Female Digest Genap Satu Dekade, Hadirkan Pemimpin Perempuan Inspiratif dalam Satu Panggung

Di tengah derasnya arus informasi digital, kehadiran media yang tidak hanya menyampaikan berita tetapi juga membangun ruang aman bagi perempuan menjadi sebuah kebutuhan.

Selama satu dekade terakhir, Female Digest hadir sebagai media online dan komunitas yang secara konsisten menyuarakan isu perempuan, pemberdayaan, gaya hidup, kesehatan, karier, hingga kisah-kisah inspiratif yang lahir dari pengalaman nyata perempuan Indonesia.

Pada tanggal 18 Juni 2026, bertempat di Gedung Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Female Digest merayakan perjalanan istimewa bertajuk “Women’s Voices Shaping the Future: Celebrating 10 Years of Female Digest.”

Keberhasilan event 1 dekade Female Digest turut mendapatkan dukungan dari beberapa sponsor seperti; Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), ZAP, Kartini Bluebird, Tropicana Slim, dan Uniqlo Indonesia

Perempuan, Potensi dan Perannya

Kegiatan satu dekade Female Digest, menghadirkan sejumlah pemimpin perempuan dari berbagai bidang yang membagikan pengalaman, tantangan, serta pandangan mereka mengenai kepemimpinan dan peran perempuan dalam pembangunan bangsa.

Meskipun berbagai kemajuan telah dicapai, perempuan masih menghadapi beragam tantangan dalam kehidupan sosial maupun profesional. Mulai dari kekerasan berbasis gender, stereotip kepemimpinan, kesenjangan kesempatan kerja, hingga minimnya ruang untuk menyampaikan aspirasi.

Permasalahan tersebut menjadi benang merah yang muncul dalam berbagai diskusi selama acara berlangsung.

Ketika Perempuan Masih Menjadi Korban Kekerasan

Narasumber pertama, Irjen Pol (Purn) Desy Andriani, Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan KPPPA, membuka diskusi dengan memaparkan perkembangan perlindungan perempuan di Indonesia.

Beliau menjelaskan bahwa angka prevalensi kekerasan terhadap perempuan menunjukkan tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir.

Meskipun demikian, pekerjaan besar masih menanti karena masih banyak perempuan yang belum berani melapor akibat rasa takut, tekanan sosial, maupun stigma yang berkembang di lingkungan sekitar.

Dalam sesi diskusi, beliau menyampaikan kalimat yang sangat menginspirasi:

“Perempuan tidak boleh merasa sendirian ketika menghadapi ketidakadilan. Negara hadir untuk melindungi, masyarakat harus mendukung, dan kita semua memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan yang aman.”

Kalimat tersebut mengingatkan bahwa perlindungan perempuan bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama.

KPPPA
Foto bersama Irjen Pol (Purn) Desy Andriani, Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan KPPPA | pribadi

Tantangan Membangun Media Perempuan

Persoalan lain yang muncul adalah masih terbatasnya media yang secara konsisten mengangkat perspektif perempuan secara mendalam.

Founder Female Digest, Ani Bertha, S.I.Kom., M.I.Kom., menceritakan bagaimana perjalanan panjang membangun Female Digest sejak tahun 2016.

Inspirasi tersebut lahir ketika beliau mengikuti kegiatan KPPPA di Yogyakarta. Dari pengalaman itu muncul kesadaran bahwa perempuan membutuhkan ruang untuk berbagi cerita, pengalaman, dan inspirasi.

Beliau mengenang awal perjuangannya:

“Saya percaya bahwa setiap perempuan memiliki cerita yang layak didengar. Ketika ruang itu belum banyak tersedia, maka kita harus menciptakannya sendiri.”

Sepulang dari Yogyakarta, beliau segera membeli domain dan hosting, lalu mulai membangun website Female Digest dari nol.

Perjalanan tersebut tentu tidak mudah. Membangun media digital memerlukan konsistensi, komitmen, serta keberanian menghadapi berbagai keterbatasan. Namun keyakinan bahwa suara perempuan harus terus hadir menjadi energi yang menjaga langkah tersebut selama sepuluh tahun.

Tantangan Memimpin Generasi Beragam

Permasalahan berikutnya muncul dalam dunia kerja modern. Feriani Cung, Chief Marketing Officer ZAP Clinic, mengangkat isu penting mengenai kepemimpinan lintas generasi.

Saat ini banyak organisasi memiliki anggota tim yang berasal dari berbagai kelompok usia, mulai dari Baby Boomers, Generasi X, Milenial hingga Generasi Z.

Perbedaan cara berpikir, pola komunikasi, dan nilai kerja sering kali menjadi sumber konflik. Namun menurut beliau, keberagaman tersebut justru merupakan kekuatan.

Dalam sesi berbagi pengalaman, beliau mengatakan:

“Jangan fokus pada perbedaan usia. Fokuslah pada kekuatan yang dimiliki setiap individu. Ketika semua orang merasa dihargai, kolaborasi akan tumbuh dengan sendirinya.”

Pernyataan tersebut memberikan perspektif bahwa kepemimpinan masa kini tidak lagi berorientasi pada instruksi semata, melainkan kemampuan membangun hubungan dan menciptakan sinergi.

