Ini Peninggalan Budaya Tionghoa di Pasar Lama Tangerang

Ini Peninggalan Budaya Tionghoa di Pasar Lama Tangerang. Kawasan Pasar Lama Tangerang terkenal dengan peninggalan budaya Cina Benteng. Sebutan tersebut merujuk pada banyaknya warga keturunan Tionghoa peranakan menetap di Tangerang.

Berwisata salah satunya mempunyai tujuan menyegarkan pikiran sembari melihat pemandangan alam. Seperti diceritakan mbak Steffifauziah di artikelnya dengan judul 5 Tempat Wisata Keren di Ciwidey. Namun jika kita belum berkesempatan berwisata melihat pemandangan alam, maka berwisata melihat peninggalan budaya dapat menjadi pilihan. Kali ini saya akan berbagi pengalaman ketika melakukan wisata Tangerang dengan melihat peninggalan budaya Tionghoa peranakan.

Peninggalan Budaya Tionghoa

Saya mengikuti walking tour di dampingi tour guide dengan tema “Wisata Tangerang Menyambut Imlek”.  Tempat wisata ini ada di Pasar Lama Tangerang. Transportasi yang paling mudah menggunakan commuterline. Berjarak 19 km dari Stasiun Duri Jakarta, waktu tempuh yang dibutuhkan sekitar 1 jam perjalanan. Sesampai di Stasiun Tangerang waktu menunjukkan pukul 09.00 wib pagi hari.

Warung Legendaris

Sebelum walking tour energi peserta harus diisi dengan sarapan pagi. Untuk itu tour guide mengajak kami berkunjung ke warung legendaris di Tangerang yang sudah ada sejak tahun 1960. Terletak di Jl. KH.Sholeh Ali no.90 Sukasari Tangerang. Namanya “Warung Encim Sukaria”. Pemilik warung ini merupakan keturunan Tionghoa peranakan. Warung dibuka pagi hari untuk melayanai pembeli yang ingin makan atau sarapan pagi.

Peninggalan Budaya Tionghoa
Warung Encim Sukaria | Pribadi

Menu yang terkenal adalah nasi uduk dan ketupat sayur dengan rasa khas sejak jaman dahulu. Tidak hanya dua menu saja, menu lauk pelengkap lainnya seperti tahu isi, semur jengkol, sayur urap kelapa dan gorengan renyah tersedia di warung sederhana namun bersahaja. Warung legendaris Encim Sukaria saat ini dikelola generasi ketiga.

Ketupat Sayur | Pribadi

Sungai Cisadane

Merupakan sungai terpanjang di Tangerang dengan panjang aliran 126 km melewati 5 kabupaten/kota yang ada dan berbatasan dengan Tangerang. Ketika saya berkunjung sungai ini baru selesai direvitalisasi. Sungai Cisadane sering dijadikan ajang untuk perhelatan festival sungai Cisadane. Festival ini berisi lomba kegiatan mendayung perahu naga untuk memeriahkan tradisi “peh cun” dari etnis Tionghoa. Peh artinya mendayung dan Cun artinya Liong atau Naga. Secara umum artinya “hari yang paling kuat”.

Peninggalan Budaya Tionghoa
Tepi Sungai Cisadane | Pribadi

Tradisi ini diadakan satu tahun sekali pada saat hari lima bulan lima kalender lunar Cina setelah Imlek. Ketika saya berkunjung, festival baru akan berlangsung 2 bulan lagi. Selain tradisi peh cun pemda Tangerang menggabungkan dengan kesenian budaya campuran Tangerang dan Betawi, ada bazar umkm, dan pertunjukkan lainnya. Suasana sangat semarak dan ramai jika festival Cisadane berlangsung.

RoemBoer

Ini adalah bangunan kuno bergaya Tionghoa abad 18. Awal mula rumah ini ditinggali seorang modiste perempuan bernama Encim  Pon seorang perancang kebaya ternama dijamannya. Pada tahun 1973 rumah ini dijual ke seorang pengusaha burung walet. Akhirnya rumah ini dijadikan sarang burung walet dimana pemilik  menembok semua bagian ruangan.

Peninggalan Budaya Tionghoa
RoemBoer | Pribadi

Itulah kenapa dinamakan RoemBoer atau Roemah Boeroeng. Saat ini roemboer direnovasi kebentuk semula oleh seorang pemerhati budaya Tionghoa. Hanya saja roemboer di buka pada hari-hari tertentu. Seperti hari Festival Cisadane, Perayaan Imlek dan sebagainya. Menurut tour guide isi dari RoemBoer adalah peralatan retro dan ada ruang pamer lukisan kaligrafi serta benda perkakas kuno jaman dahulu. Sayangnya sewaktu saya berkunjung, rumah ini sedang dalam keadaan tutup.

