
Literasi digital di antara lintas generasi meninggalkan jejak digital. Terkecuali bagi mereka yang benar-benar tidak pernah bersentuhan dengan teknologi.
“Gajah mati meninggalkan gading. Harimau mati meninggalkan belang. Manusia mati meninggalkan jejak digital.”
Daftar Isi
Perkembangan Teknologi Digital
Peralihan teknologi dari analog menjadi digital tidak dapat dihindari saat ini. Lintas generasi yang masih ada, ikut menikmati perkembangan teknologi digital hampir disemua bidang.
Teknologi memudahkan segalanya. Menjadikan yang jauh menjadi dekat hanya dalam hitungan sepersekian detik. Hal yang utama adalah penyebaran informasi. Keluar masuknya arus informasi menggunakan teknologi digital sangat cepat bahkan tanpa kita sadari informasi yang belum sepenuhnya dipahami dapat menjadi bias karena datang lagi informasi baru.
Pengertian Literasi Digital
Literasi digital adalah ketertarikan individu menggunakan teknologi digital untuk mengakses informasi menggunakan perangkat digital guna dianalisa kemudian diimplementasikan menjadi sebuah tindakan dalam kehidupan sehari-hari.
Keberadaan manusia di dunia tidak bisa lepas dari informasi. Adapun sumber informasi selain mendengar secara langsung, mendengar tidak langsung lewat diceritakan kembali sampai membaca melalui berbagai piranti media.
Penerapan Literasi Digital pada Lintas Generasi
1.Generasi “Baby Boomers“
Lintas Generasi dipengaruhi tahun kelahiran. Untuk yang lahir setelah selesainya perang dunia ke dua sampai akhir tahun 65′ dikenal sebagai generasi “Baby Boomers”. Angka kelahiran bayi sangat tinggi sehingga terjadi ledakkan penduduk yang saat ini menyisakan banyak orang usia lanjut.
Mereka ini termasuk orang tua atau kakek nenek kita. Generasi ini masih menjunjung tinggi nilai filosofi kehidupan jaman dahulu namun sedikit “terpaksa” mengenal piranti teknologi masa kini. Sebagian ada yang antusias mempelajari sampai yang bersikukuh menolak sehingga kerap dibilang generasi “gaptek” atau gagap teknologi.
Penerapan literasi digital pada generasi baby boomers, dipengaruhi cara menggunakan media sebagai alat bantu mendapatkan informasi. Karena tidak semua familiar dengan piranti teknologi digital, maka proses mengolah informasi pada generasi ini penuh kehati-hatian dan membutuhkan waktu lebih lama.
Kelebihannya pada generasi ini mereka lebih kalem dan tenang dalam menerima kejutan informasi yang datang dengan cara apapun. Hal ini ditunjang masih eratnya hubungan antar personal dimana mereka lebih senang meluangkan waktu untuk berinteraksi dan berdiskusi mengenai informasi yang didapat dengan teman sebaya atau kerabat di lingkungan sekitar. Kekurangannya mungkin mereka menjadi lebih sering ketinggalan informasi karena banyak yang bergantung pada piranti media konvensional seperti media cetak, televisi dan radio.
2. Generasi “X“
Generasi “X” lahir pada tahun 1965- 80’an. Tingkat kelahiran bayi mulai dibatasi sehubungan dengan terjadinya ledakan penduduk. Penemuan alat kontrasepsi membuat kelahiran generasi “X” menjadi generasi yang memiliki cukup perhatian dari kedua orang tua sehubungan dengan luangnya waktu untuk mendidik anak-anak. Generasi ini tumbuh dengan rasa optimis yang besar sehingga mempunyai kemauan untuk mempelajari apa saja dengan tekun dan ulet.
Literasi digital di antara lintas generasi “X” terjadi pada pada masa peralihan teknologi analog menjadi teknologi digital. Kemampuan menyerap berbagai informasi dari generasi ini membuat literasi digital berkembang pesat penggunaanya. Banyak kalangan dari generasi “X” akrab dan tidak canggung menggunakan piranti digital untuk mencari informasi.
