
Setiap anak lahir membawa keunikan dan keistimewaan tersendiri. Hanya saja disaat sebagian besar anak lahir dan bisa tumbuh dengan normal namun ada sebagian anak yang memerlukan perhatian lebih karena memiliki kondisi khusus.

Dua di antara kondisi khusus terdapat pada anak penyandang tunagrahita dan anak penyandang tunarungu wicara. Penjelasan kedua kondisi khusus tersebut sebagai berikut;
Tunagrahita merupakan kondisi keterbatasan dalam fungsi intelektual. Biasanya anak dengan kondisi tunagrahita mempunyai kendala dalam berpikir termasuk mengingat dan memahami suatu perintah.
Sehingga penyandang tunagrahita sulit memecahkan masalah sederhana. Anak tunagrahita terlihat normal ketika dilihat dari fisik.
Hanya saja ketika diajak berkomunikasi kemudian diberikan tugas atau perintah mereka sulit menangkap dengan jelas.
Namun demikian anak tunagrahita tetap bisa berkembang sepanjang didampingi dan diberikan bimbingan yang tepat.
Untuk penyandang tunarungu wicara adalah sebuah kondisi dimana anak mengalami gangguan pendengaran.
Akibatnya kemampuan perkembangan bahasanya terhambat sehingga kurang bisa berbicara dengan intonasi jelas.
Dalam kesehariannya anak tunarungu wicara bisa lebih cepat menangkap pesan walaupun ketika berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat karena gangguan pendengaran
Masalah yang sering dialami kedua anak berkebutuhan khusus ini adalah stigma dan diskriminasi dari masyarakat yang ada disekitar mereka.
Sebagian besar orang menganggap anak berkebutuhan khusus seperti tunagrahita dan tunarungu wicara adalah beban masyarakat.
Anggapan seperti itu muncul karena anak berkebutuhan khusus bergantung pada yang pengasuh sepenuhnya. Timbulnya stigma yang negatif ini membuat anak berkebutuhan khusus sering dikucilkan.
Persoalan berikutnya terdapat pada tempat belajar formal. Bagi anak tunagrahita dan tunarungu wicara, keberadaan sekolah khusus yang mempunyai fasilitas dan tenaga pendidik dengan kemampuan menangani anak berkebutuhan khusus sangat diperlukan.
Masalahnya sekolah untuk anak berkebutuhan khusus sangat terbatas jumlah dan sebarannya.
Sekolah Luar Biasa (SLB) adalah salah satu sekolah untuk anak berkebutuhan khusus. Pada tingkat SLB anak berkebutuhan khusus diajari keahlian dasar kehidupan dengan cara sederhana.
Masalah terakhir dari anak tunagrahita dan tunarungu adalah kesulitan untuk berkomunikasi.
Bagi sebagian anak tunarungu wicara, ada ambang batas tingkat desibel pendengaran sampai batas tertentu yang bisa ditolong dengan alat bantu pendengaran.
Sayangnya ada sebagian anak tunarungu wicara yang sama sekali tidak bisa dibantu menggunakan alat bantu pendengaran karena ambang batas pendengarannya sudah di bawah ambang batas tertentu.
Beruntungnya kesulitan yang dialami anak berkebutuhan khusus sekarang terbantu dengan adanya smartphone.
Teknologi smartphone dengan visual berupa tayangan video dan gambar bergerak setidaknya menjadi alat bantu yang bisa diamati dan ditiru oleh anak berkebutuhan khusus.
Namun karena anak berkebutuhan khusus punya keterbatasan maka tetap perlu pendampingan orang dewasa ketika sedang menggunakan smartphone.
Supaya waktu luang mereka lebih produktif biasanya anak berkebutuhan khusus selain dimasukkan ke dalam lembaga pendidikan formal seperti SLB juga diikutkan pada kegiatan keterampilan sederhana yang diselenggarakan komunitas atau lembaga non formal lainnya.
Daftar Isi
Loka Bina Karya ( LBK Malaka )
LBK Malaka yang berlokasi di Kelurahan Malaka Sari, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur adalah rumah kedua bagi anak – anak berkebutuhan khusus yaitu tunagrahita dan tunarungu wicara.
LBK Malaka sendiri berada di bawah naungan Suku Dinas Sosial Jakarta Timur.
Berawal dari kepedulian terhadap anak berkebutuhan khusus, LBK Malaka hadir seperti oase dan memberi ruang bagi anak-anak ini.

LBK Malaka bukan sekedar tempat singgah namun ruang kreatif supaya anak-anak berkebutuhan khusus bisa belajar dan mempunyai keterampilan.
LBK Malaka, menerima anak-anak berkebutuhan khusus dalam dua kelompok yaitu tunagrahita dan tunarungu wicara. Alasannya karena keterbatasan tempat dan tenaga pengajar dan sarana tempat belajar.

