, sekitar 3000 hektar are dibiarkan menjadi hutan dengan pengeloalan ketat yang diatur Pemimpin Adat Baduy.

Menurut penuturan Kang Baim seorang pemandu lokal sekaligus narasumber Urang Baduy Luar, terdapat aturan yang dibuat Tokoh Baduy terkait menjaga kelestarian hutan di Baduy.

Sebelum memulai masa tanam biasanya Urang Baduy mengadakan upacara sebagai ritual khusus. Ada istilah nyacar untuk membersihkan lahan. Ngadruk untuk membakar lahan supaya subur. Ngaseuk ketika proses menanam padi dimulai.

Urang Baduy masih berpatokan pada arah bintang di langit untuk menentukan waktu yang tepat memulai bercocok tanam. Pada pembukaan lahan perladangan, Urang Baduy menerapkan aturan ketat terkait tebang bakar hutan untuk ladang huma.

Urang Baduy dengan keahliannya mempunyai cara tertentu supaya asap bakaran tidak melebar kemana-mana dan tidak terjadi kebakaran hutan. Pada proses pengerjaan hasil pertanian dan perladangan juga tidak menggunakan pestisida melainkan menggunakan pupuk alami buatan sendiri. Begitu seperti diceritakan Kang Baim selaku pemandu wisata lokal Baduy Luar.

Artikel polusi udara
Jembatan Gajeboh yang menjadi batas wilayah Urang Baduy | doc. pribadi

Menyesuaikan Diri dengan Alam

Pada kegiatan bercocok tanam Urang Baduy patuh pada perintah Pemimpin Adat untuk tidak memotong kontur tanah. Urang Baduy juga tidak boleh membelokkan aliran sungai.

Manusia hendaknya yang menyesuaikan diri dengan alam bukan sebaliknya. Dengan demikian kondisi alam tetap lestari. Demikian nasihat dari Pemimpin Adat Baduy seperti diceritakan Kang Baim.

Urang Baduy tidak pernah membakar sampah rumah tangga. Hal ini bisa terjadi karena mereka tidak mengkonsumsi makanan dan minuman yang dibungkus kertas atau plastik.

Sampah rumah tangga yang dihasilkan umumnya hanya berupa sampah sisa makanan, ranting, kayu dan guguran daun dari tanaman serta pepohonan. Sampah ini dikumpulkan dalam tanah yang sudah dilubangi dan biasanya ditimbun sedemikian rupa supaya menjadi kompos.

Hutan Mencegah Banjir

Perkampungan Baduy sendiri dilewati beberapa anak sungai. Walaupun demikian jika musim hujan datang dengan lebat, tidak pernah menyebabkan air sungai meluap sampai terjadi banjir.

Ini bisa terjadi karena ada aturan ketat dari Pemimpin Adat Baduy yang melarang keras penebangan pohon di daerah aliran sungai. Tepian sungai juga bebas dari pemukiman warga sehingga sungai tidak kotor dengan sampah rumah tangga.

Hutan yang ada di perkampungan Baduy dibagi menjadi 3 bagian yaitu hutan budidaya, hutan lindung dan hutan tutupan atau larangan. Pada hutan lindung tidak boleh didirikan pemukiman. Sedangkan pada hutan budidaya, Urang Baduy diperbolehkan bertani, berladang dan mendirikan pemukiman.

Pada hutan tutupan tidak boleh ada pemukiman dan tidak boleh ada yang masuk dalam hutan tersebut. Hutan tutupan sangat dilindungi keberadaannya karena di dalam hutan terdapat 120 titik mata air yang harus dijaga.

Imbal Balik dari Hutan

Urang Baduy meyakini jika hutan seisinya adalah titipan Tuhan untuk dijaga keberadaannya. Hutan bukan sekedar sumber daya alam yang bisa dieksploitasi tanpa batas demi keuntungan semata.

Hutan yang terjaga dengan baik akan memberi imbal balik yang baik juga untuk manusia. Keberadaan hutan yang baik dapat menghilangkan selimut polusi.

Karena hutan yang terjaga baik akan memberi oksigen berlimpah untuk pernafasan manusia. Pada akhirnya manfaat hutan akan dirasakan generasi selanjutnya.

Kolaborasi Atasi Selimut Polusi

Menyimak cara Urang Baduy menjaga hutan, Kita bisa mengambil makna dari perilaku bersahaja Urang Baduy. Kita sebagai manusia yang mengenal peradaban sejak lahir setidaknya dapat bertindak bijak dalam mengatasi selimut polusi. Tindakan bijak bisa dimulai dari yang langkah sederhana bahkan dari dalam lingkungan rumah. Adapun caranya;

Tidak dibiasakan membakar sampah
Sampah apapun yang dibakar memang cepat lenyap dari pandangan. Permasalahannya asap bakaran sampah tidak bisa diatur dan akan berlarian kesana kemari mengikuti gerakan arah angin. Membakar sampah selain menimbulkan polusi asap juga menimbulkan polusi bau bakaran.