Sebagian generasi “X” lihai dalam mencari informasi melalui piranti digital tetapi kurang dalam menganalisa keabsahan informasi yang didapatkan. Rasa ingin menjadi yang pertama sebagai pemberi sumber informasi menyebabkan banyak terjadi penyebaran informasi dimana informasi tersebut belum matang atau belum dapat dipastikan kebenarannya.
3. Generasi “Y”
Dikenal sebagai generasi milenial yang lahir tahun 1981 – 95′, generasi”Y” mempunyai tujuan menyeimbangkan antara hobi dan pekerjaan. Literasi digital yang ada pada generasi ini sangat baik dan dapat diandalkan. Generasi ini cenderung mengabaikan informasi yang belum jelas dan menganalisa dengan cepat limpahan informasi yang datang.
Generasi “Y” dapat menjadi penentu apakah informasi yang datang pada mereka akan diteruskan karena mengandung kebenaran atau akan ditelisik untuk menunjukkan pada publik bahwa rangkaian informasi ini hanya rekayasa semata. Generasi ini tumbuh dengan nilai persamaan hak asasi dan menjunjung tinggi kesetaraan. Literasi digital benar-benar dimanfaatkan generasi “Y” untuk berbuat maksimal dalam membantu sesama.
Kekurangannya generasi ini sangat cepat bosan mengerjakan sesuatu yang monoton. Hal ini dipengaruhi dengan kebiasaan mereka dalam berliterasi digital. Piranti lunak sebagai alat literasi digital membuat mereka menyukai bahan bacaan yang tidak terlalu panjang dan langsung pada inti persoalan.
4. Generasi “Z”
Generasi yang lahir pada tahun 1996 – 2010 adalah generasi “selfie” atau pendamba popularitas. Mengingat generasi ini haus perhatian dari orang sekitar maka mereka senantiasa mencari perhatian dengan berusaha eksis di media sosial. Berbagai kegiatan sehari-hari dipamerkan, diperlihatkan dan ditunjukkan kepada “follower” sebutan bagi pengikut setia supaya mendapatkan like atau komentar serta pujian.
Penerapan literasi digital mulai mengalami pergeseran makna. Generasi ini mulai memilah literasi digital sebagai sumber informasi jika bermanfaat meningkatkan kepopuleran mereka. Mereka dapat abai jika informasi dari literasi digital hanya berupa berita atau informasi yang sama sekali tidak berdampak pada tingkat kepopuleran mereka.
5. Generasi “Alpha”
Generasi ini lahir pada tahun 2011 – hingga saat ini. Generasi yang dari lahir sudah lekat dengan teknologi ini, menjadikan mereka sebagai manusia yang hampir sebagian besar bergantung menggunakan piranti digital. Kelemahan generasi ini, mereka kurang bisa menerapkan apa yang mereka baca dalam literasi digital pada kehidupan sehari-hari khususnya hubungan dengan sesama manusia. Generasi ini terlihat sibuk “menundukkan kepala” dan asyik dengan dunia maya sampai tak menghiraukan keberadaan orang lain disekitar dirinya.

Yang terlihat nyata terasa maya dan yang terlihat maya terasa nyata. Begitulah prespektif generasi “Alpha” yang lekat dengan piranti digital. Pemahaman literasi digital hanya sebatas menguasai pemakaian piranti namun kurang dapat menerapkan secara humanis pada kehidupan sehari-hari di dunia nyata.
Penerapan literasi digital secara bijak.
Tidak ada yang salah dengan teknologi. Semua bergantung pada sang pemakai. Saring sebelum sharing adalah makna dari literasi digital berkaitan dengan penyebaran informasi. Kemampuan menggunakan piranti digital hendaknya diimbangi dengan kemampuan menganalisa dan memahami makna dari apa yang tertulis. Salah satu cara dengan membaca berbagai artikel bermanfaat di link Klub Blogger dan Buku https://kubbu.net/.
