
Cerita kolaborasi ide dan kerja cerdas biasanya berawal dari hal kecil. Bisa dari lintasan pikiran, coretan di kertas, bahkan obrolan singkat.
Namun seperti yang dialami banyak kreator dan profesional, ide hebat tidak bisa tumbuh jika tidak diberi ruang, kecepatan dan dukungan teknologi yang bisa diandalkan.
Dari sini cerita dimulai….
Daftar Isi
Drama Laptop Jadul
Sebagai seorang konten kreator yang aktif bikin video perjalanan wisata aku selalu bersemangat mengawali pagi hari dengan duduk manis di depan laptop kesayangan.
Susu coklat sudah diseduh, ide sudah matang di kepala dan siap untuk berkarya. Tapi begitu aku mulai membuka software editing video, semuanya berubah jadi drama.
“Semoga… enggak freeze lagi,” aku berdoa sambil menatap laptop jadul kesayangannya yang mulai bersuara bising seperti pesawat mau terbang.
Terlihat aplikasi editing video yang sudah dibuka setengah jam yang lalu masih dalam proses loading.
Selanjutnya terlihat visual transisi antar footage patah-patah, efek lighting tertunda, dan ketika aku mencoba menjalankan fitur AI background remover tiba – tiba aplikasi langsung force close.
Aku pun menghela nafas kesal sekaligus gemas padahal hanya ingin menggunakan fitur AI basic buat hapus background dan kasih sedikit efek cinematic lighting yang simpel.
Namun apa daya, laptop jadul aku belum punya NPU (Neural Processing Unit) yang mumpuni. Jadi semua proses AI dikerjakan CPU dan GPU bersamaan sehingga bikin performa laptop menjadi megap-megap duluan.
Masalahnya aku diburu waktu. Mana deadline upload tinggal 5 jam lagi. Belum lagi kalau melakukan render video yang bisa memakan waktu nyaris 20 menit selama 2 jam.
Saking gabutnya menunggu proses render video, kadang aku tinggal saja sambil scroll platform media sosial atau melakukan pekerjaan lainnya.
Kesalnya sewaktu aku balik lagi ke depan laptop jadul ternyata terlihat proses masih stuck di 45% rendering.
Sebenernya kejadian seperti ini bukan hanya sekali. Pernah saat aku sedang ngedit suara podcast, fitur noise removal AI nya malah bikin laptopnya nge-lag setengah mati.
Pernah juga kejadian sewaktu aku mencoba menggunakan AI video enhancer biar footage-nya makin tajam, bukan hasil ciamik yang didapat malah gagal total.
Bagaimana enggak gagal total, yang ada layar laptop ngeblank, lalu crash. Dan seperti biasa, semua perubahan belum sempat disimpan dan jadi hilang dalam sekejap. Kesal sekaligus ingin rasanya nangis bombay.
Sampai kemudian ketika aku sedang scroll You Tube, tak sengaja ketemu ulasan NPU 45+ TOPS dari ASUS.
Menurut penjelasan tayangan You Tube tersebut laptop advanced AI yang dilengkapi dengan NPU 45+ TOPS bisa membuat proses editing lancar, render secepat kilat dan performanya beneran ngebut enggak ngefreeze lagi.
Akhirnya setelah melihat tayangan You Tube mengenai laptop advanced AI yang menggunakan NPU 45+ TOPS aku mulai sadar kalau kerja kreatif itu bukan cuma soal ide dan kemampuan, tapi juga soal alat yang bisa diandalkan.
Salah satu alat cerdas terdapat pada laptop yang sudah punya otak AI. Bukan cuma CPU dan GPU saja namun membutuhkan NPU bertenaga minimal 45+ TOPS.
Tujuannya supaya bisa menjalankan proses AI dengan lancar tanpa memerlukan waktu berjam-jam saat rendering.
Singkat kata, aku memutuskan untuk mengistirahatkan laptop jadul dan membeli laptop advanced AI yang dilengkapi NPU 45+ TOPS.
Sebab menurut aku, menjadi konten kreator itu bukan cuma soal bikin konten tapi bagaimana caranya supaya bisa kerja cepat, dan efisien serta anti drama teknologi.