Khusus bagi orang yang mempunyai riwayat gangguan pernafasan, jika sampai menghirup asap hasil bakaran sampah bisa berakibat pada sesak nafas. Jadi biasakan tidak membakar sampah jenis apapun jika berada di lingkungan padat warga atau yang mempunyai tetangga di samping kiri dan kanan.

Tidak menggunakan bahan plastik sekali pakai
Gerakan membawa kantong belanja atau tempat sendiri dari rumah sudah menjadi kebiasaan di kota besar. Saat ini lazim terlihat sebagian besar orang belanja ke swalayan atau minimarket dengan membawa kantong belanja yang bisa dipakai berulang kali.

Perilaku membawa tempat atau kantong sendiri setidaknya meminimalisir penggunaan kantong belanja berbahan plastik sekali pakai. Seperti diketahui bersama, bahan plastik membutuhkan penguraian yang memakan waktu sangat lama. Proses penguraian plastik jika dibuang atau ada dalam tanah berakibat timbulnya efek gas rumah kaca yang menghasilkan polusi udara.

Mengatur penggunaan piranti elektronik
Ketergantungan sebagian besar orang terhadap piranti elektronik membutuhkan daya listrik yang besar. Kegiatan menghidupkan AC, mengisi daya smartphone, menyalakan televisi, laptop mesin cuci semua membutuhkan daya.

Listrik sebagai sumber daya, sebagian besar masih menggunakan bahan bakar fosil sebagai pembangkitnya. Proses pengolahan batubara akan mengeluarkan gas buang yang menimbulkan polusi.

Untuk itu kendalikan penggunaan piranti elektronik seperlunya. Sebagai contoh mencabut kabel charger dari stop kontak jika sudah selesai mengisi daya smartphone. Tidak menyalakan AC selama 24 jam penuh. Pada siang hari gunakan penerangan dari cahaya matahari sehingga penggunaan listrik siang hari bisa ditiadakan.

Menggunakan transportasi umum
Rasa nyaman menggunakan kendaraan pribadi pastinya dirasakan semua orang. Namun terkadang penggunaan kendaraan pribadi bisa menimbulkan masalah baru. Terlebih saat kondisi lalu lintas macet parah.

Pada kondisi macet, kendaraan akan parkir berjamaah di jalan raya dalam kondisi mesin menyala. Hal ini menyebabkan bahan bakar fosil terbuang begitu saja. Selain itu buangan gas kendaraan yang terakumulasi menjadi yang pertama penyumbang polusi udara.

Solusi terbaik adalah menggunakan transportasi umum ketika berkegiatan. Apalagi saat ini sarana dan prasarana transportasi umum sudah mengalami perubahan signifikan. Layanan transportasi umum saat ini dapat dikatakan cepat, aman dan nyaman.

Membuat konten edukasi atasi selimut polusi
Saat ini hampir sebagian besar orang mendapatkan informasi melalui layanan digital. Ragam saluran, platform, portal berita online sampai sosial media menjadi tempat berkumpulnya informasi. Bagi generasi milenial dan gen Z mendapatkan informasi apapun lebih mudah melalui layanan digital.

Kondisi seperti ini merupakan kesempatan bagi konten kreator yang mempunyai kepedulian terhadap masalah lingkungan. Konten kreator bisa ikut memberi edukasi melalui karya kontennya dengan ajakan peduli pada kelestarian alam dan lingkungan. Karya kontennya bisa dibuat dalam bentuk animasi, film, kompilasi foto maupun video.

Pengalaman Merasakan Selimut Polusi

Mengatasi berbagai persoalan selimut polusi dibutuhkan pendekatan dan himbauan yang terus menerus. Jika suatu perilaku sudah menjadi kebiasaan memang agak sulit untuk bisa merubah perilaku tersebut dalam waktu sekejap saja.

Seperti contoh pembakaran sampah dan masih banyaknya pengguna kendaraan pribadi yang enggan beralih ke transportasi umum.

Saya pribadi merasakan ketidaknyamanan atas kehadiran selimut polusi. Ini terjadi di lingkungan tempat tinggal saya. Sebagian warga di perumahan tempat tinggal Saya masih senang membakar sampah rumah tangga.

Kegiatan pembakaran sampah ini juga tidak melihat waktu. Bisa menjelang subuh, siang hari nan terik, sore atau tengah malam. Padahal setiap pekan mobil pengangkut sampah datang untuk mengambil sampah di setiap rumah.

