
Kemampuan berbicara di depan audiens adalah keterampilan yang bisa dipelajari. Sayangnya masih banyak yang malu berbicara di depan audiens. Salah satu penyebab terkait dengan kurangnya rasa percaya diri karena tidak terbiasa.
Rasa tidak percaya diri bisa datang karena faktor grogi, kurang menguasai diksi kata, intonasi dan artikulasi kata yang kurang jelas sampai tidak bisa menarik perhatian audiens.

Daftar Isi
Berbicara di Depan Audiens
Ketika saya mengikuti webinar bertema The Importance of Public Speaking yang dibawakan oleh Alia Rahma seorang jurnalis sekaligus pakar komunikasi bersama Komunitas ISB, ternyata seni berbicara di depan audiens bisa dipelajari melalui berbagai tahapan. Begini caranya;
Mengenali Audiens
Dalam berbicara di depan umum baik secara online maupun offline setidaknya pembicara harus mengenali situasi dan jenis audiens atau pendengarnya.
Apakah audiens berasal dari dunia akademisi, masyarakat umum, profesional pekerja, anak- anak muda atau sekumpulan orang dari komunitas tertentu?
Selanjutnya gali informasi apa yang diharapkan audiens dari pembicara berkaitan dengan konteks dan tema acara atau kegiatan tersebut.
Mempersiapkan Diri Sendiri
Tahapan selanjutnya pembicara bisa menenangkan diri sendiri dengan cara berdoa terlebih dahulu. Selanjutnya bisa membaca dan memahami materi pembicaraan yang akan dibawakan.
Untuk mendukung kepercayaan diri maka pembicara bisa memfokuskan pada hal-hal positif dalam pikiran supaya tidak ada kecemasan berlebih.
Cara lain untuk lebih meningkatkan rasa percaya diri bisa dengan berlatih di depan cermin ketika sedang berbicara. Sehingga gesture dan sikap tubuh bisa terlihat dengan jelas dan bisa dikoreksi jika ada yang kurang sesuai.
Jangan lupa mempersiapkan fisik dan penampilan supaya terlihat rapi, segar dan menarik. Berbicara mengenai penampilan , sebagai pembicara wajib untuk berpakaian rapi dan bersih.
Hal ini berlaku ketika seseorang menjadi pembicara dalam kondisi online atau offline. Kerapihan penampilan bisa membawa aura positif dan meningkatkan rasa percaya diri ketika menjadi sedang berbicara.
Cek Ricek Alat Teknologi
Ketika menjadi pembicara di depan umum biasanya menggunakan bantuan alat teknologi untuk lebih bisa mencapai jangkauan audiens.
Jika berbicara dalam webinar online maka periksa kestabilan jaringan internet atau ketersediaan kuota internet, kapasitas muat media daring, kualitas audio sampai slide materi yang akan ditampilkan.
Sedangkan jika berbicara dalam kondisi offline maka harus memastikan jika alat presentasi seperti microphone, laptop dan infocus berjalan normal sesuai fungsinya.
Mengendalikan Bahasa Tubuh
Bahasa tubuh termasuk dalam komunikasi nonverbal. Beberapa diantaranya seperti; postur tubuh dan ekspresi wajah.
Supaya perhatian audiens tidak terdistraksi maka pembicara harus bisa menjaga kontak mata dengan audiens. Pembicara bisa mengambil posisi dalam keadaan berdiri atau duduk tegak serta tersenyum untuk membuat suasana hangat.
Kendalikan Kecepatan Berbicara
Menjadi pembicara di depan umum pastinya dibatasi waktu berbicara. Terkadang materi yang harus dibawakan sangat panjang sehingga pembicara seolah seperti dikejar waktu supaya materi bisa tersampaikan semua kepada audiens.
Akibatnya pembicara terkesan berbicara dengan irama yang cepat tanpa jeda. Masalahnya nada bicara cepat terkadang bisa membuat artikulasi pengucapan menjadi tidak jelas dalam pendengaran audiens. Sehingga pesan tidak bisa tersampaikan dengan baik.
Untuk mengatasi hal tersebut gunakan jeda dengan cara menarik nafas perlahan. Hal ini memberi waktu pada audiens untuk bisa mencerna informasi.
Selanjutnya pembicara harus bisa menjaga intonasi suara dengan jelas supaya perhatian audiens tidak terdistraksi.
Melibatkan Audiens
Menjadi pembicara di hadapan audiens pastinya akan menimbulkan rasa grogi. Untuk mensiasati hal ini pembicara bisa melibatkan audiens dalam sebuah perbincangan ringan. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir kecemasan berlebih.
Pembicara bisa meminta audiens memberikan pendapat tentang materi atau mempersilahkan audiens untuk bisa bertanya.
Seiring berjalannya waktu, pembicara akan mengetahui teknis dan seluk beluk dari seringnya menjadi pembicara di sebuah kegiatan. Untuk itu pastinya ada kelebihan dan kekurangan yang bisa menjadi bahan evaluasi.
Penutup
Menumbuhkan rasa percaya diri saat didapuk menjadi pembicara di depan audiens membutuhkan waktu dan usaha yang tekun.
Namun jika terus menerus dilatih niscaya rasa percaya diri akan tumbuh dan sudah “tidak demam panggung” lagi sehingga kegiatan berjalan lancar.