Cerita Kolaborasi Ide dan Kerja Cerdas
Sekarang aku sedang duduk di sudut kafe, menatap langit mendung di luar jendela. Di depanku, sebuah ASUS Zenbook S 14 OLED (UX5406SA) baru saja menyala. Tipis, ringan, dan seperti siap menerima segala jenis eksplorasi kreatifku.
Hari itu aku sedang diburu tenggat waktu untuk menyelesaikan tugas video pendek perjalanan wisata yang kemarin baru aku lakukan.
Berbekal stok beberapa footage video yang harus dilakukan proses editing dan membuat storytelling, aku dihadapkan pada satu tema dengan rangkaian cerita tentang lingkungan hijau.
Lalu aku membuka laptop advanced AI ini, dan semuanya terasa berbeda.
Ketika AI dalam sebuah laptop bukan sekadar fitur, melainkan sudah menjadi partner kolaborasi sesungguhnya. ASUS Zenbook S 14 OLED (UX5406SA) bukan laptop biasa.
ASUS Zenbook S 14 OLED (UX5406SA) merupakan salah satu laptop AI dengan performa NPU 45+ TOPS.
Keberadaan NPU (Neural Processing Unit) mampu membuat performa hingga 47 TOPS. Artinya laptop ini bisa menjalankan komputasi AI yang kompleks dalam waktu sekejap tanpa membuat CPU atau GPU ngos-ngosan.
Aku hanya perlu menjelaskan konsep visual secara singkat, dan Copilot dengan kecerdasan AI-nya mulai membuat storyboard terbaik sesuai tema.

Untuk storytelling nya, aku cukup mengetik draft narasi dan minta aplikasi AI menyempurnakannya dalam gaya bahasa kekinian yang populer. Bahkan koreksi tata bahasa langsung disesuaikan oleh AI asisten.
Selanjutnya aku mulai bekerja pada proses editing dan menunggu render video. Tidak perlu waktu lama karena menggunakan AI di dalam laptop ASUS Zenbook S 14 OLED (UX5406SA) dengan NPU hingga 47 TOPS secara otomatis menyesuaikan transisi, sinkronisasi audio, dan memberikan pilihan template instan hanya dalam hitungan menit.
UMKM Naik Kelas dengan Laptop Advanced AI
Kegiatan selanjutnya aku mengerjakan proses editing kolaborasi pembuatan video dan storyteling dengan salah satu UMKM pembuat Roti Gambang Sa’arina Kota Bogor.
Cerita untuk bisa melakukan kolaborasi aku dapatkan ketika sedang jalan-jalan di Kota Bogor.
Secara kebetulan aku bertemu dengan pelaku UMKM bernama ibu Desi dan Bapak Cecep selaku pemilik Roti Gambang Sa’arina Kota Bogor.
Produk Roti Gambang Sa’arina sendiri adalah produk camilan jaman dahulu yang berbahan terigu, gula merah, soda dan kayu manis.
Seiring perkembangan selera kekinian, Ibu Desi membuat varian rasa Roti Gambang menjadi 4 varian yaitu rasa keju, original, jahe dan juklat (keju coklat).

Proses pembuatan Roti Gambang buatan Ibu Desi dan Bapak Cecep masih terbilang manual dengan skala industri rumah tangga.
Sejarah Roti Gambang berawal dari tahun 2003 dimana saat itu orang tua atau ayah Ibu Desi membuat Roti Gambang yang dipasarkan manual dari warung ke warung.
Seiring waktu pesanan Roti Gambang mulai banyak permintaan dan dibutuhkan tenaga tambahan untuk membantu pembuatannya.
Dari sini Ibu Desi dan Bapak Cecep selaku suaminya mulai membantu dan belajar membuat Roti Gambang. Setelah orang tua Ibu Desi tiada, usaha diteruskan keduanya sampai sekarang.
Pada tahun 2010, Ibu Desi dan Bapak Cecep mulai sering mengikuti pelatihan pembuatan makanan rumahan berstandar nasional dari berbagai instansi kementerian terkait seperti Departemen Kesehatan dan Departemen Koperasi.
Tujuannya untuk mendapatkan pengarahan supaya produk Roti Gambang bisa naik kelas, mendapat sertifikat HALAL dan berstandar PIRT. Selain itu juga supaya Roti Gambang bisa mendapat binaan dan diikutsertakan pada pameran yang sering diselenggarakan instansi kementerian terkait.

