
Kegiatan makan bersama di siang hari ternyata menjadi tradisi pada sebagian keluarga Indonesia dan masih ada sampai hari ini.
Tradisi makan siang Indonesia tersebut dirayakan dalam ruang-ruang keluarga yang penuh kebersamaan dan kehangatan.
Di balik kepulan aroma nasi hangat dan hiruk-pikuk dapur pada kenyataannya tersimpan kisah panjang tentang identitas, kebersamaan dan warisan budaya yang tak ternilai.
Buku “Tradisi Makan Siang Indonesia: Khazanah Ragam dan Penyajiannya” hadir bukan sekadar sebagai kumpulan resep atau catatan kuliner, melainkan sebagai upaya merawat rasa lewat aksara.

Daftar Isi
Tradisi Makan Siang Indonesia
Rangkuman kegiatan makan siang berhasil dituliskan oleh penulis-penulis yang senang dan akrab dengan dunia kuliner.
Ada kisah dan memori yang tertuang dalam setiap lembaran tulisan. Ada makna yang tersirat dalam setiap cerita.
Bagi saya pribadi, terlibat sebagai salah satu penulis dalam buku ini adalah sebuah kehormatan sekaligus tanggung jawab.
Setiap kalimat yang dituliskan bukan hanya merekam rasa dari setiap hidangan tetapi merekam cerita orang-orang di baliknya.
Cerita tentang bagaimana tangan-tangan bisa dengan cinta, tentang meja makan yang menjadi ruang berbagi serta tentang tradisi yang diwariskan lintas generasi.

Ingatan Kolektif Lintas Zaman
Di sinilah saya belajar bahwa menulis tentang makan siang bukan sekadar soal menu tetapi tentang menjaga ingatan kolektif agar tetap hidup di tengah zaman yang terus bergerak.
Dalam buku ini tersaji 40 tulisan dari 17 provinsi di 8 pulau. secara keseluruhan isi buku ini menghadirkan potret kuliner Nusantara yang begitu beragam.
Ada juga resep turun-temurun, teknik memasak khas, pilihan wadah penyajian, hingga cara menyantapnya.
Semua itu membentuk narasi yang menghidupkan kembali makna makan siang dalam keseharian masyarakat Indonesia.
Berikut adalah rangkuman beberapa kisah dalam Buku “Tradisi Makan Siang Indonesia: Khazanah Ragam dan Penyajiannya”

Potret Dapur Nusantara Tanah Jawa
Dalam salah satu bagian dari isi buku ini, saya menuliskan tentang Garang Asem Ayam kampung dari tanah Jawa yang mempunyai rasa segar serta asam pedas menggugah selera.
Selanjutnya ada Sayur Lodeh yang hangat dan menenangkan dengan kuah santannya yang gurih. Terakhir ada Botok Kelapa Teri yang sederhana namun kaya cita rasa.
Tak kalah berkesan adalah kisah pribadi keluarga besar saya tentang tradisi makan siang liwetan saat menyambut tahun baru.
Liwetan awal mulanya berasal dari Solo dan digunakan untuk acara jamuan yang dihadiri raja – raja saja. Seiring berjalannya waktu tradisi liwetan mulai merakyat dan bisa dilakukan siapa saja untuk merayakan sesuatu yang dianggap sakral atau istimewa.
Salah satu momen istimewa yang dirayakan menggunakan liwetan di keluarga besar saya adalah perayaan awal tahun baru. Menurut nenek saya, makna dari tradisi liwetan sebagai penanda rasa syukur karena sudah berhasil melalui perjalanan dalam satu tahun ke belakang dan bersia menyambut tahun yang akan datang.
Pada akhirnya liwetan bukan sekadar cara makan melainkan cara merayakan kebersamaan, menutup tahun dengan penuh kehangatan dan menyambut harapan baru dalam suasana yang begitu membumi dan penuh makna.