Kuliner Tradisional

Setiap budaya meninggalkan jejak pada benda yang menjadi ciri khas penanda budaya tersebut. Tak ketinggalan juga kuliner tradisional. Pada budaya Tionghoa peranakan di Tangerang setiap imlek ada penganan tradisional yang menjadi makanan wajib bagi yang merayakan imlek. Penganan tersebut salah satunya bernama lapis legit dan es Buntin.

Lapis Legit Cik Ika

Lapis Legit adalah kuliner tradisional yang masuk dalam kriteria kue basah. Lapis Legit ini diproduksi dalam skala rumahan. Di Pasar Lama, lapis legit buatan Cik Ika terkenal karena pemakaian mentega wisman yang melimpah. Hal ini menyebabkan harga jual tertinggi bisa mencapai Rp.900.000 per loyang. Cik Ika hanya menerima pesanan lapis legit pada saat peringatan hari raya Imlek. Resep yang digunakan kata Cik Ika merupakan warisan keluarga secara turun temurun. Kue dijual dalam bentuk satu loyang utuh. Tidak dijual dalam potongan atau slice.

Lapis legit Cik Ika | Pribadi

Ketika saya berkunjung, kami sepakat membeli satu loyang lapis legit termurah dengan pemakaian mentega wisman yang minimalis. Kue yang kami beli harganya Rp.500.000/ loyang. Satu rombongan yang terdiri dari 30 orang hanya ada 10 orang saja bersedia urunan untuk mencicipi kue termahal di dunia menurut saya hehehe..

Saya termasuk yang penasaran dengan rasa kue tersebut. Akhirnya saya urunan Rp.50.000 supaya dapat mencicipi rasanya. Ternyata, benar saudara-saudara kue ini memang enakkk sekali ..jadi bisa dibayangkan rasa kue yang dijual dengan harga Rp.900.000/loyang  pasti super duper enak..

Es Buntin

Cuaca Pasar Lama Tangerang yang terik, cukup membuat kerongkongan saya dan peserta walking tour menjadi haus tak tertahankan. Akhirnya tour guide mengajak kami mampir ke kedai Es Buntin. Kedai ini ada di dalam pasar namun mepunyai tempat yang bersih dan nyaman untuk disinggahi. Tempat ini menjajakan es putsal atau es putri salju. Isi es ini seperti es campur dengan isian beraneka rupa. Ada alpukat, kelapa kopyor, pacar cina, leci, nata decoco, kolang-kaling, cincau, cendol,tape ketan, tape singkong dan banyak lagi.

Es Buntin | Pribadi

Setelah semua isian ada di dalam mangkuk, kemudian ditambah es serut dan disiram dengan sirop rumahan kedai Buntin. Ada sirop pisang ambon, leci, durian, melon, sirsak, vanilla. atau gula jawa, sirop kopi, mocca, coklat dan masih banyak lagi. Pembeli dipersilahkan memilih campuran sirop yang diinginkan. Harga es Buntin Rp.15.000 per porsi. Rasanya segarrr dan enak.

Kedai Es Buntuin ramai disinggahi umat Tionghoa yang selesai menjalankan peribadatan di klenteng Bon Tek Bio terutama pas hari raya Imlek. Menurut mereka minum es Buntin mendatangkan keberuntungan.

Bangunan Bersejarah Dalam Pasar Tradisonal

Bangunan bersejarah biasanya terletak pada lokasi yang strategis. Di kawasan Pasar Lama Tangerang bangunan bersejarah peninggalan budaya Tionghoa terletak di dalam pasar tradisional. Pengunjung yang datang terlebih dahulu harus masuk ke dalam pasar tradisonal dengan berjalan kaki menyusuri deretan kios dan lapak penjual ikan dan sayur mayur untuk sampai ke bangunan bersejarah tersebut.

Mesjid Jami Kalipasir

Bagianbelakang mesjid terletak di dalam Pasar Lama Tangerang, sedangkan bagian depan mesjid menghadap jalan raya utama Jl. Kalipasir.  Mesjid dengan luas 300m2 dibangun pada tahun 1608. Mesjid Jami Kalipasir bertetangga dengan Klenteng Bon Tek Bio.

Menurut cerita tour guide, awal mula mesjid ini berupa gubuk untuk beristirahat yang didirikan Ki Tenggerjati dari Kerajaan Galuh Kawali Jawa Barat. Kedatangan Ki Tenggerjati bertujuan untuk menyiarkan ajaran agama Islam. Lambat laun pengikutnya mulai membangun ulang gubuk sebagai tempat peribadatan yang berbentuk Mesjid.