Setelah mengikuti ragam pelatihan dari berbagai instansi terkait, Roti Gambang Sa’arina mulai diajak memasarkan produknya melalui berbagai pameran dari berbagai instansi.
Jangkauan pemasaran Roti Gambang naik kelas dari yang tadinya hanya dari warung ke warung kemudian menjadi dari outlet ke outlet toko, bakery juga dipasarkan dari pameran atau dari bazar ke bazar.
Namun ada satu kendala yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi Ibu Desi. Karena produknya masih dalam skala PIRT maka tenaga yang dilibatkan untuk membuat Roti Gambang Sa’arina masih terbatas dan fokus utamanya ada pada proses produksi.

Untuk pemasaran Roti Gambang Sa’arina selain memasukkan ke outlet toko dan mengikuti pameran, Ibu Desi juga sudah menggunakan media sosial namun hasilnya belum maksimal.
Ibu Desi mengakui jika ia kesulitan membagi waktu antara proses produksi dan melakukan pemasaran produk secara digital.
Kendala lain yg dirasakan Ibu Desi bahwa ia merasa tidak memiliki kemampuan membuat narasi storytelling untuk Roti Gambang Sa’arina yang akan ditayangkan pada akun media sosial miliknya.
Menurut Ibu Desi banyak informasi yang ingin disampaikan mengenai keunggulan cita rasa dari Roti Gambang Sa’arina.
Informasi tersebut sebenarnya ingin disematkan pada tayangan produk video Roti Gambang Sa’arina. Namun apa daya, Ibu Desi terkendala dengan minimnya kemampuan digital yang dimiliki.
Ketika mendengar cerita dari ibu Desi, terbersit sebuah ide untuk kolaborasi.
Aku memberikan bantuan untuk membuatkan konten mengenai proses pembuatan Roti Gambang Sa’arina menggunakan aplikasi AI yang bisa ditayangkan melalui media sosial.
Aku juga memberikan masukan kepada Ibu Desi bahwa salah satu cara memperluas jangkauan sebuah produk bisa kolaborasi melalui akun koten kreator.
Tidak membutuhkan waktu lama ibu Desi setuju dan mempersilahkan aku untuk mulai mengambil footage proses produksi. Selanjutnya aku melakukan wawancara singkat dengan ibu Desi mengenai sejarah roti Gambang Sa’arina
Setelah dirasa cukup aku pun pamit pulang untuk mengerjakan proses editing rangkaian footage di rumah.
Setelah tiba di rumah tanpa membuang waktu aku langsung membuka laptop ASUS Zenbook S 14 OLED (UX5406SA) yang sudah ditenagai teknologi Advanced AI dengan NPU hingga 47 TOPS.
Dan proses kerja cerdas dimulai..
Pertama aku menulis cerita hangat tentang kenangan masa kecil, rasa otentik dan kehangatan keluarga yang melekat pada tiap gigitan Roti Gambang.
Selanjutnya aku mengumpulkan beberapa foto dapur, footage video Roti Gambang yang baru keluar dari oven dan foto kedatangan pembeli yang membeli Roti Gambang.
Potongan footage akan disusun layaknya video pendek tanpa harus sibuk mengedit dengan menggunakan aplikasi Capcut. Pada laptop ASUS Advanced AI yang sudah memanfaatkan 45+ TOPS NPU aplikasi Capcut berjalan sangat cepat tanpa nge-lag. Jadi proses edit lebih cepat dan lancar.
Akhirnya tanpa memerlukan waktu lama konten kolaborasi Roti Gambang Sa’arina selesai kubuat dan tayang melalui media sosial aku sekaligus berkolaborasi dengan media sosial Roti Gambang Sa’arina.
Jadi kalau zaman dulu UMKM butuh tangan terampil, sekarang mereka juga butuh otak digital. Untuk itu laptop AI seperti ASUS Zenbook S 14 OLED (UX5406SA) sangat dibutuhkan.
Hadirnya laptop ASUS Advanced AI bukan bertujuan menggantikan manusia tapi menjadi teman seperjuangan dalam setiap langkah menuju UMKM yang lebih kreatif dan berdaya saing tinggi.
Semoga jangkauan produk Roti Gambang Sa’arina semakin luas dan semakin dikenal banyak orang. Berkat laptop Advanced AI, keberadaan Roti Gambang diharapkan bisa mendunia.