Bijak dalam berliterasi digital akan membuat suasana dunia menjadi lebih humanis. Salah satu cara yang paling ampuh dengan mendiskusikan hasil bacaan literasi digital ke jejaring pertemanan di dunia nyata untuk didiskusikan, dicari validitas kebenarannya dan diimplementsikan kedalam kehidupan nyata dengan mengusung nilai-nilai kebaikan.
Dunia yang semakin menua seharusnya menjadi tempat yang nyaman bagi para penghuni dengan semangat perubahan humanis dari apa yang dibaca, dilihat dan didengar. Bergabung dengan komunitas literasi seperti Kubbu bpj yang sedang merayakan KARNAVAL atau Karya Tahunan-Festival Literasi dengan berbagai lomba dapat menambah wawasan dan pengetahuan mengenai dunia literasi digital. Selamat berliterasi digital dengan bijak.
Salam Literasi Digital.

saya berarti masuk Generasi Y ya. Gak kudet-kudet bangetlah sosial perkembangan Digital hehe.
saya berarti masuk Generasi Y ya. Gak kudet-kudet bangetlah soal perkembangan Digital hehe.
Generasi Y cenderung mengabaikan informasi yang belum jelas dan menganalisa dengan cepat limpahan informasi yang datang. Itu sangat betul, saya sendiri pria kelahiran 94 yang tidak langsung makan info mentah” yang saya dapat dari Internet.
Karena hidup di zaman sekarang banyak sekali manipulasi digital yang harus kita waspadai.
Nah, ini bener banget, manusia mati meninggalkan jejak digital. Sayangnya jejak digital yang kita tinggalkan tidak selalu positif. Kita harus hati-hati banget sebelum mengunggah atau membagikan tulisan, gambar, maupun video.
Sekali terunggah, maka media digital sangat bisa menjadi Massive (menyebar dengan sangat cepat), Exhalative ( berubah bentuk atau format), dan Eternity (bersifat “abadi”). Begitu kata narasumber dalam sebuah seminar yang saya ikukti 🙂
Betul kak jejak digital akan abadi dan terkenang selamanya..perlu dipikirkan secara matang sebelum kita mengunggah sesuatu di medsos karena sekali terupload sudah tidak bisa dihapus lagi.
Wow. Materi tulisan yang bagus!.
Sebagai orang tua dari anak generasi Alpha, generasi yang sudah lekat dengan gadget dan internet sejak mereka masih janin (diupload hasil USG-nya ke IG ama bundanya, misalnya). maka harus lebih menarik anak2 Aplha tadi ke dunia nyata.
Misalnya menggabungkan antara sumber pengetahuan bacaan online, untuk tetap didiskusikan secara offline dengan teman2nya., seperti apa yg tertulis.
Benar, di dunia nyata adalah implementasi informasi hasil dari membaca ..maka sebelum diimplementasikan diskusi dahulu dengan teman atau yang mempunyai pengetahuan tentang yang akan kita diskusikan sehingga informasi tersebut dapat di pastikan tingkat kebenarannya.
Saya masuk yg cepet bosenan… Gen Y .. ya gitulah… kalau ga mencoba sesuatu yang baru dan progresif… kurang afdol
Saya juga tipe yang cepat bosan dan kurang menyukai sesuatu yang dikerjakan rutinitas berulang,,mungkin karena banyak pemandangan baru yang tersaji di piranti digital sehingga konsentrasi kita gampang teralihkan.
Anak saya generasi Alpha semua. Sebelum mereka pada besar, emaknya harus sudah expert soal literasi digital. Jika tidak, kelimpungan nanti mengasuh anak di usia remaja dan seterusnya. Hehehe
Susah-susah gampang ya mbak jadi ortu jaman now. Ortu dituntut selain jadi sosok yang dituakan, sosok ibu dan ayah juga harus dapat jadi sosok teman sebaya sehingga jika anak punya masalah akan mencari ortu untuk berdiskusi bukan mencari solusi di dunia maya.
