
Setiap tanggal 21 April di Indonesia dikenal sebagai Hari Ibu Kita Kartini.
Sosok Ibu Kartini dikenal dengan perjuangannya dalam memajukan hak perempuan dalam kesetaraan dan pendidikan.
Saat ini semangat Kartini tetap terus menyala terutama dalam hal melek finansial. Pada abad digital ini, perempuan pada akhirnya diharapkan lebih cerdas dan pintar dalam mengelola keuangan dirinya dan keluarga.
Tepat di Hari Ibu Kita Kartini 21 April 2026, saya mengikuti webinar dengan judul ” Literasi Tinggi Risiko Rendah” Kartini Modern, Melek Finansial.
Webinar kali ini dibawakan oleh narasumber Dedek Gunawan, S.E., M.A., CFP selaku Financial Planner & Founder PBP, Diana Anggraini, S.T., M.Si selaku Dosen LSPR Institute Of Communication & Business, Ruth Ninajanty, B.A selaku Community Development Manager Female Digest. Webinar ini diparkarsai oleh Female Digest dengan Founder Teh Ani Bertha. Beberapa sponsorship seperti Paragon Corp, Wardah Beauty, Nutrifood, Tropicana Slim, Perempuan Bantu Perempuan dan Female Digest ikut mendukung terselenggaranya webinar ini.
Di Era digital, perempuan semakin dituntut untuk mandiri, bukan hanya dalam hal karier atau pendidikan tapi juga dalam hal mengelola keuangan. Tidak sedikit perempuan yang bekerja keras dan berusaha memenuhi kebutuhan hidup keluarga.
Sayangnya tanpa pengetahuan yang cukup tentang literasi keuangan, pengelolaan uang menjadi tidak efisien dan cenderung berisiko.
Salah satu alasan mengapa perempuan perlu melek keuangan adalah karena biaya hidup perempuan yang lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki, serta usia hidup yang lebih panjang.
Selain itu, gaji perempuan seringkali tidak sebanding dengan inflasi. Hal ini membuat pengelolaan keuangan menjadi lebih menantang.
Masalahnya, banyak perempuan yang merasa tidak perlu mengembangkan pengetahuan mereka tentang literasi keuangan. Hal ini biasanya dipengaruhi oleh ketakutan terhadap angka dan kesalahan persepsi bahwa menabung saja sudah cukup.
Banyak perempuan yang belum sadar pentingnya literasi keuangan, atau merasa bahwa mereka sudah cukup hanya dengan menabung. Padahal, literasi keuangan mencakup lebih dari sekedar menabung.
Hal ini melibatkan pemahaman tentang bagaimana mengelola pengeluaran, investasi dan melindungi diri melalui asuransi dan dana darurat.
Ketika seorang perempuan hanya mengandalkan tabungan tanpa memiliki rencana keuangan yang lebih luas akan berisiko menghadapi kesulitan finansial terutama ketika harus menghadapi masa depan yang tidak pasti.
Selain itu, di era digital yang serba cepat ini, kebiasaan belanja online semakin berkembang. Hal ini memicu kebiasaan konsumtif yang kadang sulit dikendalikan.
Tanpa pengetahuan keuangan yang cukup maka belanja impulsif bisa terjadi kapan saja seperti percakapan berikut;
“Eh, coba lihat, diskon besar di sini!”
Padahal seringkali produk yang dibeli seringkali tidak benar-benar dibutuhkan dan akhirnya justru merugikan kondisi keuangan.
Bahkan pada akhirnya produk yang dibeli hanya memenuhi lemari penyimpanan sampai tidak pernah dipakai akibat tidak ingat kapan pernah dibeli dan untuk apa produk tersebut dibeli.
Sebagai perempuan yang ingin mandiri dalam pengelolaan keuangan, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan literasi keuangan.
Pertama, penting untuk memulai dengan merencanakan tujuan keuangan yang jelas. Mengatur tujuan keuangan bukan hanya soal menabung tetapi merencanakan bagaimana kita bisa mencapainya dan kapan kita ingin mencapainya. Dengan memiliki tujuan yang jelas, kita bisa fokus pada langkah-langkah yang perlu diambil.
Kedua, sebelum merencanakan investasi atau pengeluaran besar lainnya sebaiknya persiapkan dana darurat terlebih dahulu. Dana darurat berfungsi untuk melindungi kita dari situasi tak terduga. Sebagai contoh kehilangan pekerjaan, kecelakaan atau bencana lainnya. Selain itu, perlindungan asuransi juga sangat penting untuk menjaga keuangan keluarga apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Jadi sebelum berinvestasi atau berbelanja, pastikan ada perlindungan untuk kejadian yang tak diinginkan.
Tips Belanja Online Anti Boros
Selanjutnya tentang kebiasaan belanja online yang semakin populer dan menjadi gaya hidup. Untuk mensiasati hal ini supaya tidak menganggu pos keuangan lainnya maka dibutuhkan pendekatan yang berbeda dalam mengelola keuangan. Berikut tips belanja online anti boros
1. Masukkan Produk ke Keranjang dan Beri Waktu untuk Memikirkan Kembali
Saat kita melihat produk yang menarik, jangan terburu-buru untuk membeli. Masukkan saja ke keranjang dan beri waktu untuk memikirkan apakah kita benar-benar membutuhkan barang tersebut. Kadang, setelah beberapa jam atau hari, keinginan untuk membeli bisa hilang begitu saja.
2. Pisahkan Rekening untuk Belanja Online
Untuk memudahkan pengelolaan, buatlah rekening khusus untuk belanja online. Tentukan berapa banyak anggaran yang ingin kita alokasikan untuk belanja setiap bulan. Setelah anggaran ini habis, kita tidak bisa lagi belanja hingga bulan berikutnya. Dengan cara ini kita bisa mengontrol pengeluaran belanja online tanpa mengganggu pos-pos keuangan lainnya.
3. Waspadai Tautan dan Link yang Mencurigakan
Berhati-hatilah dengan situs atau tautan yang kita buka. Banyak sekali kasus peretasan yang dimulai dari membuka link yang tidak diketahui sumber resminya. Untuk menghindarinya, pastikan selalu memeriksa alamat website sebelum mengklik link dan hindari memasukkan data pribadi ke situs yang tidak terpercaya.
Manfaat Melek Finansial
Melek finansial tidak hanya membuat perempuan mampu mengelola keuangan mereka dengan bijak, tetapi juga memberi kekuatan untuk mengambil keputusan yang lebih cerdas.
Dengan memiliki pengetahuan yang cukup tentang literasi keuangan, perempuan dapat merencanakan masa depan mereka dengan lebih baik, melindungi keluarga mereka melalui asuransi dan dana darurat, serta menghindari jebakan pengeluaran yang tidak perlu.
Era digital ini adalah tantangan sekaligus bisa menjadi peluang. Dengan meningkatkan literasi keuangan, perempuan dapat mengatasi tantangan tersebut dan meraih kesejahteraan finansial yang lebih baik.
Kartini mungkin tidak hidup di era digital ini, tetapi semangatnya untuk memperjuangkan hak perempuan tetap relevan hingga hari ini termasuk dalam hal melek keuangan.
Kita harus melanjutkan perjuangan tersebut dengan cara yang sesuai dengan zaman, salah satunya melalui pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana mengelola keuangan di era digital ini.
Perempuan masa kini sejatinya seperti Kartini di masanya, harus terus berjuang dan kali ini dengan kekuatan literasi keuangan.
Selamat Hari Kartini 2026