ASUS Zenbook S 14 OLED (UX5406SA)
ASUS Zenbook S14 OLED (UX5406SA) sangat cocok untuk menjalankan aplikasi-aplikasi modern yang sudah mendukung teknologi AI. ASUS Zenbook S14 (UX5406SA) sudah diperkuat oleh Intel® Core™ Ultra 7 Processor 258V 32GB 2.2GHz yang memiliki 8 core dan 8 thread. Prosesor tersebut dilengkapi dengan Intel® Arc™ Graphics serta chip AI berbasis Intel® AI Boost NPU dengan kecepatan hingga 47 TOPS.
Pada laptop Zenbook S 14 OLED (UX5406SA) penggunaan aplikasi AI bisa leluasa digunakan tanpa kendala karena menggunakan prosesor Intel® Core™ Ultra dengan NPU (Neural Processing Unit) hingga 47 TOPS.
Intel® Core™ Ultra (Series 2) pada ASUS Zenbook S 14 OLED (UX5406SA) mampu menangani tugas berbasis AI hingga 47 TOPS NPU.
Sehingga laptop ini bisa memproses aplikasi cerdas lebih cepat dan efisien.
Zenbook S 14 OLED (UX5406SA) dibuat dengan desain system-on-chip (SoC) yang memungkinkan motherboard lebih kecil hingga 27% sehingga proses pendinginan dan performa tetap stabil.

Apa itu NPU
Seperti diketahui, komponen laptop generasi sebelum hadirnya fitur AI ditenagai oleh CPU dan GPU.
Sekarang di era banyaknya aplikasi kecerdasan buatan atau AI maka untuk laptop moderen komponennya dilengkapi dengan NPU (Neural Processing Unit).
NPU sendiri berbentuk hardware yang terdiri dari blok-blok kecil dan melekat dalam prosesor.
Fungsi utama NPU yaitu memproses dan menjalankan segala sesuatu yang berhubungan dengan kecerdasan buatan atau AI.
Laptop modern yang dibekali NPU bisa memproses AI secara lebih cepat, powerful dan efisien.
Kenapa Harus NPU 45+ TOPS
TOPS (Tera Operations Per Second) adalah satuan untuk mengukur performa NPU. Alasan NPU harus 45+ TOPS sebab bisa menjalankan pemrosesan AI secara real time.
Misal pada kegiatan live streaming yang sekaligus bisa menggunakan fitur AI untuk efek pada kamera. NPU 45+ TOPS dibutuhkan juga untuk generate gambar atau teks.
Keunggulan NPU 45+ TOPS
Beberapa keunggulan laptop yang dilengkapi NPU 45+ TOPS yaitu; bisa menghasilkan komputasi terbaik. Adapun ASUS laptop AI yang sudah mempunyai 45+ TOPS terdiri dari series; ASUS Vivobook, ASUS Zenbook dan ASUS Pro Art.
Durasi keawetan baterai laptop advanced AI ini bertahan +/- 10 jam tanpa isi ulang daya.
Istimewanya pengguna bisa mendapat akses ke berbagai ASUS AI Apps.
Adapun ragam ASUS AI Apps yang bisa digunakan secara eksklusif meliputi OMNI (Virtual Assistant) dan Muse Tree ini terdapat di series laptop ASUS Pro Art. Sedangkan ASUS AI Apps Story Cube terdapat pada series laptop ASUS Zenbook S14 OLED.