Penting banget sih untuk saling belajar tentang literasi digital di lintas generasi, karena seperti tulisan di atas, masing-masing generasi punya pandangan sendiri tentang literasi digital terkait dengan masa mereka dibesarkan. Ini juga mungkin perlu diperhatikan bagaimana memberikan edukasi pada lintas generasi tidak bisa disamaratakan, harus ada pendekatan yang berbeda agar literasi digital benar-benar sesuai dengan yang diinginkan
Betul pendekatan nya harus di lakukan secara berbeda karena kemampuan dan kebutuhan lintas generasi berbeda walaupun mau tidak mau semua generasi harus dapat beradaptasi dengan perubahan teknologi termasuk literasi digital.
Anak saya masuk ke generasi alpha. Benar, kelemahan mereka ada pada respon motorik yang kadang butuh banyak diarahkan. Ditambah pula persentuhannya dengan dunia nyata kurang banyak akibat terlampau sering di depan layar gawai.
Kalau saya setiap weekwnd adalah waktu free gadget..ponakan saya yang generasi alpha saya ajak berkegiatan di taman kota apakah sekedar olah raga, atau melihat kegiatan lain yang tersaji di sana atau bermain alat permainan yang menggunakan fisik seperti perosotan . jungkat-jungkit dsb. Hasilnya mereka akan berkeringat dan kemampuan motorik terlatih.
Digitalisasi memang harus terjadi dengan digitalisasi semua dapat mengakses dan menerima informasi entah baik atau buruk, sebelum berasumsi macam2 atau malah menyebarkan berita hoax maka kita harus dapat Menganalisa berita yang diterima. Makasih kak sharingnya jadi tau aku masuk generasi mana nie wkwkwk
Wah masuk generasi mana nih kak?? jadi kepo nih..tapi apapun generasinya tetap berusaha memanfaatkan kemajuan teknologi terutama literasi digital dengan bijak.
Jaman sekarang, kalau nggak mau kenal dengan literasi digital, pasti akan ketinggalan banyak informasi dan hal bermanfaat lainnya. Era digital emang harus disikapi dengan bijak, ada sisi baik dan ada pula sisi buruknya.
Karena informasi melalui literasi digital lebih cepat walaupun terkadang keabsahannya masih belum matang.
Wih, aku masih termasuk generasi milennial dong ya? 😀 btw bener juga yaa manusia jaman now mati meninggalkan jejak digital, jadi better hati-hati yaa jejak digitalmu harimaumu dong ya kak? Ini terus aja bales2an pepatah. Nice artikelnya, jadi dapat insight secara anakku generasi Alpha.
Nah iya jadi relevan ya pepeatah tersebut…karena kita tidak melihat ekspresi orang ketika menyampaikan pendapat di dunia maya jadi terkadang suka salah persepsi sehingga banyak miss informasi dan jadi bumerang buat yang menyebarkan informasi yang belum matang
Saya generasi X yang mengasuh generasi Z dan Alpha. Lintas generasi banget. HIhihi. Tapi asyik juga sih. Saya juga belajar tentang Literasi digital agar tidak kalah pada gawai di genggaman dan tersesat di dunia digital. Dan saya berusaha memastikan anak juga demikian. Memang agak sulit, sih… karena sudut pandang berpikir kami beda
Saya generasi Y, anak saya generasi Alpha hehe… Literasi digital penting sekali dipahami. Agar tidak terbawa arus informasi yg bs² menyesatkan kl gak melek literasi. Tfs yaa
Generasi baby boomer adalah yg paling sulit membedakan mana informasi valid, mana yg hoax. Mereka cenderung percaya bahwa semua yg mereka baca adalah kebenaran yg perlu disebarluaskan
Mungkin karena keterbatasan mereka menggunakan piranti teknologi kak, sehingga cara check dan riceknya kalah cepat dengan derasnya informasi yang sangat cepat dan tidak bisa dihindari.
sayangnya, sebagai buntut/negara berkembang, kita kekurangan waktu. Saat beralih dari budaya lisan ke teks, kita belum ajeg, eh udah datang budaya digital. Jadinya, bahaya banget. Kita berada di lautan informasi, tapi banyak yang nggak bisa berenang. Jadinya tenggelam.