Jika warga yang membakar sampah ditegur jawabannya karena yang dibakar bukan sampah rumah tangga. Sehingga jika dititipkan pada tukang sampah harus memberikan biaya angkut tambahan. Hal ini menjadi kebiasaan tanpa mempedulikan bahwa asap bakaran sampahnya sudah mengganggu pernafasan tetangganya.

Kebijakan Rasa Kearifan Lokal

Untuk mengatasi berbagai persoalah selimut polusi harus menerapkan kebijakan rasa kearifan lokal. Artinya tidak ada paksaan namun dilakukan pendekatan sembari diberikan contoh. Seandainya Saya diberikan kesempatan sebagai pengambil kebijakan mengatasi selimut polusi maka tindakan yang akan saya lakukan sebagai berikut;

Pertama, Saya akan mewajibkan setiap Rukun Tetangga atau RT mempunyai program “Bank Sampah”. Keberadaan “Bank Sampah” banyak yang sudah berjalan di berbagai wilayah. Sayangnya ditempat saya malah terhenti karena ketiadaan orang yang mengurus.

Program Bank Sampah sebaiknya hanya menerima sampah non organik. Contoh sampahnya seperti kertas, besi, kayu, plastik, dan peralatan elektronik.

Syarat utama penyetoran sampah non organik tentu harus bersih dan terikat rapi. Bank Sampah bisa bekerja sama dengan pengepul yang akan melakukan daur ulang sampah non organik menjadi benda lain.

Untuk masalah kepengurusan Bank Sampah dapat dilakukan penugasan bergilir antar warga pada setiap akhir pekan. Dengan pendekatan semangat gotong royong diharapkan program Bank Sampah bisa berjalan dengan baik.

Kedua, Saya akan mewajibkan murid-murid sekolah dasar untuk belajar bercocok tanam sejak dini. Kegiatan ini bertujuan untuk mengenal fungsi tumbuhan dan pentingnya menjaga tanaman dan pepohonan. Anak-anak yang dikenalkan sejak dini perihal cara menjaga dan melestarikan lingkungan dengan langsung praktik diharapkan akan terbiasa menjaga kebersihan alam dan lingkungan.

Ketiga, Saya akan mewajibkan pekerja kantor pada hari tertentu untuk datang bekerja menggunakan transportasi umum. Ini dimaksudkan supaya polusi udara berkurang karena kegiatan berkendara di jalan raya minimal jadi berkurang.

Keempat, Saya akan mendorong generasi muda seperti konten kreator untuk terus menyuarakan pentingnya menjaga hutan demi lingkungan yang lestari dengan cara mengadakan lomba konten bertema menjaga dan melestarakan alam melalui platform dan media apapun secara kreatif dan menarik.

Sebagai apresiasi akan diberikan imbalan menarik. Harapannya melalui konten edukatif pesan menjaga hutan demi terbebasnya lingkungan dari selimut polusi bisa tersampaikan dengan baik pada generasi milenial.

Penutup

Demikian hasil traveling alam saya ke Perkampungan Baduy Luar Banten. Urang Baduy sudah membuktikan bahwa dengan kerendahan hati ternyata bisa menjalani kehidupan selaras dengan pergerakan alam.

Masalah #SelimutPolusi adalah masalah Kita semua sebagai penduduk bumi. Dibutuhkan kerendahan hati pada diri Kita untuk dapat bersanding harmonis dengan alam.

Karena Kita semua berikut #MudaMudiBumi menetap di satu bumi yang sama maka sudah seharusnya Kita memperlakukan bumi sebagai tempat yang nyaman untuk ditinggali.

Cara terbaik #UntukmuBumiku dengan hempaskan selimut polusi, lakukan tafakur alam ala Masyarakat Baduy. Niscaya alam tetap lestari. Dari kami yang mencintai bumi #TeamUpForImpact

Sumber referensi :

https://www.bmkg.go.id/press-release/?p=bmkg-update-perkembangan-terkini-kondisi-kualitas-udara-di-wilayah-jakarta-dan-sekitarnya&tag=press-release&lang=ID

Wawancara langsung dengan pemandu wisata lokal Kampung Baduy Luar “Kang Baim”

https://katadata.co.id/intan/berita/62a355592ffd6/7-dampak-perubahan-iklim-bagi-manusia-dan-lingkungan

https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-6045858/7-penyebab-perubahan-iklim-akibat-aktivitas-manusia-kurangi-dari-sekarang

Please follow and like us:

ditulis oleh

Bayu Fitri Hutami

Seorang pembelajar yang bukan siapa-siapa melainkan seorang yang senang bercerita. Seorang yang suka menulis berdasarkan apa yang dilihat, didengar dibaca dan dialami untuk menjadi sebuah tulisan informatif. Semoga tulisan yang saya sajikan bermanfaat. Terima Kasih.