Kerja Cerdas Menggunakan ASUS AI
Sebelum mempunyai laptop advanced AI, aku sering melakukan brainstorming ide membuat video melalui Google, riset data atau menyusun naskah dari nol secara manual.
Tapi sekarang menggunakan AI cukup bilang, “Tolong buatkan naskah video review skincare, tone-nya santai tapi informatif” maka dalam hitungan detik draft akan tersusun .
Mau diedit? Tinggal kasih prompt. Semua cukup dari satu layar, satu asisten dan satu kali klik.
Buat kreator, ide itu berharga. Tapi seringnya ide datang dan pergi begitu saja. Story Cube pada laptop ASUS Zenbook S14 OLED bisa jadi solusi andalan untuk menyimpan ragam informasi atau jejak digital.
Story Cube ibarat lemari digital yang bisa otomatis mengorganisir ide – ide berbentuk apapun berdasarkan kategori, alur cerita, bahkan suasana emosional kontennya.
Jadi setiap setiap kali mempunyai potongan script, referensi visual, audio mentahan, atau catatan kecil yang belum selesai, maupun foto objek semua bisa dimasukkan ke dalam Story Cube.

Untuk edit foto dan video tinggal pakai aplikasi Capcut pada laptop dimana ini adalah salah satu aplikasi editing yang sudah memanfaatkan NPU 45+ TOPS
Pendinginan Sempurna untuk Stabilitas Performa
Di balik kecanggihan laptop berbasis Artificial Intelligence (AI) tersembunyi sebuah kenyataan ternyata penggunaan aplikasi AI membuat laptop menjadi boros daya baterai.
Hal ini bisa terjadi karena aplikasi AI tidak digunakan hanya untuk membuka data saja.
Aplikasi AI bisa menganalisis, memproses, dan membentuk hasil baru dari data tersebut.
Misalnya, fitur auto-enhance di aplikasi foto berbasis AI bisa menjalankan ratusan operasi kecil dalam hitungan detik. Sehingga semua dilakukan di dalam chip yang menyedot daya listrik cukup besar.
Belum lagi jika aplikasi – aplikasi ini terus berjalan di latar belakang. Seperti Co Pilot yang siaga setiap saat atau aplikasi kolaboratif dengan AI real-time yang menyimak dan menyesuaikan kerja pengguna.
Proses penggunaan aplikasi AI membutuhkan komputasi intensif. Akibatnya Neural Processing Unit (NPU), CPU, dan GPU bekerja secara bersamaan. Semakin besar beban kerja, semakin banyak energi yang dikonsumsi.
Untuk mensiasati hal tersebut ASUS Zenbook S 14 OLED (UX5406SA) dirancang dengan sistem pendinginan inovatif yang memastikan performa tetap optimal dan suhu terjaga meski dalam bodi tipis dan premium.
Laptop AI ini dilengkapi dengan vapor chamber ultra-tipis serta dua kipas IceBlade yang memungkinkan pendinginan efisien tanpa bising.
ASUS bahkan menerapkan teknologi ventilasi grille geometris yang unik di atas keyboard untuk meningkatkan aliran udara sehingga sistem pendinginannya yang dapat bekerja di bawah 25dB.
Sistem pendinginan canggih ini membuat Zenbook S 14 OLED (UX5406SA) tetap nyaman digunakan bahkan dalam beban kerja intensif.

Laptop AI Ringan Baterai Tahan Lama
Menggunakan Zenbook S 14 OLED (UX5406SA) , aku dibikin takjub bukan cuma kecepatannya, tapi seberapa hening laptop ini bekerja. Padahal aku sedang menjalankan proses beban kerja berat sekaligus.
Biasanya laptop dengan baterai tahan lama akan membuat bobot laptop secara keseluruhan menjadi berat. Namun hal ini tidak berlaku pada laptop Zenbook S 14 OLED (UX5406SA)
Bobot laptop Zenbook S 14 OLED (UX5406SA) sangat ringan yaitu seberat 1.2 kg dengan ketebalan hanya 1.29 cm. Untuk materialnya, laptop ini terbuat dari bahan bahan khusus yaitu ASUS Ceraluminum™.
Selain itu meskipun sibuk memproses AI dan editing, daya tahan baterainya bisa sampai (+/-) 10 jam tanpa isi ulang dengan spesifikasi 72WHrs, 2S2P, 4-cell Li-ion. Laptop ini memang dirancang bukan sekadar untuk kerja, tapi untuk kerja lebih pintar.