Harus ada pengawasnya sepertinya ya kak. Kalau dikolam renang ada pengawas kolam renang, kalau di rumah tangga atau lingkungan sekolah ya orang tua atau guru lah pengawas yang dapat memberikan pengertian sejak dini melalui literasi digital pada generasi muda supaya bijak dalam menerima informasi.
Literasi digital itukan pemanfaatan teknologi untuk mendapat informasi2 atau ilnu bermanfaat yaa..
Giman pendapatnya kak sama konten2 kurang berisi yg ada di youtube. Itu kan media buat berliterasi juga
Literasi digital itu cara mendapatkan informasi dengan membaca kak melalui media melalui piranti digital, kalau kontent youtube itu pemaknaan terhadap sesuatu yang bergerak atau aksi motorik, gerak tubuh, suara, yang dinarasikan sedemikian rupa untuk mempengaruhi persepsi penonton. Menurut saya jika seseorang terbiasa menggunakan daya analisa nalar kritisnya dan melakukan evaluasi ketika memaknai suatu tulisan maka biasanya orang tersebut akan dapat mengabaikan jika melihat konten youtube yang kurang bermakna. Yang gawat jika seseorang lemah dalam memaknai suatu bahan tulisan dan malas menggunakan analisa dalam mencari makna maka ia akan menelan mmentah-mentah tanpa proses pemaknaan lebih dalam bahkan ia akan menganggap itu adalah kebenaran nyata yang benar adanya.
Jaman sekarang manusia yang meninggal kebanyakan meninggalkan jejak digital yah,mbak. Saya termasuk generasi Y memang banyak memanfaatkan teknologi digital untuk membagikan informasi-informasi melalui bermacam platform. Era digital gini harus cerdas pastinya menyaring informasi dan tentu harus paham literasi agar gak asal share berita bohongan.
Setuju kak, saya sendiri membatasi membagikan sesuatu yang bersifat informasi pribadi di sosial media. Sepertinya era narsisme untuk saya sudah selesai hehe ..saya lebih suka membagikan konten prestasi lomba saja siapa tau bisa menginpirasi banyak orang.. hehehe. Sekaligus meninggalkan jejak digital positif jika saya kelak sudah tiada.
aku termasuk generasi Y tapi ya masih bisa mengimbangi, dan sering aku lihat disekitar memang benar adanya untuk generasi z dan alpha ini hampir 70% hidupnya ketergantungan pada gawai.
Sering nih lihat di restaurant mall satu keluarga menghadap meja makan tapi masing-masing sibuk dengan gawainya.. hehe pemandangan yang bikin miris deh mbak,, sepertinya dunia maya lebih penting dari dunia nyata.
Saya anggota Gen Y, adik saya ada yang Gen Y, Gen Z dan Gen A. Memang terlihat betul beda tingkat keterikatannya dengan gadget. Cuma ya tak masalah sih main gadget asal yang dikonsumsi itu produk literasi digital yang baik.
Betul kak , kemajuan teknologi digital seharusnya membawa rahmat bagi peradaban manusia ya.. Salh satu cara ya dimulai dengan literasi digital dengan bijak yang diperkenalkan sejak dini.
Sekarang udh generasi Alpha aja yah. Gen Milenial bentar lagi digantiin gen Y. Tiap generasi punya pemahaman sendiri ttg literasi digital. Nah, ini info² yg tersebar hrs dipilah, jangan asal share…
Nah benar bijak berliterasi adalah salah satu cara untuk mensiasati derasnya informasi yang masuk , saring sebelum sharing menjaga kita untuk berpikir sebelum bertindak agar tidak sesal kemudian.
“Manusia mati meninggalkan jejak digital” sepertinperingatan agar lebih hati-hati dalam menyebarkan informasi apa pun, karena itu bakal panjang usianya dan bisa diingat kembali, serta ditemukan anak cucu kelak
mamah milenial, anak alpha, eyangnya baby boomers. wadidaw. memeang harus bijak nih lintas generasi ya mbak