Nasi Tumpeng, Sumber Keberkahan
Nasi tumpeng yang berasal dari tanah Jawa saat ini sudah menjadi makanan nusantara yang sarat makna.
Nasi berwarna kuning kunyit ini berbentuk kerucut dan dijadikan simbol hubungan manusia dengan Tuhan YME serta lambang keberkahan bagi semua. Makna nasi tumpeng sebagai ungkapan syukur terhadap berkah yang diterima.
Tradisi makan nasi tumpeng biasanya dilakukan saat perayaan syukuran kelahiran anak atau bertambahnya usia seseorang sampai syukuran dari awal kegiatan baru yang akan dijalankan.
Cerita Nasi Tumpeng dikisahkan apik oleh seorang Food Blogger dari Tanjung Pinang bernama Dwi Citra Yuliana Pandiangan.
Palembang Punya Cerita Ngidang
Kota Palembang adalah kota kelahiran kedua saya karena pernah tinggal selama 10 tahun pada saat usia kanak-kanak. Namun saya pribadi baru mengetahui jika di Palembang ada tradisi makan siang bernama “Ngidang”.
Cerita Ngidang tersaji apik dalam buku “Tradisi Makan Siang Indonesia: Khazanah Ragam dan Penyajiannya” yang ditulis oleh Deddy Huang seorang Blogger dan Foodie.
Ngidang sendiri adalah sebuah tradisi makan yang diwariskan dari kesultanan Palembang Darussalam. Dalam Ngidang terdapat 9 makanan utama terdiri dari 1 nampan nasi dan 8 lauk pauk.
Uniknya ada tambahan potongan buah – buahan untuk pencuci mulut seperti cara makan moderen saat ini.
Banjar, Kalimantan Selatan dan Sejuta Kenangan
Salah satu makanan khas Banjar, Kalimantan Selatan terdapat pada Soto Banjar. Keistimewaan Soto Banjar terletak pada kuah soto yang menggunakan susu evaporasi dan bumbu rempah melimpah.
Satu lagi yang menjadi ciri khas ternyata Soto Banjar dimakan bersama ketupat besar yang bisa disajikan dalam 10 porsi mangkok soto.
Cerita mengenai Soto Banjar sebagai tradisi makan siang ditulis oleh Dian Retno Megawati seorang Food Blogger dari Balikpapan.
Tak kalah menarik Banjar masih punya kuliner istimewa bernama “Nasi Kuning Masak Habang”.
Jika di tanah Jawa umumnya nasi kuning berbumbu kunyit, garam dan daun salam maka pada “Nasi Kuning Masak Habang” selain berlauk ayam dan telur juga dilengkapi ikan haruan yang akan dicampur pada bumbu nasi kuningnya.
Menariknya kebiasaan masyarakat Banjar dalam menyantap nasi kuning ini ternyata bisa disajikan untuk makan pagi, makan siang bahkan untuk makan malam sekalipun.
Cerita menarik “Nasi Kuning Masak Habang” ditulis oleh seorang Blogger bernama Maria Tanjung asal Surabaya.
Pengalaman menyantap masakan Banjar dikisahkan penulis karena pernah menghabiskan masa kecil di Banjar saat usia kanak-kanak.
Duduk Bersama, Makan Bersila dari Pontianak
Pontianak adalah sebuah di Kalimantan Barat yang ternyata mempunyai tradisi makan siang dengan cara “Duduk Bersama, Makan Bersila”.
Hidangan khas yang disajikan salah satunya “Ikan Baung Salai Masak Lemak”. Sebagai daerah dengan lintasan sungai terbanyak, Ikan Baung adalah ikan sungai yang menjadi hidangan harian warga Pontianak.
Ikan Baung Salai Masak Lemak sangat sesuai bagi pecinta makanan berkuah. Biasanya masakan ini cocok dipadukan dengan nasi dan tumis pakis dan ditambah sambal Cincalok pedas gurih. Demikian dikisahkan penulis bernama ” Agustinus Bertolomeus Eko Dony Prayudi” seorang Food Blogger.
Mnahat Feu dari Suku Timor NTT
Dari Indonesia Timur tepatnya di Kabupaten TTS, Provinsi NTT, ada tradisi makan siang saat musim panen bernama, “Mnahat Feu”. Ini adalah tradisi makan siang untuk perayaan hasil panen kebun yang baru dipanen.
Salah satu hidangan menarik pada tradisi ini bernama “Mak’sala”. Masakan ini sekilas mirip Bubur Manado dengan semua bahan berasal dari hasil kebun sendiri.
Menariknya cara memasak “Mak’sala” masih menggunakan tungku kayu api dan jika sudah matang akan disajikan dengan daun “Sipa” sebagai garnish.
Demikian diceritakan penulis bernama “Jetriyanus Nino” seorang Guru, Pegiat Pangan Lokal dari Timor, NTT
Buku Eksklusif dan Premium
Buku “Tradisi Makan Siang Indonesia: Khazanah Ragam dan Penyajiannya” dicetak menggunakan kertas dove Paper One Eksklusif Premium.
Buku ini mempunyai halaman hampir 500 lembar. Buku bercover tebal berwarna kuning ceria dengan desain grafis tema kuliner ini dilengkapi dengan pembatas buku cantik.
Layout dan warna foto kuliner di buku ini dibuat berwarna cerah sehingga sangat menggugah selera dan rasa penasaran bagi yang membaca.
Menariknya buku ini dicetak secara bilingual atau dicetak dalam dua bahasa yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