Peninggalan Budaya Tionghoa
Menara dan Kubah Mesjid Jami Kalipasir | Pribadi

Menara Mesjid Kali Pasir yang berwarna hijau dibangun tahun 1904. Ornamen bernuansa Tionghoa tergambar dari corak dan warna serta pintu berkaca. Terdapat empat tiang penyangga kayu dari tahun awal berdirinya mesjid yang masih berdiri kokoh pada bangunan bagian dalam. Ke-empat tiang ini dilindungi besi berpenyangga.

Tiang penyangga berusia seabad lebih | Pribadi

Klenteng Bon Tek Bio

Klenteng tertua di Tangerang ini dibangun pada tahun 1684. Arti Bon Tek Bio adalah kebajikan. Dominasi warna merah pada bangunan klenteng ini sangat kontras dengan lokasinya yang ada di dalam pasar tradisional. Untuk masuk ke klenteng ini harus melewati deretan kios pedagang pasar dengan jalan sempit.

Peninggalan Budaya Tionghoa
Bon Tek Bio | Pribadi

Awal mula keberadaan klenteng ini akibat kedatangan pengungsi waraga Tionghoa dari Batavia. Saat itu di Batavia terjadi tragedi Angke dimana terdapat peristiwa pembantaian etnis Tionghoa oleh Pemerintah Hindia Belanda. Bangunan tua klenteng masih kokoh tegak berdiri walaupun sudah berusia lebih dari satu abad. Tempat ini masih aktif digunakan sebagai tempat peribadatan bagi masyarakat Tionghoa. Menjelang Imlek klenteng ini sangat ramai dan semarak.

Museum Benteng Heritage

Umumnya museum ada di sisi jalan besar dengan akses kendaraan yang bisa parkir di depan pintu masuk museum. Namun lain halnya dengan Museum Benteng Heritage. Lokasinya ada didalam pasar yang tentu saja tidak bisa memarkirkan kendaraan di depan pintu masuk.

Museum Benteng Heritage merupakan hasil restorasi bangunan lama bergaya Tionghoa. Di restorasi oleh seorang pemerhati budaya Tionghoa, museum ini milik perorangan. Harga tanda masuk Rp.25.000 per orang dan akan dipandu tour guide dengan berkeliling ruang museum selama 45 menit. Museum buka dari jam 10.00 pagi sampai 17.00 sore.

Lobi Museum Benteng Heritage | Pribadi

Ada satu peraturan yang harus dipenuhi pengunjung dimana setelah masuk ke ruangan museum, tidak diperkenankan mengambil foto dengan kamera apapun. Hal ini untuk menghindari duplikasi koleksi benda peninggalan bersejarah asli yang ada di museum. Pengambilan foto diperbolehkan hanya sampai di lobi museum saja.

Bangunan dua lantai ini menurut tour guide sudah ada sejak abad 17. Di Museum Benteng Heritage banyak menyimpan koleksi benda peninggalan dan artefak budaya Tionghoa. Aneka guci, kursi, meja, alat-alat rumah tangga jaman dahulu, alat-alat upacara perkawinan Tionghoa sampai lukisan, ukiran patung dan simbol dewa pemujaan ada di museum ini. Selain itu disediakan audio visual berupa film ritual upacara perkawinan dalam adat budaya Tionghoa.

Selesai menelusuri museum tidak afdol jika tidak membawa buah tangan. Museum Benteng Heritage menyediakan buah tangan mulai dari kerajinan tangan sampai kuliner yang bisa dibeli. Saya tertarik dengan kecap manis Benteng asli Tangerang dan Dodol durian Ny. Liem yang asli Tangerang. Jika membeli di museum ini dipastikan kedua produk tersebut masih baru karena disuplai langsung dari tempat  pembuatnya setiap beberapa hari sekali.

Nah Ini Peninggalan Budaya Tionghoa di Pasar Lama Tangerang yang pernah saya kunjungi ketika traveling icon kota. Bagaimana dengan teman semua. Apakah mempunyai pengalaman menarik ketika berwisata mengunjungi tempat bersejarah di daerah tempat tinggal kalian? Bisa share ya di kolom komentar. Terima Kasih.

Baca Juga : Wisata Kota Tua Jakarta dari Amsterdam hingga Makam Kuno

Salam

 

Please follow and like us:

ditulis oleh

Bayu Fitri Hutami

Seorang pembelajar yang bukan siapa-siapa melainkan seorang yang senang bercerita. Seorang yang suka menulis berdasarkan apa yang dilihat, didengar dibaca dan dialami untuk menjadi sebuah tulisan informatif. Semoga tulisan yang saya sajikan bermanfaat. Terima Kasih.