Zap
Narasumber pada Event 10 Dekade Female Digest | pribadi

Minimnya Keterlibatan Perempuan dalam Pengambilan Keputusan

Masalah berikutnya berkaitan dengan keterwakilan perempuan dalam posisi strategis organisasi.

dr. Rooshardianti Suryandari, MBA, VP Learning and Development PT PELNI, menegaskan bahwa perempuan memiliki kapasitas yang sama untuk berkontribusi dalam pengambilan keputusan.

Beliau mengutip hasil penelitian McKinsey & Company yang menunjukkan bahwa perusahaan dengan keterlibatan perempuan yang tinggi dalam manajemen cenderung memiliki performa dan profitabilitas yang lebih baik.

Dalam paparannya beliau menyampaikan:

“Perempuan tidak hanya berhak duduk di meja pengambilan keputusan, tetapi juga mampu membawa perspektif yang memperkaya kualitas keputusan itu sendiri.”

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keberagaman gender bukan sekadar isu representasi, melainkan faktor strategis dalam meningkatkan kualitas organisasi.

Kolaborasi dan Keberanian Bersuara

Berbagai tantangan yang dihadapi perempuan tidak dapat diselesaikan secara parsial. Dibutuhkan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah, media, dunia usaha, akademisi, serta masyarakat. Adapun solusi untuk mengatasi tantangan yang dihadapi perempuan sebagai berikut;

1. Membangun Kesadaran dan Perlindungan

Upaya perlindungan perempuan harus terus diperkuat melalui edukasi, pendampingan, dan peningkatan akses terhadap layanan hukum maupun psikologis.

Suara perempuan harus didengar tanpa rasa takut dan tanpa stigma.

2. Menghadirkan Media yang Memberdayakan

Kehadiran Female Digest selama sepuluh tahun menjadi bukti bahwa media memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran publik.

Media tidak hanya berfungsi sebagai penyampai informasi, tetapi juga menjadi jembatan yang menghubungkan pengalaman, gagasan, dan harapan perempuan dari berbagai latar belakang.

3. Mengembangkan Kepemimpinan yang Adaptif

Perusahaan dan organisasi perlu membangun budaya kerja yang menghargai keberagaman generasi maupun gender.

Kepemimpinan yang efektif bukan lagi tentang siapa yang paling senior, melainkan siapa yang mampu memberdayakan orang lain untuk berkembang bersama.

4. Memberikan Kesempatan yang Setara

Perempuan perlu memperoleh akses yang sama terhadap pendidikan, pengembangan karier, dan posisi kepemimpinan.

Kesempatan yang setara akan membuka lebih banyak potensi yang selama ini belum terlihat dan memberikan manfaat bagi organisasi maupun masyarakat secara luas.

Uniqlo Indonesia
Hadiah dari Uniqlo Indonesia | pribadi

Suara dari Media Perempuan

Pada sesi penutup, Hanisah Sukmawati, S.E., Editor in Chief Female Digest, membagikan refleksi mengenai perkembangan media perempuan di Indonesia.

Menurut beliau, saat ini semakin banyak perempuan yang berani berbicara mengenai pengalaman, ketidakadilan, dan berbagai persoalan yang mereka hadapi.

Beliau menyampaikan kalimat yang sangat menyentuh:

“Ketika satu perempuan berani bersuara, ia memberi keberanian bagi perempuan lain untuk melakukan hal yang sama.”

Pernyataan tersebut menjadi simbol perjalanan Female Digest selama satu dekade sebagai ruang yang mendorong perempuan untuk berbicara, bertumbuh, dan saling menguatkan.

Kesan Sebagai Undangan Khusus

Sebagai salah satu tamu undangan khusus dalam kegiatan tersebut, saya merasakan atmosfer yang berbeda. Acara ini bukan sekadar seremoni peringatan hari jadi, melainkan sebuah refleksi tentang bagaimana suara perempuan mampu membentuk masa depan yang lebih inklusif, adil, dan berkelanjutan.

Menjadi bagian dari perayaan satu dekade Female Digest merupakan pengalaman yang sangat berharga. Saya tidak hanya mendapatkan wawasan baru dari para narasumber yang luar biasa, tetapi juga merasakan semangat kebersamaan yang kuat di antara perempuan dari berbagai profesi dan latar belakang.

Acara ini memberikan inspirasi bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Perjalanan Female Digest menjadi bukti nyata bahwa sebuah gagasan yang lahir dari kepedulian dapat berkembang menjadi gerakan yang memberikan dampak luas bagi masyarakat.

Selamat Ulang Tahun ke-10 Female Digest

Sepuluh tahun bukanlah perjalanan yang singkat. Di balik setiap artikel, komunitas, diskusi, dan program yang telah dilaksanakan, terdapat dedikasi luar biasa untuk menghadirkan perubahan positif bagi perempuan Indonesia. Selamat merayakan hari jadi yang ke-10 untuk Female Digest.

Terima kasih karena telah menjadi rumah bagi gagasan, ruang bagi keberanian, dan jembatan bagi harapan banyak perempuan.

Semoga Female Digest terus bertumbuh menjadi media yang semakin berdampak, semakin menginspirasi, dan semakin mampu menjangkau perempuan di seluruh penjuru Indonesia.

Please follow and like us:

ditulis oleh

Bayu Fitri Hutami

Seorang pembelajar yang bukan siapa-siapa melainkan seorang yang senang bercerita. Seorang yang suka menulis berdasarkan apa yang dilihat, didengar dibaca dan dialami untuk menjadi sebuah tulisan informatif. Semoga tulisan yang saya sajikan bermanfaat. Terima Kasih.