Visual Nyata dari Layar
Layar Zenbook S 14 OLED (UX5406SA) menggunakan panel ASUS Lumina OLED berukuran 14 inci dengan resolusi 3K (2880 x 1800) OLED Touchscreen, 16:10, 120Hz, 500 nits.
Warna-warnanya begitu kaya, kontras nya tajam, dan kedalaman hitamnya benar-benar pekat. Bukan hitam kebiruan seperti di layar laptop biasa, tapi hitam yang benar-benar gelap, mendalam, dan elegan.
Untuk seorang kreator visual seperti aku yang sering mengedit foto, membuat video, dan merancang storyboard, ini bukan sekadar layar namun menampilkan warna sesuai kenyataan.
Hal ini bisa terjadi karena panel ini sudah mengantongi sertifikasi Display HDR™ True Black 500 dan 100% DCI-P3. Bahkan sudah tervalidasi oleh Pantone® TÜV Rheinland-certified, stylus support
ASUS juga menggunakan Teknologi low blue light yang tersertifikasi TÜV Rheinland supaya pengguna bisa menatap layar berjam-jam tanpa mata terasa lelah atau perih.
Adanya Teknologi low blue light yang tersertifikasi TÜV Rheinland membuat aku bisa mendapatkan tontonan hiburan film melalui layar Zenbook S 14 OLED (UX5406SA) dengan warna presisi tanpa bikin sakit mata.
Selain itu aku juga merasa nyaman ketika bisa mengedit konten, atau membuat slide presentasi dengan akurasi warna tanpa harus lagi menebak-nebak apakah warna merahnya terlalu jingga, atau birunya terlalu pucat.

Audio Terdengar Jernih
Saat sedang mengerjakan editing video aku terbiasa menyalakan channel musik yang mengalunkan nada lagu favorit.
Hanya saja ketika mendengar suara yang keluar dari speaker ASUS Zenbook S 14 OLED (UX5406SA), aku seperti sedang duduk di tengah orkestra.
Jernihnya suara musik dan lagu, buat aku terdengar seperti bisikan vokal penyanyi yang hadir tepat di samping telinga.
Ternyata kejernihan suara pada Zenbook S 14 OLED (UX5406SA) ini karena dibekali sistem audio bersertifikasi Smart Amp Technology, harman/kardon certified built-in 4 speaker, Built-in array microphone dan mendukung teknologi Dolby Atmos.
Sedangkan pengalaman audio yang kurasakan jika tanpa menggunakan headphone maka speaker bawaan dari Zenbook S 14 OLED (UX5406SA) sudah sangat impresif untuk kelas laptop ultra-tipis.
Letak speaker yang strategis dan tuning-nya yang presisi membuat suara tetap hidup, bahkan saat volume diturunkan.

Spesifikasi Zenbook S 14 OLED (UX5406SA)
Sebagai laptop moderen dengan dukungan kecerdasan buatan atau AI, Zenbook S 14 OLED (UX5406SA) tersedia dalam warna menarik yaitu; Zumaia Gray dan Scandinavian White.
Untuk kenyamanan pengguna Zenbook S 14 OLED (UX5406SA), diberikan 2 Tahun Garansi Global dan 1 Tahun ASUS VIP Perfect Warranty. Berikut spesifikasi lengkapnya;

Kesimpulan
Jika dulu sebuah ide hanya bertahan di kepala karena keterbatasan alat, kini semuanya bisa diwujudkan berkat kekuatan AI yang terintegrasi langsung di laptop. Cerita kolaborasi ide dan kerja cerdas bisa terwujud dengan cepat.
Performa NPU 45+ TOPS bukan sekadar angka melainkan jalan keluar menuju efisiensi, kecepatan, dan kemungkinan yang tak terbatas.
ASUS Zenbook S 14 OLED (UX5406SA) bukan sekedar laptop namun juga berfungsi sebagai ruang kerja, studio kreatif, sekaligus partner brainstorming paling visioner yang pernah aku punya.
Karena itu saat ide bertemu kecerdasan buatan dalam ASUS Zenbook S 14 OLED (UX5406SA), dunia tak lagi punya batas.
Artikel ini diikutsertakan pada Lomba Blog ASUS 45+ TOPS Advanced AI Laptop yang diadakan oleh Travelerien