Adapun kapasitas LBK Malaka sendiri hanya bisa menerima maksimum 15 anak. Usia anak-anak berkebutuhan khusus di LBK Malaka dari 18 tahun sampai yang tertua ada pada usia 56 tahun.
Untuk yang usia 56 tahun adalah seorang ibu penyandang tunagrahita. Namun ibu ini jika diajarkan keterampilan kriya bisa mengikuti dengan telaten dan menghasilkan sebuah karya. Hanya saja perlu terus didampingi supaya semangatnya tumbuh dan tidak gampang terdistraksi.
Menurut pengelola LBK dari Suku Dinas Sosial yaitu Ibu Apriati dan Ibu Dyanti Siti, LBK Malaka dalam kesehariannya lebih berfungsi seperti “Daycare”.
Anak-anak berkebutuhan khusus ini datang diantar orang tua atau orang terdekatnya. Mulai datang di jam 08.00 wib dan pulang pada jam 14.00 wib.
Keseharian Kegiatan LBK Malaka
Menurut pengelola LBK Malaka, setiap harinya dari Senin sampai Jumat pada anak-anak berkebutuhan khusus ini diberikan pelatihan kriya yang diajarkan oleh pelatih yang datang secara bergantian setiap hari.
Jenis pelatihan keterampilannya juga macam-macam. Mulai dari menjahit tote bag, dompet, menyulam, membuat kertas daur ulang, membuat lilin aromatherapy, membuat kotak tisu dari manik-manik dan masih banyak lagi.
Seperti saat saya berkunjung melakukan pengamatan di LBK Malaka. Pada hari Senin datang pengajar atau instruktur kriya bernama Bapak Irland.

Berdasarkan wawancara saya dengan Bapak Irlan, sebagai penyandang tuna daksa yang pernah menjadi alumni LBK juga beliau tergerak mendedikasikan waktu, tenaga dan keahlian yang dimiliki untuk mengajarkan sulam dan jahit pada anak berkebutuhan khusus di LBK Malaka.
Pada kunjungan saya di hari berikutnya tenaga pengajar keterampilan yang datang ke LBK Malaka berganti orang yaitu Ibu Cheppy. Adapun kriya yang diajarkan yaitu membuat kertas krep dari kertas daur ulang .

Sebagian besar anak berkebutuhan khusus tampak tekun melihat dan menirukan pembuatan kertas krep dengan seksama.
Walaupun hasil akhir masih dibantu tenaga pengajar dan sebagian ada kekurangan namun melihat semangat anak-anak berkebutuhan khusus dengan usaha dan niat untuk membuat kriya patut diapresiasi.
Selain mengikuti pelatihan kriya di LBK Malaka, anak-anak juga diajarkan calistung (baca, tulis, hitung) dan mengaji bagi yang muslim.
Untuk kegiatan calistung, walaupun sebagian besar anak-anak berkebutuhan khusus ini lulus SLB setara dengan SMU namun ternyata kemampuan calistung mereka masih sangat kurang.
Untuk pengajaran calistung diajarkan oleh pengelola LBK Malaka secara bergantian.

YDBA dan LBK Malaka
Yayasan Dharma Bhakti Astra atau YDBA adalah salah satu pelaksanaan Corporate Social Responsibility (CSR) dari PT. Astra International Tbk.
Sebagai komitmen sosial ASTRA melalui YDBA mempunyai perhatian besar terhadap pemberdayaan masyarakat termasuk kelompok rentan.
Adanya kolaborasi YDBA dengan LBK Malaka sebagai mediator yang memperkenalkan hasil karya anak-anak berkebutuhan khusus kepada masyarakat luas. Hal ini sekaligus membuka ruang inklusi yang lebih besar.

Tujuan kerjasama antara YDBA dan LBK Malaka tidak hanya memperkenalkan kemampuan kreatif anak berkebutuhan khusus melainkan juga mengubah cara pandang masyarakat pada umumnya terhadap kemampuan mereka dalam membuat kriya.
Umumnya masyarakat awam ketika membeli produk kriya hasil karya anak berkebutuhan khusus menggunakan rasa “belas kasihan”

Hal ini yang berusaha diubah YDBA bahwa produk kriya buatan anak berkebutuhan khusus ada yang mempunyai kualitas setara dengan buatan orang normal pada umumnya.
Untuk itu YDBA memilih LBK Malaka untuk dibina dan diberi pelatihan keterampilan sesuai kemampuan anak berkebutuhan khusus.
Selain itu YDBA juga menjadi mediator antara lembaga sosial dan dunia usaha.
Menggunakan jaringan yang dimiliki YDBA, hasil kriya anak-anak LBK Malaka dipasarkan lebih luas sehingga memberikan dampak ekonomi.
LBK Malaka beberapa kali diajak YDBA untuk mengisi pameran kriya dengan membawa produk kriya buatan anak-anak berkebutuhan khusus.
Harapannya tentu saja supaya produk kriya anak-anak berkebutuhan khusus lebih dikenal dan dihargai di masyarakat.
Sehingga bisa mengurangi stigma negatif mengenai keterbatasan anak-anak berkebutuhan khusus dalam membuat karya.

Kesimpulan
Sinergi antara YDBA dan LBK Malaka bukan hanya tentang produk melainkan tentang harapan dan masa depan.
Setiap anak tanpa terkecuali berhak mendapatkan kesempatan untuk tumbuh, berkarya dan dihargai. Adanya kolaborasi ini semoga asa menjelang dan masa depan anak-anak berkebutuhan khusus bisa cemerlang.