Ucapan Terima Kasih
Menjadi sebuah kehormatan bagi saya ketika diajak menjadi kontributor dalam pembuatan Buku “Tradisi Makan Siang Indonesia: Khazanah Ragam dan Penyajiannya”.
Bagi saya pribadi, kesempatan ini bukan sekadar ruang untuk menulis melainkan sebuah kepercayaan untuk turut merawat jejak budaya yang hidup di tengah keseharian masyarakat.
Di antara ragam rasa, aroma dan cerita yang disajikan saya merasa menjadi bagian dari upaya kecil namun bermakna dalam mengabadikan tradisi yang sederhana namun sarat makna.
Sebuah kehormatan yang tidak hanya membanggakan melainkan juga menguatkan tanggung jawab untuk menulis dengan ketulusan dan cinta pada warisan bangsa.
Buku ini lahir dari kecintaan terhadap tradisi yang tumbuh di meja-meja makan kita. Setiap tradisi yang sering kali hadir begitu dekat terlihat sederhana dan nyaris luput dari perhatian.
Namun sesungguhnya tradisi tersebut menyimpan nilai kebersamaan identitas dan kearifan lokal yang luhur.

Raih Penghargaan Gourmand Awards
Buku “Tradisi Makan Siang Indonesia: Khazanah Ragam dan Penyajiannya” dinobatkan sebagai sebagai Best Book in the World dalam ajang “Gourmand Awards”, di Saudi Feast Food Festival di Riyadh, Arab Saudi, oleh President of Gourmand Awards Edouard Cointreau.
Buku bilingual dengan Amanda Katili Niode sebagai editor, dinilai sebagai buku yang dibuat dengan kedalaman riset dan bermakna kultural.
Setiap tahunnya, Gourmand menyelenggarakan simposium global di lokasi yang memiliki relevansi gastronomi penting, mempertemukan tokoh-tokoh diplomasi, kuliner, penerbitan dan budaya. Rangkaian acara penghargaan di Riyadh tahun ini dihadiri tamu dari 96 negara.
Testimoni Penggiat Kuliner
Buku ini turut mendapat testimoni dari para pegiat kuliner serta sambutan dari sejumlah tokoh. Di antaranya Direktur Penganekaragaman dan Konsumsi Pangan Badan Pangan Nasional – Rinna Syawal, S.P., M.P., Penasihat Utama Menteri Kehutanan RI – Silverius Oscar Unggul dan Prof. Ken Albala seorang pakar kuliner dari Amerika Serikat (AS) yang telah menulis 30 buku.
Epilog dan dukungan berikutnya juga diberikan oleh Travel & Food Blogger, KOL Manager dan Digital Creator – Katerina; Chef Pemilik Dapur Larisan – Tia Agustiah; Komunitas Jalansutra – Lidia Tanod; Pendiri Roemah Indonesia – Dindin Mediana; Food Photographer – Rika Dinarjanti; Parara Indonesian Ethical Store – Crissy Guerrero.
Terwujudnya Buku “Tradisi Makan Siang Indonesia: Khazanah Ragam dan Penyajiannya” tidak lepas dari peranan Amanda Katili selaku Editor dan Ketua Omar Niode Foundation bersama Nusa Indonesian Gastronomy Foundation.
Selain itu sebagian besar kontributor termasuk saya adalah anggota dari Komunitas Food Blogger Indonesia yang diajak bekerjasama menjadi kontributor dalam pembuatan buku ini.
Semoga buku ini menjadi jejak kebaikan yang terus lestari, sekaligus menjadi awal dari kerja-kerja budaya berikutnya yang lebih bermakna dan berkelanjutan.

Seneng banget bisa berpartisipasi menyumbangkan satu tulisan di buku ini. Semoga kenangan saya akan Choi Pan Tjhia di Singkawang menjadi tulisan yang bermanfaat bagi siapapun yang ingin menelusur betapa beragamnya dunia kuliner nusantara. Termasuk asupan akulturasi di artikel yang saya sematkan.
Aku juga ikut senang bisa berkontribusi dalam penulisan buku ini. Makasih mba Bayu sudah dituliskan review singkatnya